
"Jadi seperti itu Pak, Bu ceritanya. Sukma Banyu sempat tertahan di dimensi lain karena sebuah batu yang ada di dalam saku celana Banyu."
Semua orang yang berada di teras rumah Prasojo nampak begitu serius mendengarkan semua cerita yang diungkapkan oleh lelaki paruh baya ini. Mereka menampakan ekspresinya masing-masing. Mulai terperangah, melongo, terkejut dan lain sebagainya. Bagi mereka apa yang diceritakan oleh Prasojo ini sangat sulit diterima oleh akal sehat. Terlebih Villia, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Prasojo.
"Saya benar-benar tidak percaya Pak, terlebih itu tadi siapa namanya, Lingga? Mana bisa wanita biasa yang hanya berjualan jamu bisa menembus dimensi lain untuk membawa pulang sukma Banyu? Sungguh sangat tidak masuk akal."
Prasojo hanya tersenyum simpul. Perkara seperti ini memang sulit diterima oleh logika, namun hal-hal seperti ini memang masih banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat.
"Saya tidak memaksa mbak Villia untuk percaya. Namun pada kenyataannya seperti itulah yang terjadi. Bahwa sukma nak Banyu ini sempat tertahan di dimensi lain beberapa minggu dan Lingga lah yang membantu nak Banyu untuk pulang."
Villia merasa semakin tersudut, saat mendengar Banyu mengucapkan nama Lingga yang menjadi kekasihnya, ia paham bahwa Lingga penjual jamu yang diceritakan oleh Prasojo inilah yang dimaksud oleh Banyu. Ada sedikit rasa takut jika sampai Banyu benar-benar melupakannya setelah kehadiran Lingga.
Villia menoleh ke arah Kinanti. "Tante, bagaimana ini? Banyu sama sekali lupa dengan Villia, bahkan ia lupa dengan pertunangan kami."
__ADS_1
"Vi, please. Jangan membahas perihal pertunanganmu dengan Banyu terlebih dahulu. Sekarang, lebih baik kita fokus untuk kesembuhan Banyu. Jadi, ia bisa ingat semuanya. Jika dia sembuh, pasti secara otomatis Banyu akan mengingatmu."
"Kak Pandu mengapa kak Pandu tidak membelaku? Aku sedang berjuang untuk mempertahankan calon suamiku." Villia kembali merengek di depan Kinanti. "Tante, bagaimana? Villia benar-benar tidak ingin berpisah dari Banyu."
"Sabar sebentar ya Nak. Nanti coba kita mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan ini," ujar Kinanti mencoba menenangkan Villia.
"Pak Pras, tadi Bapak mengatakan bahwa batu itu diletakkan oleh seseorang ke dalam saku celana Banyu. Kira-kira siapa yang tega melakukan hal itu Pak?"
Herlambang bahkan tidak perduli perihal pertunangan Villia dengan Banyu. Ia justru tertarik dengan cerita batu biru yang diceritakan oleh Prasojo. Ia sampai merinding saat menayangkan bahwa dirinyalah yang mengalami kejadian seperti itu.
Perkataan Prasojo sontak membuat kedua netra Herlambang dan Pandu langsung tertuju pada Aldo. Sorot mata keduanya benar-benar terlihat membidik.
"Aldo, apa ini semua ada hubungannya denganmu?" tanya Pandu dengan raut wajah yang sudah berubah.
Aldo terkesiap. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan terhadap Banyu bisa diketahui oleh wanita bernama Lingga itu, dan sekarang keluarga Banyu menaruh curiga terhadapnya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja jantung Aldo berdegup kencang, khawatir jika ketahuan. Namun ia tetap menggelengkan kepala. "Tidak Kak, aku tidak melakukan hal itu. Aku berani bersumpah badanku akan gatal-gatal kalau sampai aku melakukan hal itu."
Prasojo terkesiap. Sumpah yang diucapkan oleh pemuda ini terdengar begitu mengerikan. "Nak, jangan bermain-main dengan sumpah. Kalau kamu berbohong, nanti kamu akan termakan oleh sumpah itu sendiri."
Aldo tetap memasang wajah datar meski tubuhnya sedikit bergetar karena takut ketahuan. "Saya tidak takut Pak, karena saya memang bukan yang melakukannya."
"Hah, benar bukan yang saya katakan? Wanita bernama Lingga itu hanya memperdayai orang-orang yang ada di sini. Kenyataannya tidak ada yang meletakkan batu itu di saku celana Banyu," kelakar Villia. Ia kemudian menoleh ke arah Banyu yang sedari tadi hanya terdiam dan membisu. "Nyu, sekarang kamu tahu bukan bahwa wanita bernama Lingga itu penuh tipu muslihat? Apakah kamu tetap percaya bahwa dia memang tulus menolongmu? Aku yakin, ada niat terselubung di balik itu!"
"Jaga bicara Anda, Nona. Saya bukanlah wanita seperti itu!"
Banyu terkesiap. "Lingga!"
.
.
__ADS_1
. bersambung...