Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 144. TANGISAN SEORANG IBU


__ADS_3

Tamara melihat puing-puing bekas, rumah mereka yang sudah hangus terbakar. Dia kembali menangis begitu banyak kenangan yang ia lalui bersama keluarga di rumah itu. kini tinggal kenangan saja.


Sang ayah merenggang nyawa, dengan musibah yang menimpa keluarga mereka.


"Sebenarnya bagaimana bisa terjadi seperti ini pak RT? tanya Tamara dan juga bikin kepada RT di mana lingkungan tempat tinggal kedua orang tua Tamara.


Kemudian Pak RT menceritakan kepada Regen dan juga Tamara, kejadian yang sebenarnya hingga membuat rumah milik kedua orang tua Tamara hangus terbakar.


Bukan cuma keluarga Tamara yang menjadi korban, tetapi tetangga Pak suyatno juga ikut menjadi korban. Dua anak dan suaminya meninggal akibat kebakaran itu. Yang paling sedihnya lagi, jenazah tetangga mereka sudah tak bisa dikenali karena memang benar benar sudah menjadi abu.


Api bermula dari rumah tetangga pak suyatno. Tetapi karena kejadiannya tengah malam, hingga orang-orang tidak mengetahui kalau rumah mereka sudah terbakar. apalagi Pak suyatno dan ibu Sumiati saat itu masih terasa tidur, membuat Pak suyatno tidak dapat menyelamatkan diri. Karena Pak suyatno lebih dulu menyelamatkan sang istri ibu Sumiati.


***


Tiga hari setelah kepergian Pak suyatno, kondisi Ibu Sumiati sudah mulai stabil. tetapi terlihat Ibu Sumiati sama sekali tidak bersemangat. Dia sangat sedih membayangkan Bagaimana pak suyatno menyelamatkan nyawanya, tanpa peduli dengan keselamatan nyawanya sendiri.


Membuat Ibu Sumiati kembali menangis membayangkan wajah suaminya. Apalagi Ibu Sumiati tidak dapat mengantarkan Pak suyatno ke tempat peristirahatannya terakhir. karena kondisinya saat itu semakin drop. bahkan sampai tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ibu Sumiati memohon kepada Tamara dan Regen, agar segera menghantarkan dirinya ke makam sang suami. sebenarnya Tamara dan Regen kau mengkhawatirkan kondisi Ibu Sumiati. Tapi mereka akan lebih khawatir, jika Ibu Sumiati terus menangis karena tidak melihat makam sang suami.


Dengan persetujuan dari dokter, dan didampingi oleh dokter dan suster juga, akhirnya Regen dan Tamara membawa Ibu Sumiati ke makam Pak suyatno.


Saat sudah tiba di sana, Ibu Sumiati menang histeris mengusap batu nisan sang suami.


"Ayah, Mengapa ayah tidak meninggalkan Ibu sendirian?


"Ayah, seharusnya Ayah tidak menyelamatkan Ibu terlebih dahulu. Kenapa ayah melakukan itu semua?"tangis Ibu Sumiati sembari terus mengusap batu nisan sang suami.


Tamara tidak dapat membendung air matanya, Begitu juga dengan Regen.


Kurang lebih satu jam, Tamara, Ibu Sumiati dan Regen di makam Pak suyatno, akhirnya mereka kembali ke hotel di mana mereka menginap beberapa hari belakangan ini, selamat berada di kampung.


Keesokan harinya, Tamara dan keluarga besar Aditama kembali ke ibukota. Regen tidak ingin istrinya berlama-lama bersedih membuat dirinya langsung membawa Tamara pulang. "kita pulang sekarang."tidak bikin kepada tuan Aditama.


"Iya, lebih baik kita cepat pulang dari sini. Papa kasihan melihat ibu mertua dan istri kamu. lebih baik pengobatan ibu mertua kamu kita lanjutkan di Jakarta."ujar Tuan Aditama. karena tuan Aditama sangat kasihan oleh kondisi besarnya yang masih kondisi lemah. Apalagi dengan Tamara saat ini, yang terlihat masih sangat sedih dengan kepergian ayahnya dan musibah yang menimpa keluarganya.

__ADS_1


Segala sesuatu yang penting untuk kepulangan mereka ke Jakarta, telah dipersiapkan oleh asisten Tuan Aditama.


"Kita pulang sekarang Sayang, kita akan bawa Ibu ke Jakarta dan akan mendapat pengobatan di sana yang lebih canggih."ucapkan Aditama meminta istrinya agar mempersiapkan diri untuk pulang ke Jakarta.


Tamara menganggukkan kepalanya. Pertanda dirinya setuju Kalau merasa kembali ke Jakarta dan membawa Ibu Sumiati juga.


Baby Andika, sepertinya memahami kondisi Tamara saat ini yang lagi berkabung. tampaknya baby Andika masih terasa nyaman diasuh oleh babysitter yang dipulihkan regent khusus menjaga Andika. Begitu juga dengan Cia yang sangat memahami situasi.


"Ma, Jangan bersedih lagi. Kalau mama sedih dia juga ikut sedih."ujar Cia sambil menghapus air mata Tamara, yang mengalir di wajah cantiknya.


"Terima kasih sayang, kalian kekuatan mama."ucap Tamara sembari memberikan kecupan hangat di wajah cantik Cia, baru ia kembali berdiri menghampiri putranya baby Andika yang saat ini digendong oleh babysitter.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2