Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-

Jamu Gendong -Janda Muda Gebetan Brondong-
Bab 59. Bertemu


__ADS_3


Bagaimanapun juga tujuan mendaki adalah pulang, bukan puncak. Karena puncak hanyalah nilai plus yang diberikan oleh Tuhan.


\*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\*\*\* \*\*\*\*\*\*\*\*


Sebuah mobil tipe SUV wana putih berhenti tepat di parkiran pos Bambangan. Satu per satu penumpang mobil itu turun dan sejenak menghirup udara dalam-dalam dan mereka hembuskan perlahan. Membuang rasa lelah setelah berada di dalam perjalanan selama empat puluh menit.


Dari tempat mereka saat ini, nampak gunung Slamet yang berdiri gagah. Di atas puncak nampak awan putih yang melingkar dan membentuk sebuah caping. Sungguh menjadi sajian indah yang memanjakan netra. Udara khas pegunungan yang terasa begitu sejuk dan menyegarkan seakan membuat siapa saja betah untuk berlama-lama berada di sini.


"Lebih baik, kita segera datang ke pos penjagaan Pa. Mama benar-benar sudah tidak sabar untuk mencari informasi keberadaan Banyu di jalur pendakian via pos Bambangan ini!"


Kinanti seakan sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan penanggung jawab pos ini. Jalan dan upaya terakhir yang ia lakukan untuk bisa menemukan keberadaan sang anak dengan pasti. Bahkan wanita itu mulai melenggang, meninggalkan suami dan rombongannya.


"Tunggu Ma, pelan-pelan saja. Jangan tergesa-gesa seperti itu!"


"Mama sudah tidak sabar Pa!"


Herlambang, Pandu, Villia, dan Aldo nampak saling melempar pandangan. Dari kelima orang itu memang Kinanti yang nampak jauh lebih bersemangat dari yang lainnya. Wanita paruh baya itu masih memiliki keyakinan kuat bahwa keberadaan Banyu bisa ditemukannya. Keyakinan itulah yang membuat Herlambang dan Pandu bertambah bersemangat mencari Banyu meski terkadang muncul rasa ingin menyerah.


Pada akhirnya, mereka tiba di pos penjagaan pertama di mana biasanya para pendaki melakukan registrasi untuk memulai pendakian. Beberapa kelompok pendaki terlihat sedang mengantre untuk melakukan registrasi. Pemandangan para pendaki yang berlalu lalang inilah yang membuat hati Kinanti serasa begitu berdenyut nyeri. Ia teringat akan terakhir kali Banyu berpamitan untuk melakukan pendakian.


"Sudah Ma, jangan terlalu larut dalam kesedihan itu. Ini adalah upaya terakhir kita. Semoga membuahkan hasil," ujar Pandu sembari mengusap bulir bening yang menetes dari pelupuk mata sang mama.


"Entah mengapa Mama merasakan keberadaan adikmu di sekitar sini Ndu. Mama merasakan dia ada di sini. Entah nyata atau tidak, namun Mama benar-benar merasakannya."

__ADS_1


"Sudah Ma, lebih baik kita semua duduk di pendopo itu sambil menunggu petugas pos penjagaan ini selesai bertugas. Kita ke sana ya Ma."


Rombongan Kinanti menuju ke sebuah bangunan yang hampir mirip dengan pendopo kecil yang berada di tempat ini. Mereka duduk-duduk santai sambil menunggu petugas pos penjagaan itu selesai bertugas.


"Selamat datang Bapak, Ibu, apa ada yang bisa saya bantu?"


Tak perlu menunggu waktu yang lama, rombongan Kinanti sudah disambut oleh salah seorang petugas pos penjagaan. Lelaki itu nampak begitu ramah dalam menyambut keberadaan Kinanti dan rombongannya ini.


Herlambang beranjak dari posisi duduknya. Ia mendekat ke. arah petugas pos penjagaan ini. "Pak, saya memerlukan beberapa informasi, bisakah kita bicara sambil duduk di sana?"


Herlambang mempersilakan petugas ini untuk duduk di tengah-tengah keluarganya. Rasanya sangat tidak pantas jika ia membiarkan petugas ini berdiri sedangkan ia dan lainnya duduk-duduk santai.


