Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 119. Menikah


__ADS_3


Sinar matahari terasa sedikit redup siang hari ini. Pancarannya tidak begitu terik sehingga membuat siapa saja betah berlama-lama berada di tepi pantai seperti ini. Semilir angin laut yang berhembus kencang membuat nyiur bergoyang-goyang seiring dengan hembusannya. Puluhan burung camar terlihat menghiasi langit siang ini ditambah dengan gumpalan awan putih yang membentuk bulu-bulu domba seakan menjadi lukisan alam yang terbentuk dengan sempurna dari sang Maha penggenggam kehidupan.


Gemuruh suara ombak terdengar begitu jelas. Mereka bergulung-gulung memecah batu karang kemudian menghempaskan diri mereka ke bibir pantai, dan kemudian hanya menyisakan buih-buih air laut. Hamparan pasir putih terlihat begitu kontras dengan warna biru langit, seperti sebuah bingkai kehidupan yang nampak begitu indah.


Banyu dan Lingga nampak serasi duduk bersandingan di atas pelaminan. Kedua manusia itu baru saja sah menjadi sepasang suami istri dengan mengikrarkan janji sehidup semati yang disaksikan oleh para tamu undangan. Tepian pantai yang di dekorasi sedemikian rupa dengan konsep warna putih terasa menambah kesan romantis bagi siapa saja yang berada di tempat ini. Berpuluh-puluh tangkai mawar putih juga seolah menjadi saksi, jika hari ini memang hari yang membahagiakan bagi keduanya karena mereka bisa saling memiliki secara utuh, apapun yang ada di dalam diri masing-masing.


Banyu tiada henti memandang wajah Lingga yang duduk di sampingnya. Hari ini, sang jamu gendong yang ia temui beberapa waktu yang lalu sudah seperti jelmaan putri kerajaan saja. Dengan ball gawn warna putih, rambut yang ditata sedemikian rupa dengan sebuah mahkota kecil yang tersemat di atas kepalanya semakin membuat janda yang ternyata masih gadis itu terlihat cantik elegan.


Tidak jauh berbeda dengan Lingga, Banyu dengan setelan tuxedo warna putih juga nampak semakin gagah meskipun usianya baru menginjak dua puluh empat tahun. Tidak ada yang terlihat dari sepasang manusia itu selain pancaran penuh binar-binar kebahagiaan yang semakin membuat orang-orang yang berada di sekelilingnya ikut larut dalam rasa bahagia itu.


Hal yang sama juga dirasakan oleh pasangan Sapto dan Ambar. Sepasang manusia yang baru saja sah menjadi suami istri itu juga terlihat berbahagia. Mereka duduk tidak jauh dari tempat Banyu dan Lingga berada dengan menggunakan konsep pernikahan yang sama pula.


Sorot mata Banyu tiada henti membidik wajah cantik sang istri. Ia seperti terhipnotis oleh kecantikan natural yang dimiliki oleh istrinya ini. Tak ayal jika sedari tadi, pemuda yang sudah sah menjadi seorang suami itu terus memandangi wajah cantik sang kekasih hati, dan membuat Lingga tersipu malu.


"Kenapa kamu terus menerus melihatku seperti itu sih Nyu? Apa tidak bosan?" Lingga bertanya dengan wajah menunduk, tiada berani untuk menatap wajah tampan di hadapannya ini.


"Sayang..." Banyu meraih dagu Lingga dan membuatnya sedikit tegak. Kini pandangan keduanya bersiborok dan saling mengunci. "Sekarang, aku sudah sah menjadi suamimu. Apakah kamu akan tetap memanggilku dengan sebutan nama saja? Aku ingin kamu memanggilku dengan sebutan persis saat pertama kali kita berjumpa. Tepatnya pada saat kamu menolongku di bawah curug beberapa bulan yang lalu."


Dahi Lingga sedikit berkerut, mencoba untuk mengingat-ingat panggilan apa yang pernah ia sematkan untuk suaminya ini. Kejadian itu sudah sangat lama terjadi, sehingga wajar saja jika Lingga sedikit lupa. Sama seperti authornya yang sering lupa. Kecuali satu hal yang tidak pernah lupa yaitu jatah uang belanja 🤣🤣🤣

__ADS_1


Sepersekian menit Lingga mencoba untuk mengingat-ingat, pada akhirnya wanita itu tersenyum simpul kala satu panggilan yang sempat ia sematkan untuk memanggil Banyu.


"M .... Mas Banyu!"


Senyum lebar mengembang di bibir Banyu. Dengan cepat kilat ia meraih jemari tangan Lingga dan mengecupnya intens. "Nah, itu yang aku mau Sayang. Langipula panggilan mas akan jauh lebih terdengar manis saat kita bercinta nanti."


Kedua bola mata Lingga terbelalak. Mendengar kata bercinta membuat tubuhnya tiba-tiba merinding seketika. Dan tak selang lama ....


...Pletaaakkkkk!!!!...


"Aduuduhhh sakit Sayang .... apa yang salah dari ucapanku coba?" pekik Banyu saat Lingga menyentil keningnya.


"Lagian kamu ini, belum apa-apa sudah membahas perihal bercinta. Malu, tahu?!"


"Eheeeem ....."


Suara seseorang yang berdehem membuat Lingga dan Banyu sedikit terkejut. Ternyata keluarga besarnya datang menghampiri mereka.


"Selamat ya untuk pernikahan kalian. Tidak banyak yang bisa Papa katakan selain doa semoga pernikahan kalian ini langgeng hingga maut memisahkan," tutur Herlambang dengan suara sedikit sumbang karena terharu melihat sang putra sudah menikah.


Banyu dan Lingga mengangguk bersamaan. "Terima kasih untuk doanya Pa."

__ADS_1


"Nak ... Mama titip Banyu ya. Meskipun usia Banyu lebih muda dari kamu, tapi percayalah bahwa Banyu sudah cukup dewasa. Bahkan dia sudah bisa menjadikanmu seorang ibu," sahut Kinanti dengan lembut namun kata-katanya sungguh sangat sulit dicerna.


"Menjadikan Lingga seorang ibu? Maksud Mama?"


Kinanti tersenyum simpul. Ia dekatkan bibirnya ke arah telinga Lingga. "Maksud Mama, dia sudah bisa menghamilimu, jadi dengan begitu bisa membuatmu sebagai seorang ibu."


"Iihhhhh .... Mama ..... Lingga kira apaan!"


"Hihihihi..."


"Oh iya Nak, apakah masih ada tamu yang masih belum tiba?" timpal Prasojo yang juga ikut berada di tengah-tengah mereka.


"Masih Pak. Mungkin sebentar lagi tamu-tamu istimewa kita akan datang. Dengar-dengar mereka akan memberikan kejutan untuk saya dan Lingga. Entah, kejutan apa yang mereka siapkan."


"Ohhh .... Seperti itu?"


"Iya Pak .... kita tunggu saja kejutan yang dipersiapkan oleh tamu-tamu istimewa kita nanti."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


Kejutan apa ya yang sudah dipersiapkan oleh para tamu istimewa?? Hihihihi hihihihi tunggu part selanjutnya ya kak🤣🤣🤣🤣


__ADS_2