Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 11. Dia Datang


__ADS_3


Kokok suara ayam jantan terdengar bersahutan menyambut pergantian hari. Kabut tebal masih nampak menyelimuti atmosfer bumi yang membuat hawa dingin khas lereng gunung terasa sekali. Bagi sebagian orang mungkin akan memilih tetap meringkuk di bawah selimut tebal untuk melanjutkan mimpi atau hanya sekedar membunuh rasa dingin yang semakin menggerogoti.


Lingga nampak sibuk dengan aktivitasnya di pukul empat pagi ini. Seperti biasa, ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan dagangannya dan untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Meski semalam ia tidak dapat mengistirahatkan tubuhnya dengan benar setelah pertengkarannya dengan Heru, namun ia tetap harus bangun pagi untuk bisa menyambung hidupnya. Tidak ada kata lelah, tidak ada kata mengantuk, yang ada ia harus terus bersemangat untuk melanjutkan hidup.


Seperti itulah Lingga, sejak usia remaja ia sudah ditempa untuk menjadi wanita pekerja keras. Ia harus menghentikan mimpinya untuk bisa mengenyam pendidikan hanya sampai jenjang SMP. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia terpaksa berhenti sekolah untuk bisa meneruskan berjualan jamu gendong yang sudah menjadi pekerjaan turun temurun dari sang ibu. Meskipun ia memiliki seorang kakak, namun Lingga tidak terlalu dekat dengannya. Bahkan saat ini, rumah satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya ditempati oleh sang kakak.


Kepulan asap dari tungku yang terbuat dari tanah liat nampak membumbung tinggi. Memenuhi ruang dapur yang terbuat dari anyaman bambu, terlihat pekat sekali. Di atas tungku itu telah siap sebuah dandang lengkap dengan kukusan untuk menanak nasi. Sesekali Lingga menambah kayu bakar ke dalam lubang tungku agar kobaran api itu tidak mati.


Lingga mendaratkan bokongnya di atas amben. Dihadapannya telah berjejer rapi empon-empon yang akan ia eksekusi untuk menjadi olahan jamu. Ia bersihkan kulit-kulitnya, ia parut dan nantinya akan ia rebus untuk menjadi minuman tradisional yang menyehatkan. Lingga merupakan satu-satunya penjual jamu gendong di kampungnya, tak ayal jika dagangan wanita itu selalu dinantikan oleh para pelanggan.


Pletak... pletak... pletak...


Lingga seketika menghentikan aktivitasnya kala mendengarkan suara pintu dapur yang langsung menghubungkannya dengan halaman belakang seperti dilampari dengan batu. Kedua bola matanya menyipit seakan begitu penasaran siapa yang iseng melakukan hal itu. Lingga mencoba untuk acuh, dan ia lanjutkan kembali aktivitasnya. Ia berpikir mungkin hanya halusinasinya saja.

__ADS_1


Pletak... pletak... pletak...


Lagi, suara pintu yang dilempari dengan batu terdengar kembali. Kali ini membuat Lingga semakin dibuat penasaran. Ia beranjak dari posisi duduknya dan berjalan ke arah pintu. Perlahan, ia buka daun pintu yang masih tertutup rapat itu.


Krekeetttt....


Pintu terbuka dan...


"Astaga!!! Sampeyan???"


Lingga terkejut setengah mati kala melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pintu. Lelaki yang kemarin ia temukan tidak berdaya di bawah curug, pagi buta seperti ini mendatangi rumahnya. Lelaki itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan apa yang ia pakai sebelumnya.


Dahi Lingga mengernyit. Tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh pemuda ini. "Tolong? Minta tolong apa?"


"Saat mendaki, aku mengambil sebuah batu yang ada di bawah lereng gunung. Tolong aku untuk mengembalikan batu itu ke tempat asalnya."

__ADS_1


Lagi-lagi, Lingga hanya dibuat terperangah dengan apa yang diucapkan oleh Kukuh. "Batu? Batu apa? Dan mengapa harus aku yang harus menolong Sampeyan?"


"Hatimu bersih dan kamu masih suci. Hanya kamu yang bisa menolongku."


Lingga terpaksa harus berbalik badan dan meninggalkan Kukuh yang masih berdiri di depan pintu saat mengetahui nasi yang ia masak telah matang. Wanita itu bergegas mengangkat dandang dan ia letakkan di sebuah tungku yang memang tidak berapi.


Lingga bermaksud untuk kembali menghampiri Kukuh yang masih berada di depan pintu. Namun lagi-lagi wanita itu dibuat terkejut saat tidak mendapati si pemuda berdiri di sana. Lingga celingak-celinguk mencari keberadaan Kukuh, namun tetap saja, tidak ada tanda-tanda pergerakan dan keberadaan pemuda itu.


"Aneh, kemana perginya pendaki itu? Mengapa dia tiba-tiba menghilang?"


Lingga kembali berjalan menuju amben. Ia lanjutkan kembali memarut empon-empon. Namun baru dua kali gerakan memarut, tiba-tiba kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna. Bibirnya menganga lebar saat teringat akan satu hal.


"Bukankah pemuda itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya? Tapi mengapa dia bisa sampai ke rumah ini? Dan bukankah dia tidak tahu di mana aku tinggal? Tapi mengapa ia bisa datang kemari?"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2