
Part ini tidak untuk ditiru!!! Penulis hanya menuliskan satu isue yang masih sering terjadi di masyarakat. Sesuatu yang tabu namun masih ada yang menggunakan cara-cara seperti ini sebagai jalan pintas.
"Akhirnya, kamu datang juga. Aku kira, kamu lupa akan apa yang menjadi kewajibanmu setiap purnama tiba."
Lelaki tua berpakaian serba hitam dengan udheng di kepala dan berjenggot putih terlihat sedang menyambut kedatangan seorang wanita yang hanya berbalut kemben untuk menutupi tubuhnya. Lelaki ini duduk bersila. Di hadapannya terdapat sebuah tampah yang di atasnya terdapat beraneka rupa taburan bunga mawar, kantil dan kenanga. Tidak lupa, sebuah kemeyan juga bersanding dengan bunga-bunga itu. Mengeluarkan asap dengan bau khas yang terasa begitu menyengat indera penciuman.
"Aku tidak akan pernah lupa untuk datang kemari Mbah. Karena ini sudah menjadi kewajiban yang harus aku lakukan," jawab wanita itu juga sembari mengambil posisi duduk bersimpuh di hadapan si lelaki tua.
"Bagus, jika kamu masih ingat akan hal itu. Karena perjanjian yang sudah kamu buat ini merupakan perjanjian seumur hidup, maka kamu tidak boleh melupakannya barang sekali saja."
"Iya Mbah, aku mengerti. Aku selalu mengingat akan apa yang menjadi syarat Mbah Roso."
"Lalu bagaimana dengan Heru? Apakah dia sudah berhasil kamu dapatkan?"
"Hahahaha, itu sudah pasti Mbah. Heru sudah bercerai dengan Lingga dan saat ini aku dan Heru sudah menjadi pasangan suami istri. Aku sungguh bahagia sekali."
__ADS_1
Lelaki tua bernama Roso itu tergelak pelan. "Aku turut senang mendengarnya. Namun ingat, setiap purnama, kamu harus melakukan sebuah ritual untuk berterima kasih kepada Kanjeng Ndoro yang sudah membantumu. Karena berkat dia, kamu bisa lancar merebut Heru untuk menjadi suamimu. Dan kamu masih ingat akan hal-hal yang menjadi pantanganmu bukan?"
"Iya Mbah, aku mengerti dan akan selalu mengingat akan pantangan-pantangan itu."
"Bagus, sekarang kamu bersiaplah untuk menyambut kedatangan Kanjeng Ndoro kita."
Mbah Roso bangkit dari posisi duduknya. Ia melenggang pergi meninggalkan ruangan ini. Dan kini, di ruangan ini hanya menyisakan seorang wanita yang tak lain adalah Ningrum. Wanita itu nampak seperti tengah menunggu kedatangan Kanjeng Ndoro.
Ningrum masih duduk bersimpuh di depan taburan bunga-bunga dan kemenyan itu. Ia memejamkan mata agar bisa fokus dalam menjalankan ritual ini.
Angin tiba-tiba berhembus kencang hingga membuat jendela yang terbuat dari kayu itu terbuka. Pintu ruangan yang sebelumnya tertutup kini seketika terbuka lebar. Udara panas semakin terasa kuat memenuhi atmosfer ruangan ini. Ningrum yang merasakan hal seperti ini hanya tersenyum simpul. Ia tahu, bahwa sebentar lagi, sesuatu yang ia tunggu akan tiba di ruangan ini. Sebuah bayangan hitam dan besar tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Dan bayangan hitam itu semakin lama semakin jelas menampakkan wujudnya.
"Hahahaha ... aku datang, Ningrum!"
Suara itu terdengar menggelegar hingga membuat Ningrum membuka kelopak matanya. Wanita itu tersenyum penuh arti ketika melihat makhluk hitam, besar, bermata merah dengan rambut-rambut panjang yang menutupi tubuhnya sudah berada di hadapannya.
"Selamat datang Kanjeng Ndoro. Saya sudah sangat menantikan kedatangan Kanjeng," ujar Ningrum menyambut kedatangan makhluk itu.
__ADS_1
"Hahahah ... akupun juga sudah sangat menantikan kedatanganmu. Kamu adalah budakku yang sangat penurut. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati tubuhmu."
Ningrum berdiri dari posisinya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk menuju ke sebuah ranjang dengan hiasan kelambu putih dan duduk di tepian ranjang. Perlahan, Ningrum membuka kemben beserta kain jarik yang ia kenakaan, hingga kini wanita itu dalam keadaan polos tanpa berbalut sehelai benang pun dan ia mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang ini.
"Saya sudah siap Kanjeng Ndoro. Kanjeng Ndoro bisa menikmati semua yang ada di dalam tubuh saya. Saya akan memenuhi segala hasrat yang Kanjeng Ndoro miliki."
"Hahahaha ... aku sungguh sangat menyukai hal ini Ningrum. Bersiaplah, aku akan membuatmu merasakan sebuah kenikmatan yang tidak tertandingi. Dan akan aku pastikan kamu akan memintanya lagi, lagi dan lagi."
Makhluk yang dipanggil Kanjeng Ndoro oleh Ningrum itu terbahak dengan wajah menyeringai. Air liurnya pun terlihat menetes di kala melihat Ningrum yang sudah dalam keadaan tak berbusana. Makhluk itu melangkah untuk mendekat ke arah Ningrum dan mulai menjamah setiap lekuk tubuh yang Ningrum miliki.
Dari luar ruangan, hanya terdengar suara de*sahan, erangan dan decitan ranjang yang membahana. Erangan itu terdengar berkali-kali keluar dari mulut Ningrum dan makhluk yang dipanggil dengan Kanjeng Ndoro itu. Entah sudah berapa banyak puncak kenikmatan yang mereka raih. Sedangkan Mbah Roso, hanya bisa tersenyum simpul saat melihat adegan manusia yang diset*ubhi oleh makhluk berwujud genderuwo seperti ini.
.
.
bersambung...
__ADS_1