Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 42. Penggrebekan


__ADS_3


Warning!!! Ada sedikit adegan panas dingin. Yang merasa di bawah umur harap menyingkir terlebih dahulu 😂😂😂


Lingga sedikit terkejut saat melihat kumpulan bapak-bapak bersarung di gardu pos kamling. Dari raut wajah yang ditampakkan, seperti wajah orang-orang yang sedang menahan amarah. Entah, apa yang sebenarnya akan mereka lakukan.


"Pak Pras, ini ada apa? Mengapa semua berkumpul di sini?" tanya Lingga dengan wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya.


Prasojo mendekat ke arah Lingga dan mengukir senyum di bibirnya. Lelaki paruh baya itu mengusap pundak Lingga sebagai isyarat bahwa semua akan bakk-baik saja.


"Kamu yang kuat ya Ndhuk, mungkin apa yang kamu lihat nanti akan membuatmu bersedih hati. Namun percayalah, semua akan bakk-baik saja."


"Maksud pak Pras apa? Saya tidak paham."


Dahi Lingga semakin berkerut dalam. Ia yang sebelumnya dibuat bertanya-tanya akan ucapan yang dilontarkan oleh Banyu perihal belenggu Heru, saat ini ia kembali dibuat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Prasojo.


"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya Ndhuk.. Bapak hanya minta kamu bersabar. Barangkali setelah peristiwa ini, Tuhan menyimpan kebahagiaan lain untukmu."


Prasojo melirik ke arah Banyu dan pemuda itupun menganggukkan kepala sebagai pertanda, saat ini adalah waktunya untuk menggerebek kediaman Ningrum.


"Baiklah Bapak-bapak, sekarang kita berangkat. Satu pesan saya, jangan ada yang main hakim sendiri dan saya himbau tidak ada kekerasan yang terjadi," seru Prasojo mengingatkan.


"Baik Pak!!!"


Pada akhirnya, Prasojo berjalan untuk memimpin beberapa warga yang sudah bersiap ini. Meskipun mereka berjalan berbondong-bondong namun sebisa mungkin mereka menjaga ketenangan. Berharap kehadiran mereka tidak disadari oleh Heru dan Ningrum pada saat akan digrebek.


Banyu berjalan di samping Lingga. Pemuda itu meraih tangan Lingga dan menggenggam erat jemarinya. Genggaman tangan Banyu inilah yang membuat wanita itu menautkan pandangannya ke arah Banyu. Hingga kini tatapan keduanya saling beradu.


"Percayalah, semua akan bakk-baik saja. Dan setelah ini, aku pastikan hidupmu jauh lebih bahagia dari sebelumnya."


***


Lingga sedikit keheranan saat langkah kakinya tiba di halaman depan rumah yang ditempati oleh Ningrum. Buru-buru ia meliril ke arah Banyu untuk meminta sedikit penjelasan dari pemuda itu.

__ADS_1


"Iya, suamimu sedang berada di rumah ini. Aku dan bapak-bapak ini berencana untuk menggerebek kediaman Ningrum."


Lingga sedikit terhenyak. "Benarkah? Benarkah mas Heru berada di sini?"


"Untuk memastikannya, kita lihat sama-sama ya?" ucap Banyu sedikit lirih karena hatinya benar-benar tidak tega ketika melihat dua bola mata Lingga yang sudah berembun.


"Lalu, sekarang kita harus bagaimana Pak?" tanya Parmin yang masih kurang begitu paham dengan SOP penggerebekan ini. (Haduh pakai SOP segala. Dikira ini training karyawan baru?🙃)


"Jadi semuanya kita bergerak pelan-pelan ya. Sekarang kita berkumpul di teras rumah. Namun jangan sampai pergerakan kaki kita didengar oleh Heru. Pastikan suasana benar-benar tenang."


"Baik Pak!"


Kumpulan bapak-bapak itu mulai mengayunkan tungkai kaki. Dengan hati-hati bahkan sambil berjinjit, mereka berjalan untuk bisa sampai di teras rumah. Tiba di teras, mereka sama-sama menajamkan indera pendengaran mereka untuk bisa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.


Seluruh bola mata orang-orang ini sama-sama terbelalak dan membulat sempurna. Bahkan dari mereka ada yang sampai menelan cairan salivanya saat mendengar kegaduhan di ruang depan. Tubuh Lingga semakin bergetar di saat telinganya mendengar suara de*sahan penuh kenikmatan yang keluar dari bibir seorang laki-laki.


****


Cittt... citttt... ciittt....


Plokkk.. plookkk... plookkk


Shhhhh... sshhh... ssshhh...


Aahhh.. aahhh... ahhhhh...


Suara decitan ranjang, pacuan kuda eh salah pacuan badan, de*sah*an dari bibir dua manusia terdengar menggema memenuhi segala penjuru ruang tamu. Seakan ingin menjajal suasana baru, dua manusia itu melakukan pergumulan itu di atas amben yang berada di ruang depan.


"Ning ... Ning ... Ning ... aahhh..."


"Mas... Mas ... Mas .. eeemmmpphhh...."


"A-aku .. aku sebentar lagi mau keluar Ning..."

__ADS_1


"Hhmmmpphhh ... a-aku juga Mas... Ayo kita raih sama-sama."


Dua manusia itu semakin mempercepat ritme permainan yang mereka mainkan. Deru napas saling beradu. Tetes-tetes keringat pun juga turut menjadi satu. Dan tetes-tetes keringat itu yang seakan menjadi pertanda bahwa keduanya tengah bekerja keras untuk mencapai puncak kenikmatan.


"Ning ... aku...."


Tokk... Tokk... Tokk....


"Mbak Ningrum, ini aku pak Pras. Buka pintu sebentar Mbak, ini ada bansos untuk mbak Ningrum. Mbak, Mbak Ningrum!"


Ningrum sedikit terkejut saat mendengar suara seseorang dari teras. "Mas, berhenti dulu. Itu ada tamu!"


"Aahhh .. sebentar lagi Ning. Tanggung ini. Aku sudah mau keluar!" protes Heru sedikit tidak terima jika kenikmatannya diganggu oleh orang yang tengah bertandang itu.


"Tapi itu bansos loh Mas. Lumayan untuk jadi tabungan kita."


"Tapi Ning..."


"Sudahlah Mas, nanti bisa kita lanjutkan lagi. Ini eman sekali kalau aku tidak membukakan pintu.


Dengan perasaan sedikit dongkol, Heru menghentikan pacuan tubuhnya. Ia pun turun dari tubuh Ningrum dan memilih untuk berbaring di atas amben sembari menutupi tubuhnya dengan kain jarik. Sedangkan Ningrum mulai mengenakan dasternya. Tanpa sedikitpun menaruh rasa curiga atau setidaknya mengintip dari balik jendela terlebih dahulu, Ningrum mulai memutar kenop pintu.


Cekleekkkk....


Pintu terbuka dan.....


"Kalian??? Sedang apa kalian di sini!!!" teriak Ningrum dengan wajah yang sudah memerah dipenuhi oleh amarah.


"Kami datang untuk menggerebek rumahmu Ning!"


"Apaa???!!!!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2