
"Pakai jaketnya Sayang, biar gak masuk angin!"
Banyu berdiri di belakang tubuh Lingga yang tengah mengunci pintu sembari memakaikan jaket ke tubuh wanita ini. Malam ini udara terasa dingin sekali, ia khawatir jika sang pujaan hati sampai masuk angin.
Lingga membalikkan badan. Ia sedikit keheranan karena jaket yang sebelumnya dipakai oleh Banyu saat ini dilepas. Kini jaket itu justru membalut tubuhnya.
"Biarkan aku kembali masuk ke dalam untuk mengambil jaket Nyu. Jadi, jaket ini bisa kamu pakai."
Banyu menggelengkan kepala. "Tidak perlu Sayang. Jaket ini kamu pakai saja. Sedangkan aku biarkan seperti ini."
"Tapi kalau seperti ini, bisa-bisa kamu yang masuk angin. Sudah ya, aku masuk lagi untuk mengambil jaket."
Jemari tangan Lingga yang tengah memasukkan kunci ke dalam lubang seketika ditahan oleh Banyu. Wanita itu hanya bisa menatap wajah sang pemuda dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sudah, aku tidak akan pernah masuk angin Lingga. Lagipula jika sampai aku masuk angin, aku malah senang sekali."
"Maksudnya?"
Banyu tergelak lirih. Ia selipkan anak-anak rambut Lingga di belakang telinga, hingga kecantikan wanita ini nampak berkali-kali lipat.
"Asalkan itu angin cinta darimu, aku rela dimasukin berapa banyak pun Sayang."
__ADS_1
Bibir Lingga mencebik, namun sejenak kemudian semburat warna merah itu muncul di pipi Lingga. Meskipun ia sudah terbiasa dengan gombalan Banyu, namun selalu saja membuat Lingga salah tingkah.
"Apaan sih kamu Nyu?" ucapnya sembari menundukkan wajah, menyembunyikan rona malunya.
"Uhuuuuy... gak usah tersipu malu seperti itu Sayang. Tapi kalau aku lihat, kamu semakin cantik kalau tersipu seperti ini loh Sayang."
"Ckckckck ... apaan sih Nyu. Sudah, ayo kita berangkat. Nanti keburu malam."
"Ayo Sayang!"
Banyu meraih tangan Lingga dan ia genggam erat. Keduanya berjalan menembus malam untuk melihat salah satu hiburan rakyat yang ada di kampung ini.
Suara musik khas pertunjukan kuda lumping terdengar membahana, memecah keheningan malam. Mereka nampak menari-nari sembari memainkan kuda kepang yang mereka bawa. Kuda lumping, salah satu kesenian yang kental dengan makhluk tak kasat mata. Mereka menari seiring seirama dengan alunan musik yang menggema sampai pada akhirnya mereka kerasukan.
Banyu bergidik ngeri ketika dari tempatnya berdiri terlihat para pemain kuda lumping itu satu persatu kerasukan. Tidak hanya itu saja. Mereka ada yang memanjat pohon kelapa, berguling-guling di atas tanah, ada yang memakan ayam mentah-mentah dan yang paling terlihat ngeri ketika memakan kaca bola lampu. Bibir Banyu terasa begitu ngilu, sangat-sangat ngilu.
"Hahaha kamu takut?" ucap Lingga yang melihat Banyu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Bukan takut Sayang, tapi aku ngilu membayangkan orang itu memakan bola lampu."
"Hahahaha kamu ini, begitu saja sudah ngilu. Lemah kamu Nyu!"
__ADS_1
Banyu membuka telapak tangannya yang menutupi wajah. Rasa-rasanya ia sudah sangat tidak tahan untuk berada di tempat ini.
"Sayang, kita ke sana yuk. Aku lapar, ingin mencari makanan," ajak Banyu sembari berkilah.
Lingga nampak menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh pemuda ini. Ia ingat bahwa sedari sore, perutnya juga belum terisi. Lingga pun menganggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu. Kita cari makanan di sana."
Lingga dan Banyu keluar dari area pertunjukan kuda lumping. Pandangan keduanya mengedar ke sekeliling untuk mencari makanan apa yang pas untuk mereka santap di malam hari ini.
"Sayang, kita makan bakso yuk. Aku kok tiba-tiba ingin makan bakso. Lagipula makan bakso di malam yang dingin seperti ini rasanya nikmat sekali," usul Banyu saat melihat penjual bakso yang berada di tempat ini.
Lingga menganggukkan kepala. "Boleh. Ayo kita ke sana."
.
.
. bersambung...
Hihihihi lanjut nanti lagi ya kak😂😂😂
__ADS_1