
"Astaga ... ini Banyu kenapa Mbah?"
Maryati tiba-tiba memekik tatkala melihat Banyu seperti seseorang yang sedang sekarat. Pemuda ini seakan kesulitan untuk meraup oksigen yang berada di sekitar. Dadanya naik turun, terlihat sesak dan kesulitan untuk bernapas.
"Mbah... ini ada apa? Mengapa bisa seperti ini?"
Tak berbeda jauh dari Maryati, wajah Prasojo juga ikut menampakkan gurat-gurat kecemasan. Banyu yang tidak pernah mengalami sesak napas dan kejang-kejang seperti ini kini tiba-tiba mengalami hal semacam ini? Sungguh hanya membuat hati Prasojo diliputi oleh kecemasan yang luar biasa. Ia khawatir jika pada akhirnya, Banyu berada di titik terlemah dalam hidupnya.
Darmaji yang sedari tadi menunggui raga Banyu juga nampak berkerut kening. Tetua yang memiliki ajian sakti mandraguna itu juga nampak keheranan dengan apa yang dialami oleh pemuda yang terbaring lemah ini. Sejenak, ia hanyut dalam pikirannya namun sesaat kemudian ia seperti terhenyak dan terperanjat.
"Gawat, ini sungguh gawat. Jika sukma Banyu tidak segera masuk ke raganya, aku khawatir dia akan..."
Darmaji menjeda ucapannya yang justru membuat Prasojo dan Maryati sama-sama melongo. Mereka benar-benar tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh tetua ini. Hal itulah yang membuat beberapa pertanyaan muncul di dalam pikiran Prasojo dan Maryati.
"Akan apa Mbah? Apa yang akan menimpa Banyu?" cerca Maryati dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Aku khawatir pemuda ini tidak bisa bertahan, Mar. Aku takut dia kalah dengan keadaan."
Mendengar Darmaji mengutarakan hal itu membuat kristal-kristal bening yang berkumpul di pelupuk mata dua paruh baya itu meluruh dan jatuh membasahi pipi. Nampaknya mereka benar-benar menyayangi sosok pemuda yang ditemukan oleh Lingga ini.
"Lalu, apa yang akan Sampeyan lakukan? Tolong selamatkan Banyu Mbah!" pinta Maryati dengan suara lirih seperti seseorang yang kehabisan tenaga.
"Aku akan ikut masuk menyusul Lingga. Kalian ikut berdoa semoga aku bisa menemukan keberadaan mereka."
__ADS_1
Darmaji meraih tangan Banyu. Ia genggam erat jemari pemuda ini dengan erat sembari ia pejamkan mata. Tangannya terasa sedikit bergetar dan hanya gelap yang terasa.
***
"Nyu, kumohon bertahanlah. Sebentar lagi aku bisa membawamu pulang dari alam ini!"
Derai air mata itu masih mengalir deras menghiasi wajah Lingga saat melihat Banyu seperti seseorang yang sudah tidak berdaya. Pemuda itu hanya terduduk lunglai di hamparan tanah hutan belantara ini seperti tidak memiliki semangat untuk hidup lagi.
"Aku sungguh sudah tidak kuat. Rasanya tenagaku sudah melemah. Aku sudah tidak sanggup untuk meneruskan langkah ini."
Lingga terhenyak. Dan...
Plak!!!
Tanpa basa-basi Lingga mengayunkan tangannya dan menampar pipi pemuda ini.
"Aku sungguh tidak kuat, Lingga... Aku ingin menyerah saja. Jika nanti aku tidak bisa keluar dari tempat ini, tolong makamkan aku di dekat tulang-tulang ayahmu."
Lingga menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, aku tidak akan mengunurkanmu di dekat tulang-tulang Bapakku. Akupun tidak tahu di mana tulang-tulang itu berada."
"Tulang-tulang ayahmu terpendam di bawah bebatuan di mana kamu menemukan ragaku, Lingga. Kamu bisa minta tolong orang-orang kampung untuk menggalinya."
Lingga hanya bisa terperangah tiada percaya. Ternyata pemuda ini yang tahu, di mana tulang-tulang sang ayah terkubur.
"Bukankah kamu yang diminta bapakku untuk menguburkan tulang-tulang itu? Lalu, sekarang kamu akan menyerah begitu saja? Ingat Nyu, kamu masih berhutang janji dengan bapakku!"
__ADS_1
"Aku..."
Seakan berpacu dengan waktu, Lingga mengambil posisi jongkok dan ia tarik tangan Banyu untuk ia letakkan di punggungnya. Ia bermaksud untuk menggendong pemuda ini.
"Aku tidak perduli dengan apa ocehanmu Nyu. Yang pasti saat ini aku harus segera mengeluarkanmu dari tempat ini!"
Aneh, sungguh aneh. Sama sekali Lingga tidak merasakan berat dalam menggendong sosok Banyu ini. Ia berlari kencang untuk bisa segera keluar dari dimensi ini.
Namun sesaat kemudian, Lingga menghentikan langkah kakinya saat melihat sosok Darmaji sudah berdiri di hafalannya.
"Mbah Dar!"
Darmaji tersenyum lega saat Lingga bisa bertemu dengan sukma milik Banyu. "Dudukkan Banyu di sini Ndhuk. Kita akan pulang sama-sama."
Lingga menganggukkan kepala. Ia turunkan tubuh Banyu dan ia baringkan di atas hamparan tanah hutan belantara ini. Kali ini, sukma Darmaji yang menggenggam erat tangan Banyu. Dengan cara seperti ini, ia bisa menarik sukma pemuda ini.
"Kamu sudah siap Ndhuk?"
Lingga menganggukkan kepala. "Iya Mbah. Saya sudah siap!"
Pada akhirnya ketiga orang itu sama-sama memejamkan mata. Mulai menembus ruang dan mencoba untuk keluar dari dimensi ini.
.
.
__ADS_1
. bersambung...