
"Sayang!"
Kepala Banyu yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu, sukses membuat tubuh Lingga yang tengah disibukkan dengan empon-empon di hadapannya terperanjat seketika. Meski setiap pagi pemuda ini selalu datang ke kediamannya, namun dengan cara datang yang tiba-tiba seperti ini selalu saja membuat Lingga jantungan. Hampir saja ia masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung.
"Bisa tidak sih, setiap ingin masuk ketuk pintu dulu. Jantungku hampir copot ketika kamu datang dengan cara seperti ini."
"Tidak perlu risau Sayang, kalau jantungmu copot, akan aku ambil jantungku ini kemudian aku berikan kepadamu. Dengan begitu, kamu bisa tahu seonggok daging yang bersemayam di dalam dada ini berdegup kencang memanggil namamu."
"Gombal!" seru Lingga sembari fokus dengan parutan kunyit yang ada di tangan.
Banyu teegelak lirih. "Biar gombal tapi kamu tetap suka kan?"
Lingga hanya bisa semakin menundukkan wajah. Meskipun ucapan-ucapan Banyu ini terdengar seperti gombal mukiyo, namun selalu saja berhasil membuat hatinya bak dihujani oleh kelopak-kelopak kebahagiaan.
Hari ini, tepat satu bulan Banyu tinggal di kampung ini. Selama satu bulan ini setiap pagi, pemuda itu selalu datang ke kediaman Lingga untuk membantu menyiapkan dagangannya. Tak ayal, pemuda itu sudah seperti karyawan pribadi yang Lingga miliki.
"Apakah kamu tidak memiliki niat untuk membuatkanku minuman hangat atau apa gitu Sayang?" ucap Banyu mencoba untuk memecah keheningan yang ada.
Pandangan Lingga yang sebelumnya fokus pada parutan kunyit, kini ia geser untuk menatap Banyu yang duduk di hadapannya.
"Mau minum apa Nyu?"
Banyu nampak berpikir sejenak. "Enaknya apa ya Sayang?"
"Teh?"
Banyu menggeleng. "Aku tidak terlalu suka teh."
"Kopi?"
Banyu menggeleng lagi. "Aku juga tidak telalu suka kopi."
"Susu?"
__ADS_1
Lagi-lagi Banyu menggeleng. "Terlalu eneg kalau susu Sayang."
"Jamu?"
"Hemmmm ... setiap pagi aku selalu meminum jamu buatanmu. Lihatlah, penyakitpun sampai enggan masuk ke dalam tibuhku."
Lingga menghela napas dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. Dengan seperti ini, ia sudah seperti seorang waitress yang menawarkan dagangannya.
"Oh kopi susu? Bagaimana? Aku rasa akan sangat cocok diminum di pagi hari ini?" tawar Lingga masih belum mau menyerah.
"Ahaa!!! Kopi susu? Sepertinya mantap itu Sayang. Tapi..." lirih Banyu menjeda perkataannya.
"Tapi apa Nyu?"
"Kalau minum kopi susu hanya membuat aku bingung Sayang."
Dahi Lingga mengernyit dalam dan matanya sedikit menyipit. "Bingung? Bingung kenapa Nyu? Yang ada aku yang bingung menanggapi ucapan-ucapanmu ini."
Seyum simpul terbit di bibir Banyu. Sorot mata pemuda itu tidak lepas membidik netra Lingga yang sadari tadi juga fokus menatap Banyu.
Lingga terperangah. Ia yang sudah begitu serius mendengarkan ucapan Banyu ternyata hanya banyolan semata. Dan...
Pletakkkkk...
"Adududu sakit Sayang...."
"Dasar, sudah serius mendengarkan eh malah bercanda. Kalau begitu aku bikinkan kamu minuman yang lain saja," ucap Lingga sembari beranjak dari duduknya.
"Kamu mau membuat minuman apa Sayang?"
Lingga mengambil sebuah gelas lalu ia tuangkan air di dalamnya. "Hanya air putih saja kok Nyu. Namun air putih yang sangat spesial."
"Oh ya? Pasti spesial karena kamu yang mengambilkan ya Sayang?"
Lingga menganggukkan kepala. "Itu sudah pasti Nyu. Dan tidak hanya itu saja, air putih ini akan bertambah spesial karena akan aku campur dengan brotowali. Pasti akan menjadi minuman paling spesial untukmu!"
__ADS_1
Banyu terhenyak. Mendengar kata brotowali membuat buluk kuduknya meremang seketika. Brotowali merupakan minuman yang sungguh tidak Banyu sukai.
Lingga berbalik badan sembari membawa minuman menyeramkan di mata Banyu itu. Sedangkan Banyu juga ikut beranjak dari posisi duduknya.
"Bagaimana Sayang? Ini minuman spesial bukan?" ucap Lingga dengan suara yang begitu lembut. Berbeda dari biasanya.
"Hehehe Sayang ... jangan bercanda. Aku bisa muntah jika meminum minuman itu Sayang."
"Tapi ini spesial buatanku loh Sayang. Masa kamu tidak menghargai sedikitpun?" ujar Lingga semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Banyu.
Banyu menggelengkan kepala sembari melangkah mundur. Pemuda itu benar-benar nampak ketakukan setengah mati. "Jangan Sayang. Aku tidak mau minuman itu."
"Ayolah Sayang ... sedikit saja!"
"Aaaaaaaa ... jangan Sayang. Aku tidak mau!"
Pada akhirnya, Banyu berlarian mengelilingi amben yang berada di dapur. Keduanya nampak kejar-kejaran seperti seorang ibu yang tengah membujuk sang anak untuk meminum obat. Namun tiba-tiba....
Ckiittttt....
"Aaaaaaaaa...."
Bruuuukkk... Brukkkk....
Cup....
Tubuh Banyu terjatuh setelah terpeleset kulit pisang yang entah bagaimana ceritanya tiba-tiba bisa ia injak. Ia jatuh dalam posisi terlentang dan apesnya Lingga yang tidak bisa mengerem tubuhnya ketika mengejar Banyu juga ikut terjatuh. Kini posisi keduanya saling menindih dengan bibir saling menyentuh.
Sejenak mereka menikmati segala suasana intim yang tiba-tiba terasa. Banyu yang merasakan kehangatan sentuhan bibir Lingga seakan tidak ingin mengakhirinya. Sedangkan tubuh Lingga hanya bisa terpaku dan membeku. Ingin rasanya ia mengakhiri pertemuan bibir antara dia dengan Banyu ini namun mantra apa yang dipakai oleh pemuda ini yang membuatnya justru semakin menikmati suasana seperti ini.
"Aku mencintaimu, Lingga!"
.
.
__ADS_1
. bersambung..