
Lingga melongo mendengar sebuah penawaran yang terlontar dari bibir Banyu yang ia rasa begitu konyol. Lingga terperangah karena baru kali ini ia bertemu dengan seorang pemuda dengan karakter seperti ini.
"Benar-benar konyol kamu, Nyu. Bisa-bisanya kamu menawarkan hal itu kepada wanita bersuami? Ngawur!"
"Aku serius Sayang, bahkan sangat-sangat serius. Aku yakin bahwa Heru berselingkuh di belakangmu. Maka dari itu, mari berpacaran denganku. Dengan begitu kamu bisa membalas apa yang telah ia lakukan terhadapmu."
Bidikan sorot mata Banyu tak terlepas dari bola mata bening milik Lingga. Sorot mata itu seakan berbicara bahwa apa yang ia ucapkan sama sekali bukanlah sebuah candaan. Ia menawarkan satu jalan untuk bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang telah diperbuat oleh Heru.
Lingga hanya mampu berdecak lirih. Ternyata pemuda ini masih belum mau menyerah untuk mengutarakan hal-hal konyol seperti itu.
"Jika aku ikut bermain api, lalu apa bedanya antara aku dengan suamiku? Itu berarti aku sama dengan mas Heru, yang mempermainkan sebuah pernikahan."
"Tapi sekali-kali kamu bisa melawan untuk membuktikan bahwa kamu tidak bisa begitu saja diremehkan. Dan aku bisa membantumu, Sayang."
Pletakkk...
__ADS_1
"Benar-benar sinting kamu Nyu. Menyesal aku menolongmu dari dimensi lain itu!"
"Aaaahhhh .... sakit Sayang!"
Banyu memekik kesakitan sambil mengusap-usap kening setelah mendapatkan sentilan dari Lingga. Pamuda itu hanya bisa nyengir kuda setelah rasa nyeri terasa menjalar di kepalanya.
"Aaahhhhh sakit... sakit.... !"
Lagi, Banyu memekik sambil memegangi pelipisnya yang masih sedikit memar setelah jatuh dari curug. Bahkan saat ini pemuda itu sampai membungkukkan badannya yang seakan menjadi tanda bahwa ia diserang oleh rasa sakit tiada terkira.
"Aaaahhhhhh.... Aaahhhh.... Ahhh...."
"Pelipisku yang masih memar dan sedikit benjol, sakit sekali setelah kamu sentil. Adududuhhh...."
Banyu mengaduh yang semakin membuat Lingga kelabakan. Ia lupa bahwa pemuda ini masih memiliki luka lebam dan sedikit benjolan di pelipisnya.
"Coba aku lihat!"
__ADS_1
Dengan sigap, Lingga menegakkan pundak Banyu. Kini, pemuda itu dalam posisi duduk sempurna.
"Mana yang sakit?" tanya Lingga memastikan sembari melihat kening pemuda ini dari jarak yang masih jauh. Ia merasa luka di pelipis pemuda ini tidak bertambah parah meskipun telah ia sentil.
"Mendekatlah. Ini terasa sangat sakit!" lirih Banyu sambil menunjuk pelipisnya. Suara Banyu yang lirih itu pulalah yang seakan mempertegas bahwa pemuda itu benar-benar kesakitan.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun, Lingga mendekatkan wajahnya di wajah Banyu. Sorot mata wanita itu menatap lekat pelipis Banyu. Namun...
Cup.....
Lagi, Banyu mengecup bibir Lingga tanpa permisi. Sebuah kecupan lembut ia daratkan di bibir Lingga yang nampak merah merona nan menggoda itu. Sebuah kecupan yang terasa begitu lembut dan hanya membuat tubuh Lingga terpaku, membeku, tidak mampu untuk melakukan apapun. Ia tahu bahwa ini salah namun naluri nya sebagai seorang istri yang tidak pernah terjamah dan membutuhkan sentuhan kasih sayang seakan mempersilakan pemuda ini mengecupnya. Tidak ada yang ia rasakan selain kehangatan yang mengaliri di setiap aliran darahnya.
Banyu melepaskan pag*utan bibirnya. Ia rapikan anak-anak rambut yang sedikit menutupi kening Lingga. Pemuda itu tersenyum manis dan menampilkan dua lesung pipitnya.
"Aku percaya, kamu tidak pernah menyesal telah menolongku untuk keluar dari dimensi itu. Mungkin dengan cara seperti itu Tuhan membukakan matamu bahwa ada seorang pemuda yang jauh lebih pantas untuk menjagamu. Dan orang itu adalah aku, Lingga!"
.
__ADS_1
.
. bersambung...