Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 44. KEBIASAAN


__ADS_3

Keesokan paginya Alven memilih untuk tidak masuk kantor. Karena kepalanya sangat pusing akibat pengaruh alkohol yang terlalu banyak ia minum malam tadi.


Saat ini dia sudah tiba di rumah yang selama ini ditempati oleh Alven dan juga Soraya. Dia berjalan sempoyongan. Pengaruh alkohol yang ia minum malam itu belum sepenuhnya hilang.


Soraya mendengar suara ketukan pintu. Yang di ketuk oleh Alven. Soraya yang dilanda gundah gulana malas bangkit dari tempat duduknya. Tapi karena ketukan pintu itu mengganggunya dan tak kunjung berhenti mengetuk pintu, sehingga mau tidak mau Soraya bangkit dari tempat duduknya.


Soraya berjalan berniat membuka pintu. Tetapi sebelumnya ia mengintip dari kaca nako di samping pintu utama. Ia melihat Alven yang datang.


Emosinya seketika memuncak. Dia membuka pintu dengan kasar. Dengan berkacak pinggang, Ia pun membentak Alven yang baru tiba di rumah. Belum juga Alven masuk ke rumah, tetapi suara makian dari Soraya membuat Alven pun ikutan emosi.


"Suami baru datang bukannya disambut malah membuat semakin kesal!"gerutu Alven sambil langsung masuk ke dalam rumah, lalu membuka pintu kamar tamu menguncinya rapat-rapat.


Alven tidak ingin berdebat dengan Soraya. karena saat ini Soraya sedang hamil. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Lebih baik ia menghindar daripada terus perang mulut. dengan sang istri.


Soraya semakin kesal ditinggal begitu saja oleh Alven masuk ke dalam kamar. Parahnya lagi, Alven tidak masuk ke kamar utama. Dia justru masuk ke kamar tamu. Apalagi Alven mengunci pintu kamar tamu.


Sementara di tempat lain tepatnya di kantor Aditama group, Januar masuk ke ruang kerja Regen. Meminta penjelasan dari Regen Bagaimana saat Tamara di rumah utama keluarga Aditama.


"Bagaimana bos, apa semuanya berjalan dengan lancar? tanya Januar yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja sang Bos.


"Kamu kebiasaan deh, kalau mau masuk ke ruangan Ku, tidak pernah mengetuk pintu. ucap Regen. Karena kedatangan Januar mengganggu lamunannya, yang saat ini dirinya membayangkan kebersamaannya dengan Tamara di masa depan.

__ADS_1


"Bos sensitif sekali sih, biasanya juga aku tidak pernah mengetuk pintu ke ruang kerja bos." ucap Januar tidak merasa bersalah. karena memang sudah biasa bagi Januar masuk ke ruang kerja Regen yang merupakan Bos sekaligus sahabatnya itu, tanpa mengetuk pintu.


"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri mengetuk pintu terlebih dahulu." hardik Regen


"Bos ada apa sih, apa ada sesuatu yang Bos pikirkan? tanya Januar kepada Regen.


"Tentu saja ada, Apa kamu tahu Tamara belum membuka hatinya untuk menerima aku? Tapi aku tidak bisa memaksa, karena aku sangat tahu sekali bagaimana sakitnya dikhianati oleh pasangan kita.


Setelah kita mendapatkan Pengkhianatan dari pasangan, sulit bagi kita untuk menerima orang lain.


Januar hanya manggut-manggut. "Bos tenang saja, serahkan urusan ini kepadaku dan juga Evi. Kita berdua ahlinya. Tak akan lama lagi Kalau bos bersedia akan segera menikah dengan Tamara." ucap Januar penuh dengan keyakinan.


"Jangan sok tahu kamu,kamu pikir saya percaya begitu saja kepadamu. Wanita seperti Tamara tidak mudah jatuh cinta dan mudah ditaklukkan."ucap Regen sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudah, bos tenang saja. Duduk santai, tidak perlu dipikirkan. Biarkan aku dan Evi yang akan melakukan sesuatu yang mampu membuat Tamara tidak akan menolak lamaran Pak Bos." ucap Januar sambil mengembangkan senyumnya membuat Regen pun mengerutkan kening.


"Ah terserah kamu aja. Bicara sama kamu sama saja tidak ada putus-putusnya. Sudah, kamu ada apa datang ke ruanganku? apa ada sesuatu yang penting?" tanya Regen kepada Januar.


"Ini lebih penting dari yang lainnya. Aku datang ke sini hanya untuk menanyakan bagaimana perkembangan hubungan Pak Bos dengan Tamara. Tapi Pak Bos kurang pandai menaklukkan seorang wanita. Lihat saja aku dan Evi, pasti akan berhasil." ucapnya percaya diri.


"Kamu keluar saja. Aku mau kerja, kalau bicara terus kapan kelarnya ini pekerjaan." gerutu Regen sembari meminta kepada Januar untuk segera meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Pak bos tenang saja. Aku akan keluar dari ruang kerja bos. Tapi jangan terus melamun dan membayangkan wajah cantik Tamara. Karena itu bisa mengakibatkan fatal. Bisa-bisa untuk menandatangani satu berkas aja, nama Tamara yang bos tuliskan." ucap Januar sambil terkekeh. Lalu ia berjalan keluar meninggalkan Regen di ruang kerjanya


Regen menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat dan juga asistennya itu. Setelah keluar dari ruang kerja Regen, Januar bukan langsung ke ruang kerjanya. Malah ia menghampiri Evi di ruang kerjanya.


Januar menceritakan kepada Evi Apa yang dikatakan oleh Regen kepadanya. Membuat Evi pun sedikit terkekeh, karena apa? karna dia sudah mengetahui kalau Tamara akan menolak Tuan Regen.


Tetapi Evi akan berusaha. Dia tidak akan putus asa untuk mempersatukan Tamara dengan Regen. Karena menurut Evi, Regen lah yang pantas mendampingi Tamara sampai maut memisahkan.


"Aku yakin, kita mampu mempersatukan Tuan Regen dengan Tamara." ucap Januar dengan penuh keyakinan.


Evi terkekeh. "Sebegitu antusiasnya kamu mempersatukan Tuan Regen dan Tamara?" ucap Evi.


"Ya, iyalah daripada Tuan Regen menikah dengan wanita lain, lebih bagus menikah dengan Tamara. Di samping untuk misi kita agar Alven menyesal meninggalkan Tamara, Aku juga ingin melihat kehidupan sahabatku, alias Pak Bos hidup bahagia dengan wanita yang ia cintai.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2