
Lingga berlari menembus gelap malam dengan cucuran air mata yang tiada henti mengalir deras. Jika di hadapan Heru dan juga Ningrum tadi ia menampakkan wajah yang baik-baik saja namun untuk saat ini rasa sakit itu benar-benar terasa menghimpit dada. Sebuah hal yang wajar karena ia merupakan makhluk bernyawa yang memiliki hati dan perasaan.
Banyu yang memperhatikan keanehan sikap Lingga semenjak berada di kediaman Ningrum sedikit merasa was-was. Ia teringat akan ungkapan bahwa sekuat-kuatnya seorang wanita pasti akan rapuh juga apabila dihadapkan oleh sebuah kasus perselingkuhan. Hal ini pastinya juga tidak luput dirasakan oleh Lingga. Oleh karenanya sedari tadi, pemuda itu hanya fokus pada pergerakan Lingga.
Banyu menghentikan langkah kakinya saat melihat Lingga duduk di sebuah gubug kecil yang berada di pinggir sawah. Di mata Banyu, Lingga memang wanita luar biasa. Di dalam keadaan gelap seperti inipun ia tidak takut untuk mengarahkan langkahnya di area persawahan. Benar-benar seorang pemberani.
"Apakah Lingga tidak takut jika sampai dipeluk oleh orang-orangan sawah? Atau disambangi oleh makhluk-makhluk tak kasat mata yang berkeliaran di sawah ini? Ckckckck ... apa yang sebenarnya sedang ia lakukan di sana?" Banyu bermonolog lirih.
"Tuhan ... selama ini aku tidak pernah berbuat jahat. Bahkan aku selalu mendahulukan kepentingan orang-orang yang ada di sekelilingku. Tapi mengapa Engkau memberiku laki-laki jahat dan tidak berperasaan seperti Heru, Tuhan? Dia benar-benar telah mencabik-cabik harga diriku. Aku bisa terima jika dia berselingkuh di belakangku namun yang tidak bisa aku terima adalah ketika dia mengolok-olokku dan merendahkanku di hadapan orang banyak. Apa salahku hingga dalam cerita hidupku pernah dipersunting oleh lelaki seperti Heru?"
Lingga mengacak rambut dan wajahnya kasar. Ia pun membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Dan menangis tergugu di sana. Melihat Lingga yang nampak larut dalam kesedihan itu menggerakkan langkah kaki Banyu untuk mendekat ke arah Lingga. Pemuda itupun duduk di samping Lingga.
"Menangislah jika memang dengan menangis bisa membuat perasaanmu lega. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi seorang wanita yang kuat hanya untuk menutupi hatimu yang sedang koyak. Namun setelah tangis ini berhenti dan air mata ini kering, berjanjilah bahwa kamu akan menjadi seorang wanita yang jauh lebih bahagia dari sebelumnya."
__ADS_1
Lingga mencoba untuk berhenti dari tangisnya. Namun tetap sulit rasanya. "Bagaimana bisa aku menjadi wanita yang jauh lebih bahagia jika harga diriku sudah diinjak-injak seperti itu. Dengan Heru mengungkapkan perihal ikan asin bukankah secara langsung dia telah menurunkan pasaranku?"
Banyu hanya bisa berdecak gemas mendengar perkataan Lingga ini. Wanita ini menyebut-nyebut istilah pasaran, dikiranya dia barang dagangan?
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku bahkan tidak perduli dengan ucapan yang dilontarkan oleh Heru perihal ikan asin itu."
Lingga menatap kedua netra Banyu. "Bagaimana bisa kamu yakin?"
Banyu hanya mengedikkan bahu. "Entahlah, aku merasa ada yang tidak beres dengan Heru."
"Ya, aneh saja. Aku malah beranggapan bahwa Ningrum memakai sesuatu yang tidak baik. Semacam guna-guna. Jadi ketika Heru ingin berhubungan dengamu, ia selalu mencium aroma ikan asin itu."
Lingga terlihat mencerna ucapan Banyu. Ia mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda bahwa apa yang diucapkan oleh pemuda ini memang masuk akal. Ya, Ningrum sanggup melakukan apapun termasuk melakukan hal-hal seperti itu.
"Tapi daripada kita tenggelam dalam spekulasi-spekulasi itu, bagaimana kalau kita buktikan saja?" tanya Banyu yang semakin membuat Lingga mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Buktikan? Maksudnya?"
Senyum seringai terbit di bibir Banyu. Ia tatap netra milik wanita ini dalam-dalam. "Aku akan menciumnya secara langsung. Sehingga bisa aku buktikan memang benar bau ikan asin atau tidak!"
Pletaakkkk....
"Adududduuduu.... sakit, Lingga!!"
"Dasar wong gemblung!!! Usulan macam apa itu!!!" seru Lingga setelah menjitak kepala Banyu. Dan tetiba ubun-ubun wanita itu mengeluarkan kepulan asap pertanda ia sudah kemasukan reog. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
.
.
. bersambung...
__ADS_1