
"Ikut Bapak yuk Le!"
Kopi hitam lengkap dengan sepiring pisang goreng tersaji di atas meja di beranda kediaman Prasojo. Kepulauan asap dengan aroma khas biji kopi pilihan yang menguar dari sajian minuman hitam pekat itu seperti menggoda untuk segera diraih kemudian disesapnya. Sungguh sempurna, menyambut datangnya pagi sembari menikmati secangkir kopi hitam seperti ini.
"Kemana Pak? Kok tumben Bapak pagi-pagi seperti ini sudah memiliki agenda untuk pergi? Apakah kelurahan sudah buka di jam seperti ini?"
Banyu sedikit keheranan saat melihat Prasojo sudah tampil begitu rapi. Kalau hanya sekedar ke sawah, lelaki paruh baya ini pasti tidak berpenampilan santai dan rapi seperti ini. Tapi kalau ke kelurahan, rasa-rasanya juga tidak karena kelurahan baru akan buka di jam delapan nanti. Itu artinya masih dua jam lagi.
"Ke pos Bambangan, Le. Entah mengapa pagi ini Bapak ingin menikmati suasana pagi di sekitar gunung Slamet. Pasti mengasyikkan sekali. Di sana kita bisa menghirup udara segar sambil ngopi dan menikmati mendoan. Bagaimana? Mau ikut?"
Banyu seketika tergelak saat mendengar alasan yang dilontarkan oleh Prasojo. Rasanya alasan itu terlalu mengada-ada. Dan terdengar menggelikan.
"Pak, sekarang saja kita sedang ngopi dan menikmati pisang goreng. Lalu apa bedanya kalau kita ngopi di pos Bambangan? Sama saja bukan?"
"Hemmmm .... tentu berbeda Le. Di sana, kita bisa melihat gagahnya gunung Slamet dari jarak dekat dan pastinya itu akan sangat menyenangkan. Ayo ikut Bapak. Atau kepalamu masih terasa pusing setelah tragedi semalam, sehingga membuatmu tidak bersemangat untuk pergi ke mana-mana?"
__ADS_1
Banyu tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tiada gatal. Jika teringat kejadian semalam rasa-rasanya begitu konyol. Karena tidak mengindahkan apa yang diucapkan oleh Lingga, membuatnya terbelenggu oleh rasa malu yang tidak akan lekang oleh waktu. Jiwa sok-sokan ingin menjadi malaikat penolong bagi nenek tua yang dia kira tersesat, eh ternyata malah membuatnya pingsan setelah tahu bahwa yang ia tolong adalah sosok nenek gayung yang sedang mencari gayungnya. Dan yang lebih parah lagi, ia sampai ngompol di celana karena rasa takut yang luar biasa.
"Tidak juga Pak, kepala saya sama sekali tidak terasa pusing bahkan saya merasa keadaan saya sudah jauh lebih baik. Untung saja semalam Bapak segera menemukan saya dan membawa saya pulang. Kalau tidak, mungkin saya sudah diajak terbang oleh nenek gayung itu."
"Tapi Le, Bapak sampai lupa belum memberitahumu bahwa sebenarnya yang menolongmu itu bukan Bapak, tapi Lingga!"
Uhukkk ... uhukkkk .... uhuuukkkk....
Mendengar perkataan Prasojo, membuat Banyu seketika tersedak pisang goreng yang masuk ke dalam kerongkongannya. Gegas, ia meneguk kopi hitam ini dan....
"Alon-alon toh Le!!"
"Bapak serius yang menolong saya semalam adalah Lingga? Padahal Lingga sudah pulang terlebih dahulu saat saya memilih untuk menolong nenek gayung itu loh Pak. Bagaimana bisa Lingga yang menolong saya?" ujar Banyu penasaran.
"Lingga sebenarnya tahu bahwa nenek-nenek yang kamu lihat itu adalah makhluk tak kasat mata, dan ia tidak langsung pulang setelah berpamitan. Dia bersembunyi untuk memantaumu dari kejauhan. Karena ia sudah ada firasat akan terjadi sesuatu yang tidak baik kepadamu."
"J-jadi Lingga tahu bahwa saya mengompol di celana Pak?" tanya Banyu dengan dahi sedikit mengerut karena cemas.
__ADS_1
"Ya jelas tahu Le. Lingga loh yang memapahmu sampai ke rumah. Jadi bisa dipastikan bahwa dia tahu kalau kamu mengompol di celana!"
Mendadak wajah Banyu berubah menjadi pias. Ia benar-benar seperti kehilangan muka saat Lingga tahu bahwa ia mengompol di celana. Sungguh memalukan bukan.
"Ya Tuhan ... baru saja aku ingin membangun image yang baik di hadapan Lingga. Dengan menjadi lelaki pemberani, gagah dan penyayang. Eh ternyata itu semua dijatuhkan oleh kencing di celana? Banyu .... Banyu kok gini amat hidupmu!!"
Prasojo yang melihat ekspresi wajah Banyu yang sendu itu hanya bisa tergelak. Ia menepuk-nepuk bahu pemuda ini. "Yang sabar ya Le ... Lingga pasti dapat memaklumi bahwa kamu ketakutan setengah mati. Hahahaha!"
"Tapi saya benar-benar malu Pak!"
"Sudah, sudah. Lebih baik kamu bersiap-siap ikut Bapak ke pos Bambangan."
.
.
. bersambung...
__ADS_1