
Dengan mengerahkan semua tenaga yang ia punya, Banyu mengayuh becak ini. Perut yang keroncongan setengah mati dan peluh yang membasahi dahi seakan tidak ia pedulikan lagi. Yang ia pedulikan hanya satu, di mana ia harus bisa menemukan keberadaan Lingga. Matanya tiada henti mengawasi laju mobil yang ditumpangi oleh Lingga. Setidaknya Banyu bisa bernapas lega karena bayangan mobil itu tidak hilang dari pandangan matanya.
"Kamu benar baru sekali mengayuh becak seperti ini cah bagus?"
Si bapak tukang becak mencoba untuk membuka obrolan dengan Banyu. Ia tahu bahwa Banyu kelelahan. Ia berpikir dengan mengajaknya berbicara, pemuda ini bisa lupa akan rasa lelahnya.
"Lah, memang baru sekali Pak. Jangankan mengayuh, naik saja saya belum pernah Pak," jawab Banyu sambil fokus dengan mobil hitam yang berada di depan sana.
"Bapak kira kamu sudah terbiasa, cah bagus. Tarikan becakmu ini terasa nyaman sekali. Persis tukang becak profesional. Bahkan kamu hanya mendengar instruksi dari Bapak, tapi kamu nampak sudah menguasai ilmunya."
"Ya mungkin itu karena tingkat kecerdasan saya Pak. Saya cepat tanggap dan cepat memahami hal-hal baru yang saya hadapi," ucap Banyu membanggakan diri.
"Waahhhh .... kalau begitu pas sekali cah bagus."
"Pas? Pas apanya Pak?" Kerutan di dahi Banyu tiba-tiba muncul sebagai isyarat bahwa ia tidak terlalu paham dengan apa yang diucapkan oleh pemilik becak ini.
"Pas untuk dijadikan generasi penerus para tukang becak. Bisa dikatakan tukang becak milenial. Hahahaha!"
__ADS_1
Banyu pun hanya bisa membelalakkan mata sembari berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. Sorot mata pemuda itu menatap lurus ke depan. Tak ingin sedikitpun ia kehilangan jejak mobil itu.
Kuda-kuda besi nampak padat dan sedikit merayap tatkala melintas di sebuah pertigaan di mana ada rambu lalu lintas di sana. Entah karena apa jalanan Jogja menjadi macet seperti ini. Mungkin karena malam minggu yang membuat jalanan kota Jogja yang lebih ramai dari biasanya. Namun ternyata bukan karena itu. Ternyata saat ini merupakan long weekend, di mana para pelancong banyak yang mejadikan kota Jogja sebagai destinasi wisata mereka. Tak ayal selain mobil-mobil pribadi, bus-bus besar pun juga nampak melintas di jalanan ini.
Banyu tersenyum penuh arti. Baru kali ini ia bersyukur dalam kondisi jalanan yang mengalami kemacetan seperti ini. Ia yang biasa uring-uringan sendiri saat mengalami kemacetan lalu lintas di ibu kota, malam ini ia justru sangat bersyukur. Karena dengan begini, ia bisa membuntuti kemana mobil yang ditumpangi Lingga berhenti.
"Loh cah bagus, mengapa kamu malah belok ke arah rumah Bapak? Apa kamu mau mengantarkan Bapak pulang?" pekik si bapak tukang becak yang keheranan karena Banyu memilih jalanan yang akan mengantarkannya ke kediamannya.
"Lah, saya juga tidak tahu Pak. Itu mobil yang saya buntuti belok ke arah sini kok!"
Si bapak tukang becak semakin dibuat keheranan saat mobil yang dimaksud oleh Banyu masuk ke area sekitar tempat tinggalnya. Dan sesaat kemudian...
Ckiiiittttt....
"Owalah .... jadi perempuan yang kamu cari tinggal rumah ini ya cah bagus?" tanya bapak si tukang becak.
"Loh, memang Bapak tahu rumah ini rumah siapa?" Banyu justru balik bertanya.
"Ini sih semacam mess yang dipakai oleh beberapa orang yang mengikuti pelatihan pembuatan jamu bubuk cah bagus. Setiap hari mereka selalu diantar jemput oleh mobil pabrik. Namun bukan mobil itu sepertinya."
__ADS_1
Banyu mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata apa yang diceritakan oleh bapak tukang becak ini tidak jauh berbeda dari kabar yang beredar bahwa Lingga sedang mengikuti pelatihan pengolahan jamu modern.
Banyu turun dari posisinya. Rasa tidak sabar untuk menyapa Lingga benar-benar menguasai jiwanya. Langkah kakinya pun terayun untuk bisa segera bertatap muka dengan sang pujaan. Namun baru beberapa langkah....
"Eh, eh, eh .... mau kemana cah bagus?" selidik Bapak tukang becak yang seketika menghentikan langkah kaki Banyu.
Banyu membalikkan badannya. "Kok masih tanya mau kemana sih Pak? Ya jelas saya ingin bertemu dengan calon istri saya."
"Lihatlah, sekarang jam berapa?"
Banyu melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam setengah sebelas Pak!"
"Itu artinya kamu sudah tidak diperbolehkan untuk berkunjung. Karena jam berkunjung hanya sampai jam sepuluh malam. Sudah, lebih baik besok saja kamu mendatangi calon istrimu itu," ujar si bapak tukang becak memberi nasihat demi kebaikan Banyu sendiri.
Wajah Banyu mendadak pias. Ia kebingungan akan bermalam di mana.
Seakan paham dengan apa yang dirasakan oleh Banyu, bapak tukang becak itu tersenyum simpul. "Sudah, tidak perlu khawatir. Malam ini kamu bisa beristirahat di rumah Bapak dan besok pagi, kamu bisa langsung menemui calon istrimu itu."
.
__ADS_1
.
. bersambung....