"Oh bisa Pak."


"Terima kasih Pak."


"Baiklah Pak Herlambang, jadi apa yang bisa saya bantu?"


"Begini Pak, saya ingin bertanya apakah ada pendaki hilang yang ditemukan di pos ini? Kebetulan anak saya hilang dalam pendakian sejak dua bulan lalu dan sampai sekarang belum juga ditemukan."


"Pendaki yang hilang? Saya rasa tidak ada Pak, karena sejauh ini para pendaki yang melakukan pendakian via Bambangan semua bisa turun dengan selamat. Dan tidak ada laporan pendaki yang hilang."


"Bukan, bukan begitu maksud saya Pak. Anak saya memang tidak mendaki via Bambangan ini tetapi via Guci. Namun apakah ada sebuah kabar bahwa ada pendaki yang ditemukan di jalur Bambangan ini?"


Dahi si petugas sedikit mengerut. "Mendaki via Guci dan ditemukan via Bambangan? Sepertinya itu sangat tidak mungkin Pak. Karena letak Guci dan Bambangan cukup jauh. Apa mungkin anak Bapak tersesat sejauh itu?"

__ADS_1


Herlambang membuang napas sedikit kasar. Ucapan petugas pos penjagaan ini seakan kian memupus keyakinannya. "Mungkin memang tidak masuk akal tapi ini merupakan upaya terakhir kami untuk mencari keberadaan putra kami, Pak."


Ada rasa iba yang terselip di dasar hati si petugas pos penjagaan ini ketika melihat rona pupus harapan yang terlukis jelas di raut wajah orang-orang ini. Kasus pendaki yang hilang, sampai saat ini memang masih menjadi momok tersendiri bagi para pendaki yang melakukan pendakian.


Sedikit larut dalam rasa iba, tiba-tiba saja si petugas pos penjagaan teringat akan satu hal. Di mana, di dua minggu yang lalu ia pernah kedatangan seseorang yang tinggal di kaki gunung yang bercerita tentang ada pendaki yang ditemukan tak jauh dari tempat tinggalnya.


"Sebentar, sebentar Pak. Sepertinya dua minggu yang lalu, ada seseorang yang datang kemari dan ia bercerita bahwa ia menemukan seorang pendaki yang berada di dekat tempat tinggalnya. Apakah mungkin orang itu adalah putra Bapak yang hilang?"


Semua orang yang berada di tempat ini sama-sama terperangah. Semangat yang sebelumnya meredup dan bahkan pupus kini kembali bergelora. Perkataan si petugas pos penjagaan ini seperti setetes bensin yang berhasil mengobarkan api optimisme yang berada di dalam dada.


"Benarkah itu Pak? Lalu di mana orang itu sekarang Pak? Di mana ia tinggal? Bisakah Bapak mengantarkan kami?" ucap Kinanti dengan raut wajah penuh harap.


Si petugas pos penjagaan menganggukkan kepala. Ia ingat masih menyimpan alamat rumah yang diberikan oleh orang itu. "Bisa Pak. Saya bisa mengantarkannya. Tunggu sebentar, biar saya ambil alamat yang ditinggalkan oleh orang itu."


Si petugas pos penjagaan beranjak dari posisi duduknya. Ia bermaksud kembali ke pos untuk mengambil secarik kertas yang ditinggalkan oleh orang itu. Namun baru tiga langkah ia mengayunkan tungkai kakinya tiba-tiba pandangan mata petugas itu tertuju pada seseorang yang dari kejauhan berjalan ke arah pos.


"Saya rasa kita tidak perlu mendatanginya, Pak, Bu. Karena orang yang saya maksud sudah berada di sini. Itu mereka!" ucap si petugas pos penjagaan ke arah dua orang yang berjalan ke arahnya.


Sorot mata Kinanti, Herlambang, Pandu, Villia dan Aldo sama-sama mengikuti ke mana arah jari telunjuk si petugas mengarah. Kelima orang itu sama-sama terperangah dengan bibir menganga lebar dan kedua bola mata terbelalak dan membulat sempurna. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Banyuuu!!!!!!!!!!"


.


.

__ADS_1


. bersambung....


__ADS_2