
"Lingga ... Lingga... Buka pintunya!"
Brak... Brak... Brak...
Krincing... Krincing...
Suara pintu yang didobrak dengan kasar membuat Lingga yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang seketika melonjak. Kepalanya dipenuhi oleh tanya siapa gerangan yang datang bertamu malam-malam seperti ini. Sudah melebihi jam berkunjung ditambah tamu ini tidaklah sopan karena tidak mengetuk pintu secara baik-baik tapi lebih cenderung dengan seseorang yang sedang melakukan penggerebekan.
Yang lebih mengherankan lagi, ada suara krincing-krincing seperti suara gerobak penjual sate Madura yang sering lewat di depan rumahnya. Ia mencoba untuk beranjak dari ranjang dan berusaha untuk bisa menjangkau daun pintu itu meskipun kepalanya terasa kliyengan.
"Mbak Ningrum, mas Heru!"
Lingga sedikit terkejut dengan kehadiran mbakyu dan mantan suami yang telah beralih status menjadi kakak iparnya ini bertandang di rumahnya larut malam seperti ini. Terlebih dari raut wajah mereka seperti seseorang yang diburu waktu, entah apa yang sedang mengejar mereka.
"Apa kamu merupakan salah satu manusia yang tidak tahu malu dan tidak tahu diri?"
Ningrum melontarkan sebuah tanya sambil bersedekap dada dan dengan raut wajah yang nampak begitu sinis. Entah apa yang terjadi, tidak ada angin tidak ada hujan kakak kandung Lingga itu tiba-tiba datang seperti seseorang yang akan mengajak perang.
"Maksudmu apa Mbak? Seharusnya pertanyaan itu yang aku tanyakan ke kamu. Apakah kamu tidak tahu malu dan tidak tahu diri karena telah mengusik ketentraman rumah tangga adikmu sendiri dan membuat berantakan?"
Ningrum sedikit terhenyak dengan apa yang diucapkan oleh Lingga. Dia tidak menyangka jika adiknya ini berani untuk memberikan serangan balik yang membuat dirinya keki.
__ADS_1
"Aaahhh .. hal itu tidak perlu dibahas karena pada kenyataannya mas Heru lebih memilihku bukan? Itu tandanya kamu memang tidak bisa untuk mempertahankan keutuhan rumah tanggamu. Lagipula aku datang kemari bukan untuk membahas hal itu."
Lingga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak pelan. Satu hal yang baru ia sadari, kali ini ada yang berbeda dengan penampilan mbakyu nya ini. Kedua pergelangan tangan Ningrum dipenuhi oleh gelang keroncong yang masing-masing tangan kira-kira dua puluh lima buah. Ia baru sadar ternyata suara krincing-krincing khas penjual sate Madura itu berasal dari gelang-gelang yang dipakai oleh Ningrum.
Kedua bola mata Lingga semakin terbelalak sempurna di saat melihat jemari tangan dan leher Ningrum yang juga dipenuhi oleh cincin dan kalung emas. Tidak tanggung-tanggung, kesepuluh jari Ningrum dihiasi oleh cincin yang melingkar dan di leher wanita ini jika dihitung-hitung ada delapan buah kalung yang panjangnya berbeda-beda. Lingga sampai keheranan dari mana Ningrum bisa mendapatkan semua ini. Padahal yang ia tahu, kedua orang tuanya hanya meninggalkan sebuah rumah yang itupun juga tidak seberapa banyak nilainya.
"Lalu, apa maksud dan tujuan kamu kemari, Mbak?"
Ningrum menoleh ke arah Heru yang sedari tadi juga sibuk dengan cincin-cincin batu akik yang melingkar di kesepuluh jemari tangannya.
"Mas, cepat kamu katakan apa yang menjadi tujuan kita datang kemari!"
"Aku minta kamu segera meninggalkan rumah ini Ling. Sekarang kamu bukanlah istriku lagi dan kamu tidak berhak untuk tinggal di sini karena rumah ini akan aku berikan untuk wanita yang saat ini menjadi istriku."
Lagi, Lingga hanya bisa terkejut setengah mati. "Apa kamu bilang? Aku harus pergi dari rumah ini? Tidak, aku tidak mau!"
Lingga tersenyum sinis. Meskipun ia sedikit terkejut dengan serangan dadakan yang dilakukan oleh Ningrum tapi ia juga memiliki senjata yang tidak kalah ampuh untuk menyerang balik.
"Jika kamu ingin aku pergi dari rumah ini, kamu juga harus memberikan kompensasi kepadaku Mbak!"
Dahi Ningrum mengernyit. "Kompensasi? Kompensasi apa maksudmu?"
"Hahaha, apa kamu lupa bahwa aku juga memiliki hak atas rumah peninggalan bapak dan ibu. Ingat Mbak, di dalam rumah yang kamu tinggali dan kamu kuasai sendiri itu, di dalamnya juga masih ada hak ku. Jadi jika kamu ingin aku keluar dari rumah ini, kamu harus memberikan separuh dari harga rumah peninggalan bapak dan ibu."
__ADS_1
Ningrum tersentak. Ia pikir Lingga tidak akan mengungkit perihal rumah yang menjadi satu-satunya warisan dari kedua orang tuanya namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.
"Tidak, aku tidak mau. Rumah peninggalan bapak dan ibu adalah milikku seorang, jadi kamu tidak boleh mengusiknya."
"Ya sudah, kalau begitu kamu juga tidak berhak untuk mengusirku dari rumah ini. Jadi tawaran yang aku berikan ada dua. Pertama, aku keluar dari rumah ini tapi kamu memberikanku uang dua ratus lima puluh juta. Dan pilihan yang kedua aku tetap tinggal di sini dan sedikitpun aku tidak akan pernah mengusik rumah peninggalan bapak dan ibu."
Ningrum semakin terperangah. Ia tidak menyangka jika adiknya ini berani bernegosiasi.
"Mas, bagaimana? Apa yang sekarang harus kita lakukan?" tanya Ningrum kepada Heru meminta pendapat.
"Sudahlah Ning, kita berikan saja rumah ini kepada Lingga daripada kita mengeluarkan uang dua ratus lima puluh juta. Toh rumahku ini jika dijual nilainya juga tidak sampai segitu. Jadi, biarkan saja Lingga tinggal di sini."
Meskipun tampak sedikit kecewa karena tidak bisa menguasai rumah milik Heru, namun Lingga berupaya untuk menerima usulan yang diberikan oleh Heru. Ia membenarkan bahwa rumah ini jika dijual harganya tidak sampai dua ratus lima puluh juta.
"Baiklah kalau begitu. Anggap saja rumah ini sebagai bagian dari warisan yang ditinggalkan oleh bapak dan ibu. Namun ingat, kamu tidak boleh sedikitpun mengusik rumah yang aku tinggali itu."
"Itu sudah pasti. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu, Mbak."
Pada akhirnya, pasangan pengantin baru itu melenggang pergi meninggalkan kediaman Lingga. Perlahan bayangan mereka hilang ditelan oleh malam. Senyum seringai pun terbit di bibir Lingga.
Apa mereka tidak sadar bahwa di belakang masih ada pekarangan yang cukup luas? Kalau aku jual ini semua akan laku dua kali lipat dari dua ratus lima puluh juta. Hahaha, kali ini kamu menang, Lingga!!!
.
__ADS_1
.
bersambung...