Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 53. MENCURI HATI CIA


__ADS_3

Jam kerja telah usai, semua berkas yang harus ditandatangani oleh Regen hari ini sudah ia tanda tangani. Regen melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 05.00 sore.


Cepat-cepat Regen bangkit dari tempat duduknya. Sudah tidak sabar lagi Ingin bertemu dengan wanita pujaan hatinya. Dan juga bocah kecil yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


Regen kembali menggunakan jas yang sengaja ia gantung di belakang kursi kerjanya. Kemudian ia meraih ponsel yang ada di atas meja. Lalu memasukkannya ke saku celananya.


Mario yang sudah bersiap di depan kantor, sudah menunggu Regen. Karena sebelumnya Regen sudah menghubungi Mario, agar bersiap-siap untuk segera menghantarkan Regen ke rumah sakit, dimana dia dirawat.


Regen melangkah masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Dari kejauhan Alven memperhatikan Regen buru-buru masuk ke dalam lift. Sementara Januar juga memperhatikan gerak-gerik Alven yang menatap Regen dengan serius.


Setelah Regen berada di loby kantor, Ia langsung berjalan keluar karena melihat mobil yang dikendarai Mario sudah ada di depan kantor untuk menjemputnya.


Mario membuka pintu mobil, lalu Regen masuk ke dalam, dan setelah memastikan Regen duduk dengan nyaman, Mario melajukan mobil yang ia kendarai ke arah jalan raya.


"Maaf Tuan, kita langsung pulang ke rumah, apa ke rumah sakit dulu? tanya Mario hati-hati takut kena semprot oleh bosnya.


"Kita langsung ke rumah sakit, tadi Sebelumnya saya sudah katakan Mengapa kamu bertanya lagi? eh tapi iya, kita singgah dulu di toko boneka, saya mau beli boneka untuk putri saya." jawab Regen yang membuat Mario langsung terdiam.


Mario mengarahkan mobil yang ia kendarai menuju Toko boneka. Tanpa menunggu Mario membukakan pintu mobil untuknya. Regen langsung turun dari mobil dan melangkah masuk ke toko boneka itu.


Kemudian ia langsung memilih boneka beruang kesukaan Cia. Setelah memilih boneka beruang yang berukuran besar itu, Regen berlalu meninggalkan toko boneka itu.


Kemudian ia masuk ke toko bunga, yang ada di sebelah toko boneka itu, yang sebelumnya ia sudah memesan buket bunga untuk dia berikan kepada Tamara.


Regen keluar dari toko bunga itu, dan membawa bunga itu masuk ke dalam mobil, lalu meminta kepada Mario untuk melajukan mobilnya ke arah restoran. Sebelumnya Regen sudah memesan menu makanan melalui layar ponselnya untuk dibawa ke rumah sakit.


Berharap Cia dan Tamara makan dengan lahap. Mengingat menu makanan yang disediakan di rumah sakit. Ia kurang berselera.


Pihak restoran yang sudah mendapatkan pesanan dari Regen, sudah menyiapkan menu makanan itu sebelumnya. Dan setelah mereka tiba di sana, Mario keluar dari dalam mobil. Lalu menghampiri kasir untuk mengambil pesanan.


Kemudian ia kembali lagi masuk ke dalam mobil dan ia melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Tampa Regen tersenyum di sepanjang perjalanan, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Tamara wanita yang mampu memporak porandakan hatinya.

__ADS_1


Tanpa Regen sadari, mobil Alven mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Regen. saat Regen dan Mario tiba di rumah sakit, Mario langsung memarkirkan mobil di parkiran Rumah Sakit, lalu membuka pintu mobil untuk sang Bos.


Senyum sumringah terpancar di wajah Regen, saat dirinya sudah turun dari dalam mobil. Ia melangkah dengan cepat, masuk ke dalam rumah sakit menelusuri trotoar Rumah Sakit, menuju ruang rawat inap Cia saat ini.


Kini Regen sudah tiba di depan pintu ruang rawat inap Cia, Regen menghela nafas panjang, kemudian ia mengetuk pintu.


