
"Hahahaha ... aku sungguh sangat puas Ningrum. Karena kamu sudah menjadi budakku yang paling penurut, aku akan memberikan sesuatu untukmu!"
Sebuah kilatan cahaya sedikit terpacar di sudut ruangan dan tak selang lama muncul sesuatu yang di buntal oleh kain berwarna hitam. Ningrum yang melihat buntalan itu sedikit terperangah namun di dalam hatinya ia begitu kegirangan karena tahu sesuatu apa yang tersembunyi di balik buntalan kain itu.
"Terima kasih Kanjeng Ndoro, terima kasih. Setelah ini, hidup saya pasti akan jauh lebih sempurna."
"Hahaha hahahaha itu sudah pasti. Tapi ingat, jangan sampai kamu lalai akan kewajibanmu untuk bersetubuh denganku. Karena dengan persetubuhan itulah yang membuat semua yang kamu miliki kekal dan abadi."
"Sendiko dhawuh Kanjeng Ndoro. Saya pasti akan selalu mengingatnya."
Angin tiba-tiba kembali berhembus kencang dan dalam sekejap mata sosok genderuwo itu menghilang dan hanya menyisakan asap putih yang pekat.
Ningrum gegas bangun dari posisi berbaringnya. Ia melangkahkan kaki untuk menuju ke buntalan kain berwarna hitam itu. Dengan cepat, ia membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang diberikan oleh genderuwo itu yang membuat kedua bola matanya terbelalak dan membulat sempurna.
"Aaaaaaa .... aku kaya, aku kaya, aku kaya!!!"
Ningrum memekik kegirangan saat melihat lembaran-lembaran uang dan koin-koin emas yang berada di dalam buntalan kain ini. Ia sungguh tidak percaya jika makhluk bernama genderuwo itu memberikan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Biasanya, makhluk itu hanya memberikan 'pengasih' untuk memikat lelaki yang ia tuju, sedangkan kali ini genderuwo itu memberinya harta yang melimpah seperti ini. Sungguh, Ningrum sangat berbahagia hati.
"Aku lihat kamu bahagia sekali Ning."
Roso yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan membuat Ningrum sedikit terperanjat. Ia tautkan pandangan matanya ke arah lelaki tua itu dan tersenyum ke arahnya.
"Lihatlah Mbah, Kanjeng Ndoro memberiku banyak harta seperti ini. Aku kaya Mbah, aku kaya!" pekik Ningrum kegirangan sembari menghambur-hamburkan lembaran uang berwarna merah itu.
__ADS_1
Roso hanya tersenyum simpul. Sebagai manusia biasa, rasanya ia juga ingin menikmati lembaran-lembaran dan keping-keping emas itu. Namun ia ingat, sekali saja ia ikut menikmati uang hasil pemberian makhluk itu, maka harus ada yang dikorbankan. Oleh karenanya Roso hanya bisa menelan salivanya ketika tergiur akan keberadaan uang dan koin-koin emas ini.
"Itu artinya Kanjeng Ndoro puas akan pelayananmu Ning sehinnga dia memberikan hadiah itu."
"Apa Mbah Roso mau? Jika mau, akan saya bagi sedikit untuk Mbah Roso."
Roso menggelengkan kepala. "Tidak Ning, tidak. Semua itu untukmu saja."
"Baiklah kalau begitu Mbah. Aku bersiap-siap untuk pulang terlebih dahulu."
***
Heru terlihat tidak nyenyak dalam tidurnya. Sadari tadi, lelaki itu berguling ke kanan dan ke kiri, menunggu sosok sang istri. Ia teramat heran kemana perginya Ningrum malam-malam seperti ini. Karena sejak ia terjaga dari tidurnya di dua jam yang lalu, Ningrum bahkan belum menampakkan batang hidungnya.
Cekleeekkkk..
Suara pintu yang terbuka, membuat perhatian Heru beralih ke arah sumber suara. Baru saja lelaki itu bertanya-tanya perihal keberadaan sang istri, tiba-tiba wanita itu muncul dari balik pintu.
"Ningrum, dari mana saja kamu? Mengapa kamu keluar malam-malam seperti ini?"
Ningrum hanya tersenyum simpul. Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang, di samping Heru. "Aku ada keperluan sebentar Mas."
Kening Heru berkerut dalam. "Sebentar? Dua jam lebih kamu bilang sebentar? Sebenarnya urusan apa yang kamu kerjakan itu? Sampai membuatmu keluar malam-malam seperti ini?"
"Sssttt ... sudah ya Mas. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku capek, ingin segera tidur."
__ADS_1
"Tapi Ning, jelaskan dulu kepadaku darimana kamu!"
"Diam Mas. Ini urusanku dan kamu tidak perlu ikut campur. Oh iya, lebih baik kamu bersiap-siap."
"Bersiap? Bersiap untuk apa?"
"Bersiap untuk menjadi orang paling kaya di kampung ini. Karena mulai besok, aku akan memperbaiki rumah ini menjadi rumah besar bak istana. Dan aku akan membeli sawah dan ternak yang ditawarkan oleh orang-orang kampung. Dengan begitu aku bisa menjadi seorang juragan, hahahaha!!!"
Heru semakin terperangah. "Apa kamu bilang? Menjadi orang kaya di kampung ini? Kamu ngelindur Ning?"
"Aku tidak ngelindur Mas. Ini semua nyata. Besok aku akan buktikan kepadamu bahwa kita bisa menjadi orang paling kaya di kampung ini."
"T-tapi..."
"Sudahlah Mas, manuto marang aku. Penak-penak!"
Usai berkelakar, kedua mata Ningrum langsung terpejam. Persetubuhannya dengan genderuwo itu membuat tubuh Ningrum serasa remuk redam hingga akhirnya ia pun terlelap dalam tidurnya.
.
.
. bersambung...
*manuto marang aku \= percaya padaku, patuh kepadaku.
__ADS_1