
Tangis Evi pecah ketika melihat kondisi Januar saat ini begitu memperhatikan. Berbagai alat alat medis menempel ditubuhnya. Apalagi dia tahu saat ini Januar mengalami koma.
Evi mendekat ke arah branker yang ditempati oleh Januar. Dia mengelus wajah pucat pria itu. Dia melihat alat-alat medis yang menempel di tubuh Januar. Air matanya menetes. Ia tidak dapat membendung air matanya. Jika saja itu di luar ruang ISU, mungkin Evi akan menjerit histeris melihat kondisi lelaki yang selama ini jahil dan juga mencintainya kini tidak berdaya.
"Sayang ayo bangun, kamu sudah janji kepadaku akan menikahi aku. Kenapa kamu hukum aku seperti ini, aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu sedikitpun. Hanya saja aku tidak ingin pernikahan kita tidak direstui oleh Mama kamu,"
" Tapi jujur, aku sangat mencintaimu. Ayo bangun Sayang, demi aku dan demi orang-orang yang mencintai kamu. Please... jangan hukum aku seperti ini. Aku minta maaf kepadamu, atas sikapku yang selama ini yang terlalu cuek kepadamu,"
"Tapi, apa kamu tahu di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, Aku sangat mencintaimu. Ketika aku mendengar dari kak Tamara, mengenai kejadian yang menimpa kamu, aku memohon dan bersujud kepada adik-adik angkat ku, agar mereka bersedia mendonorkan darahnya kepada kamu. Berharap kamu dapat bertahan sayang. Bukan aku tidak mau langsung datang ke sini, tapi aku tidak ingin kedatanganku mengundang masalah." mohon Evi.
Tangis Evi makin pecah, karena sama sekali tidak ada respon dari Januar. "Kalau kamu marah kepadaku marah lah sekarang. Aku tidak apa-apa jika kamu menamparku, asalkan kamu membuka matamu kembali. Tolong please..... demi aku, bangun, bangun sayang!!!! mohon Evi sambil terus mengecup punggung tangan pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku, apa yang harus aku lakukan agar kamu membuka matamu kembali. Please!!! bantu aku saat ini. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika kamu tidak membuka matamu."air mata wanita itu semakin deras bercucuran di wajah cantiknya.
Salah satu suster datang menghampiri Evi. karena waktu besuk sudah habis. Sehingga suster itu pun meminta kepada Evi untuk segera meninggalkan ruangan itu.
"Maaf mbak, jam besuk sudah selesai di ruang ICU, tolong tinggalkan ruangan ini sekarang juga."ucap suster yang bertugas di bagian ruang ICU.
__ADS_1
Aku mohon suster, biarkan aku menemani pria ini di sini. Aku tidak ingin meninggalkan dirinya sedikitpun, Evi bersujud di kaki suster itu berharap suster itu membiarkannya lebih lama bersama Januar di ruang ISU itu.
"Maaf mbak, ini sudah menjadi peraturan di rumah sakit ini. Waktu besuk sudah selesai, tolong tinggalkan tempat ini."ujar suster itu sambil terus memeriksa jarum infus dan alat-alat medis yang terpasang di tubuh Januar.
Lagi lagi Evi bersujud di kaki suster itu, agar suster itu membiarkannya lebih lama berada di ruang ISU. Karena merasa tidak tega, akhirnya suster itu memberikan waktu lagi kepada Evi.
"Sayang, aku tidak ingin meninggalkan ruangan ini sebelum kamu benar-benar membuka mata kamu." ucap Evi sambil memberikan kecupan hangat di bibir pria itu. "I love you my husband."aku sudah menganggap mu suamiku. Apakah kamu ingin membiarkan istrimu merana seperti ini? Ayo kamu harus bangun please demi aku sayang."mohon Evi air matanya terus menetes sampai tidak terasa air mata itu membasahi bibir januar yang sudah mengering.
