Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 57. Sedikit Firasat Lingga


__ADS_3


"Berhenti sebentar Pak!"


Banyu yang tengah membonceng Prasojo, tiba-tiba saja menepuk bahu lelaki paruh baya itu, yang membuat Prasojo terkaget dan seketika menginjak tuas rem-nya.


"Ada apa sih Le? Bapak sampai kaget."


Banyu turun dari motor dan melepaskan helm yang ia kenakan dan terlebih dahulu ia titipkan kepada Prasojo. "Tunggu di sini ya Pak. Saya ada sedikit keperluan."


"Keperluan apa Le?" tanya Prasojo sambil celingak-celinguk ke arah sekitar. Lelaki paruh baya itu begitu penasaran akan keperluan apa yang dimaksud oleh pemuda ini. Padahal di tempat ini, tidak ada siapapun yang berlalu lalang.


Banyu tersenyum simpul sembari melenggang pelan untuk meninggalkan Prasojo. "Bertemu dengan jamu-ku, Pak. Jamu yang selalu membuat tubuh saya segar, bugar dan berstamina."


Prasojo hanya melongo mendengar ucapan Banyu. Pandangannya mengikuti kemana arah Banyu berjalan dan ia pun hanya bisa berdecak pelan saat mengetahui tujuan Banyu.


"Gusti .... padahal Lingga masih berada jauh dari tempatku berada, tapi mengapa Banyu bisa tahu keberadaan Lingga? Apakah radar Lingga terlacak oleh Banyu sehingga membuat Banyu tahu di manapun wanita itu berada?"


Prasojo hanya bisa pasrah duduk di atas motor sembari menunggu Banyu yang bertemu dengan jamu-nya. Kali ini, Prasojo persis seperti seorang teman yang sedang menunggui temannya berpacaran agar tidak ketahuan oleh orang tuanya. Beruntung dia pernah muda, sehingga gelora asmara yang sedang dirasakan oleh Banyu tidak membuatnya iri ataupun rasa ingin mengulang kembali masa-masa muda.


Sedangkan Banyu, pemuda itu semakin bersemangat dalam memangkas jarak yang terbentang diantara dirinya dengan Lingga. Tak selang lama, ia pun tiba di hadapan sang pujaan.


"Hai Sayang ...."


Lingga yang sedang duduk di gardu pos ronda sembari menunggu para pelanggan datang, hanya tersenyum simpul ke arah pemuda ini.


"Sudah tidak pingsan lagi?" tanya Lingga dengan kekehan kecil.


"Hahahaha ... sungguh aku malu Sayang jika teringat akan hal itu. Ingin rasanya aku tidak menampakkan wajah di hadapanmu karena malu tapi bagaimana kalau kamu lah sumber kekuatan dan kebugaran ragaku? Jadi meskipun aku teramat malu, aku ingin selalu berada di dekatmu."

__ADS_1


"Cckkkcckkk ... kamu ini selalu saja menggombal," ujar Lingga sembari menundukkan wajahnya karena mulai diserang oleh rasa malu. Pipinya sudah menghangat, bisa dipastikan sebentar lagi akan tercetak rona jingga di tulang pipinya.


"Itu kenyataan Sayang. Maka dari itu, aku menghampirimu di sini terlebih dahulu sebelum aku pergi bersama pak Pras."


Lingga kembali menegakkan kepala. Jika dilihat dari pakaian yang dikenakan oleh Banyu, pemuda ini sepertinya akan pergi ke tempat yang tidak biasa. Kalau hanya ke sawah, pasti penampilannya tidak terlalu rapi seperti ini.


"Oh begitu? Memang kamu mau pergi kemana Nyu? Kalau aku lihat, kamu akan pergi jauh."


Banyu tersenyum lebar ketika melihat ekspresi ketidakrelaan yang tercetak di wajah wanita ini. Gegas, ia pun meraih jemari tangan Lingga dan ia genggam erat.


"Jangan khawatir Sayang, aku hanya pergi ke pos Bambangan menemanimu pak Pras."


Mendengar salah satu jalur pendakian yang diucapkan oleh Banyu membuat dada Lingga berdesir hebat. Ia sendiri juga tidak paham mengapa jantungnya bisa berdegup kencang seperti ini.


"Pos Bambangan? Ada keperluan apa kamu datang ke sana Nyu? Apakah ada sebuah kabar yang berhubungan dengan asal-usulmu? Atau apa?"


"Hahahaha bukan Sayang, bukan seperti itu. Aku ke pos Bambangan hanya menemani pak Pras saja. Katanya, dia sedang ingin ngopi sambil menikmati pesona gunung Slamet yang nampak gagah."


Banyu menganggukkan kepala. "Benar Sayang. Maka dari itu sebelum aku berangkat, berikan aku suplai semangat dulu Sayang. Ya, anggap saja pesangon yang kamu berikan kepadaku sebagai bekal di jalan."


Dahi Lingga mengernyit. "Bekal di jalan?"


"Iya Sayang, agar membuatku lebih bertenaga."


Lingga nampak memutar otak untuk mencerna apa yang menjadi kemauan pemuda ini. Dan sejenak kemudian ia tersenyum simpul ke arah Banyu.


"Aku buatkan jamu gatot kaca ya. Setelah minum jamu itu, tubuhmu pasti akan semakin segar, bugar, dan bertenaga."


Banyu hanya bisa membuang napas sedikit kasar. Lingga tetaplah Lingga. Perihal makhluk tak kasat mata saja ia begitu peka, namun giliran hal-hal seperti ini ia tidak terlalu mengerti.

__ADS_1


"Haduuuhhhh Sayang, bukan itu yang aku mau, tapi ini!" ucap Banyu sambil menunjuk bagian pipi dan juga bibirnya.


"Apa? Maksudmu aku harus menciummu?" pekik Lingga seakan tiada percaya dengan maksud ucapan Banyu.


"Iya Sayang, cium aku dulu agar aku bisa bersemangat. Oke!"


"Tidak Nyu, aku tidak mau!"


"Ayolah Sayang, sekali saja mumpung tidak ada orang. Ya, ya, ya?" rengek Banyu dengan wajah memelas.


Lingga terdiam sejenak, namun pada akhirnya... "Baik, aku akan menciummu. Tapi dengan satu syarat, tutup matamu karena aku sangat malu."


"Adududu .... pakai acara malu segala. Kalau kamu sudah menjadi istriku jangan malu-malu lagi lho ya," seloroh Banyu sambil mencubit hidung mungil wanita ini.


Banyu memejamkan mata dengan hati yang diliputi oleh kelopak-kelopak rasa bahagia. Ia sungguh sangat tidak sabar untuk dicium oleh Lingga. Padahal biasanya Lingga begitu sulit untuk ditaklukkan tapi entah mengapa kali ini ia seakan begitu welcome.


"Oke Sayang, aku sudah memejamkan mata. Sekarang, lekas cium aku!"


Lingga melepas sandal yang ia pakai untuk kemudian ia tempelkan di pipi Banyu. Dengan cara seperti ini, Banyu pasti akan mengira bahwa ia telah dicium oleh Lingga.


"Sudah, sekarang kamu bisa membuka mata lagi."


"Tapi bibirnya belum Sayang."


"Untuk bibir besok lain kali!"


Pada akhirnya, Banyu kembali membuka mata. Perasaannya pun semakin senang karena dicium oleh Lingga. "Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu ya Sayang. Terima kasih untuk ciuman semangatnya."


"Hati-hati!"

__ADS_1


Banyu mengecup punggung tangan Lingga sekilas setelah itu ia melenggang pergi meninggalkan Lingga. Sedangkan Lingga hanya menatap punggung Banyu yang semakin lama semakin hilang dari pandangan dengan segala gejolak rasa yang sulit untuk ia artikan.


Entah mengapa aku merasakan bahwa di pos Bambangan nanti kamu akan mendapatkan sebuah petunjuk tentang asal-usulmu Nyu. Seharusnya aku berbahagia namun mengapa ada setitik rasa tidak rela?


__ADS_2