Tamara bangkit dari tempat duduknya yang sebelumnya dirinya duduk tepat di samping branker menemani Cia ngobrol sembari menyuapi Cia memakan buah yang ia kupas sebelumnya.


Tamara membuka pintu ruang rawat inap Cia. Ia melihat kehadiran Regen dengan Senyum sumringah, membawa buket bunga dan boneka. Begitu juga dengan makanan yang ditenteng oleh Mario di belakang Regen.


"Assalamualaikum!" sapa Regen


"Waalaikumsalam." sahut Tamara


"Mas, sudah pulang? Tanya Tamara sambil tersenyum tipis. Tamara memberi salam kepada Regen. Regen memberikan buket bunga untuk Tamara. Tamara menerima buket bunga itu dengan senyum manis. Membuat pria bertubuh kekar itu semakin terpesona.


"Papa!! panggil Cia ketika Cia menyadari kehadiran Regen Disana.


"Putri papa yang cantik, Bagaimana keadaanmu saat ini apa sudah kebaikan?


Regen ingin memberikan boneka beruang yang berukuran besar kesukaan Cia. "sayang papa ada hadiah untuk kamu."


"Hadiah?


"Hadiah apa Pa?" tanya dia penasaran.


"Tara.....a..." Regen mengangkat boneka Beruang yang ia beli sebelumnya kepada Cia. membuat dia merasa bahagia mendapatkan hadiah dari Regen. Yang tak pernah didapatkannya dari ayah kandungnya.


"Ya Allah, justru yang bukan Ayah kandungmu saja Nak, menyayangi kamu dengan tulus. tapi ayah kandung kamu sama sekali tidak peduli. " gumam Tamara dalam hati.


Tamara menatap Regen dan Cia secara bergantian. Keduanya asik ngobrol bersama. hati Tamara menghangat melihat kedekatan keduanya.

__ADS_1


"Sayang kita makan yuk, pasti kamu belum makan kan?" tebak Regen .


"Kok Mas tau?


"Ya, Taulah. Pasti kamu nungguin Mas makan kan?" ucap Regen. Seketika Tamara mengalihkan pandangannya, untuk menutupi wajahnya yang merona.


"Sudah, kalau memang sayang, tunjukkan saja kasih sayang kamu kepada Mas sayang, ngak perlu malu seperti itu." ucap Regen


"Tau, ah! sekarang mau makan atau mau ngelawak nih?" kesal Tamara


"Jangan ngambek, sayang. Nanti cantiknya berkurang." ujar Regen membuat Tamara tersenyum tipis.


Keduanya duduk di sofa, Tamara membuka kotak makanan yang sudah terletak di atas meja. Dengan teladan Tamara menghidangkan menu makanan yang dibawa oleh Regen sebelumnya. Regen dan Tamara menikmati makan malam itu. Sementara dia hanya mengembangkan senyumnya melihat kedekatan reagen dengan Tamara.


"Beneran gak mau makan lagi Sayang?"tanya Tamara kepada Cia.


"Enggak lah mah dia sudah sangat kenyang. Sudah makan, makan buah lagi, terus minum susu." lama lama baru Cia membuncit." ucap dia sambil terkekeh.


Mereka bertiga pun tertawa, mendengar jawaban bocah kecil itu. setelah selesai menyantap menu makan malam itu, Regen kembali menghampiri Cia. entah apa yang mereka obrolkan, Tamara memilih untuk membiarkan keduanya ngobrol dan bercanda bersama.


Sementara Tamara sibuk membereskan bekas makan mereka, dan membuang sampah, ke tong sampah medis yang tersedia di depan ruang ruang rawat Cia.


Sementara Alven yang tadinya mengikuti Regen hingga sampai kerumah sakit, ia hampir saja ketahuan Tamara saat sedang membuang sampah ke tong sampah yang ada di luar ruangan.


"Hampir saja ketahuan!" gumam Alven sambil mengelus dadanya.


Rasanya ia tidak terima kalau Regen dan Tamara begitu dekat. Apalah Regen saat ini, sepertinya berusaha untuk mencuri hati Cia juga.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2