Tiba-tiba, mata Januar terbuka membuat Evi benar-benar merasa bahagia. "Alhamdulillah kamu bangun sayang? sambil langsung menekan tombol yang ada di ruangan itu agar dokter dan suster segera datang untuk memeriksa kondisi Januari saat ini. Evi terus membubuhi wajah pucat Januar kecupan demi kecupan. Karena dia merasa bahagia kini lelaki yang ia cintai kembali lagi.
Nyonya Riana yang mendengar dokter dan suster berhamburan masuk ke ruang ICU langsung merasa panik. Ia Pun mengikuti suster masuk ke ruang ICU. Melihat putranya saat ini sudah mulai membuka matanya Nyonya Raina merasa bahagia.
Tiba-tiba saja ke hal yang tak terduga terjadi. kondisi Januar kembali drop. Tiba-tiba saja mata Januar kembali tertutup. Denyut nadi Januar kembali melemah. Membuat Nyonya murni menjadi panik kembali.
"Ayo Buka matamu Nak, ini mama." teriak Nyonya Raina. sementara' Tuan Baskoro terus menangis sesungguhkan. kini garis yang ada di monitor, alat yang tersambung untuk melihat denyut jantung Januar masih berdetak normal, kini sudah lurus. Itu artinya Januar sudah tidak ada lagi.
Tangis Evi semakin pecah, ketika dokter mengatakan kalau Januar saat ini sudah tiada.
__ADS_1
"Maaf Pak, Bu, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Allah berkehendak lain, putra bapak dan ibu sudah tidak ada."ucap dokter itu kepada Nyonya Raina dan Tuan Baskoro.
"Tidak mungkin, tidak mungkin....." teriak Nyonya Raina sambil mengguncang tubuh Januar.
Tangis Tuan Baskoro semakin pecah, Kini dia sudah semakin tidak berdaya, putranya yang ia banggakan selama ini kini sudah tidak ada lagi.
"Kamu membohongiku, kamu bilang akan tetap berjuang untukku demi Cinta Kita. Tapi apa yang kamu lakukan Kamu membuat aku seperti ini. Ayo bangun, kamu mengingkari janjimu. Kamu sudah janji kita akan hidup bersama untuk selamanya. Tapi kenapa kamu pergi seperti ini. Itu berarti kamu sama sekali tidak mencintaiku. Karena kamu membiarkanku sedih seperti ini dengan kepergianmu. Kalau kamu memang mencintaiku kamu harus bangun, Aku tidak ingin seperti ini please!!!! aku mohon." tangis Evi sejadi-jadinya sambil mengguncang-guncang tubuh Januar.
Evi memohon kepada dokter dan suster yang bertugas di sana untuk melakukan tindakan."Tolong dokter, suster, melakukan sesuatu. Bila penting, melakukan pemicu denyut jantung."ujar Evi memohon kepada dokter dan suster yang ada di sana. Dokter itu pun menganggukkan kepalanya. Dan meminta agar Tuan Baskoro dan nyonya Raina keluar dari ruangan itu. Sementara Evi, memohon kepada suster dan dokter itu akan tetap membiarkannya di ruangan itu.
Dengan terpaksa Nyonya Raina dan Tuan Baskoro, kembali meninggalkan putranya. "Ayo Sayang, kamu harus bangun, kamu harus kuat. Kalau kamu benar-benar mencintaiku. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi dan akan memperjuangkan Cinta Kita." ucap Evi tepat di telinga pria itu.
Beberapa kali dokter dan suster melakukan alat setrum pemicu jantung, berharap dengan cara demikian Januari dapat kembali. sekali dua kali masih gagal. Kembali dokter dan suster melakukan pemacu jantung itu. Tangan Evi terus menggenggam erat tangan Januar. Dia masih belum percaya kalau lelaki yang mencintainya pergi begitu cepat.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
__ADS_1
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN