
"Nggak! serius, Kamu di mana sekarang?
"Di rumah lama Kak Tamara?
"Ngapain di sana?
"Kak Tamara meminta aku untuk sesekali datang ke rumah ini. Sekalian untuk membersihkannya. Bahkan Kak Tamara juga meminta aku untuk tinggal di sini, dan tidak perlu tinggal di apartemen lagi.
"Loh kok gitu?
"Kok gitu gimana? Ya, memang benar lah, apa yang dikatakan oleh kak Tamara. Kalau rumah ini tidak ditempati, otomatis rumah ini tidak akan terurus. Sementara jika apartemen yang tidak ditempati pasti selalu ada yang akan membersihkan."
"Hemmm..... jadi kamu setuju mau tinggal di sana?"
"Kenapa tidak? enak juga tinggal disini, orang-orang yang ada di sini ramah, Dan menganggap kita seperti keluarga mereka sendiri. Evi memberitahu.
"Sayang, aku jemput ya. Mama dan Papa ingin bertemu dengan kamu."
"Bertemu?
"Untuk apa, Pak?
"Sudah aku bilang jangan pernah manggil aku Pak, kalau di luar kantor, Kamu pikir aku bapak kamu!"gerutu Januar sementara Tuan Baskoro dan nyonya Raina hanya geleng-geleng kepala mendengar Januar dan Evi berbicara di dalam sambungan telepon seluler.
"Ya nggak enak juga, secara kan Bapak itu, atasan saya. Dan tidak mungkin juga aku memanggil nama. Karena usia kita jauh berbeda."
"Sayang, Mas serius nih. Mas jemput kamu ke sana sekarang, ya? Mama dan Papa ingin bertemu dengan kamu.
"Tapi Pak!
"Tapi apa?
"Aku nggak enak aja, Aku khawatir kalau orang tua Bapak tidak akan menerima kehadiranku di tengah-tengah keluarga Bapak. Yang jelas-jelas kita jauh berbeda.
"Jangan banyak alasan Ini dan itu. Sekarang kamu siap-siap, sepuluh menit dari sekarang aku sampai disana jemput kamu." titah Januar sambil langsung memutuskan sambungan telepon selulernya dengan sepihak.
"CK... ini orang maunya apa, sih? kok maksa banget. Evi bermonolog sendiri.
ketika Januar sudah memutuskan sambungan telepon selulernya, Tuan Baskoro langsung tertawa ngakak melihat wajah putranya yang tak karuan.
__ADS_1
"Kenapa?
"Ditolak juga untuk menjemput?
"Ngak bisa, aku akan membawanya kehadapan Papa dan Mama."sahutnya sambil langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Januar masuk ke dalam kamar mandi, lalu ia membersihkan diri. Beberapa menit di dalam kamar mandi, Ia pun akhirnya menyelesaikan ritual mandinya. Dan saat ini dia sudah mengenakan baju santai dan penampilannya sudah terlihat tampan.
"Kamu mau kemana?
"Mau jemput Calon menantu Mama dan membawanya bertemu Papa dan Mama.
"Kok Mama dan papa nggak yakin ya. Kalau kamu bisa membawa Wanita itu ke rumah ini."ucap Nyonya Raina dan Tuan Baskoro bersama.
"Idih, suami istri kompak banget sih. Sepele lihat putranya sendiri. Kita lihat saja nanti, papa akan klepek-klepek melihat wanita yang akan menjadi menantu Papa dan Mama "Awas, ya Pa. Jaga mata dan jaga hati jika bertemu dengan calon istriku."ucap Januar sambil terkekeh yang langsung dibalas tatapan tajam dari Tuan Baskoro.
"Lama-lama mulut kamu Papa jahit juga. Nggak mungkin Papa mencintai orang lain. Mama kamu sudah nomor satu di hati papa." ucap Tuan Baskoro membuat Nyonya Raina mengembangkan senyumnya.
"Cie ileh...bilang aja karena di depan Mama Papa bilang Mama nomor satu. Kalau di luar mah, Januar sudah tahu kayak gimana." celetuk Januar yang mampu membuat Nyonya Raina menata Tuan Baskoro dengan tatapan tajam.
"Jadi papa ada bermain di luar sana! pekik Nyonya Raina.
"Mama kan, jago melayani Papa. nggak mungkin lah Papa mencari wanita lain lagi di luar sana. Kalau memang papa melakukan hal itu, pasti Januar akan menyembunyikannya tidak akan langsung mengumbarnya kepada Mama. Makanya pahami dulu Putra kita bercanda, atau tidak." ucap Tuan Baskoro yang kesal dituduh istrinya melakukan perselingkuhan di luaran sana.
Januar berpamitan kepada kedua orang tuanya. Rencananya sore ini ia akan mengajak Evi bertemu dengan kedua orang tuanya.
Januar masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia langsung melajukannya ke arah jalan raya menuju rumah sederhana yang selama ini ditempati Tamara, sebelum Tamara menikah dengan Regen Aditama.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya Januari tiba di sana. Dia Melihat rumah itu terbuka lebar itu pertanda Evi memang ada di sana. Tapi pintu gerbang rumah terkunci.
Januar beberapa kali membunyikan klaksonnya. Agar Evi keluar dari rumah. Saat klakson ketiga terdengar oleh Evi, Ia pun keluar dan melihat mobil Januar sudah terparkir di depan gerbang.
Evi berjalan terburu-buru membuka pintu gerbang itu. Kemudian mobil yang dikendarai oleh Januar pun memasuki pekarangan rumah.
"Pak Januar serius mau mempertemukan Evi dengan kedua orang tua Pak Januar?
"Iya, Memangnya kenapa?
"Tidak apa-apa, Pak. Tapi takutnya nanti kedua orang tua Pak Januar tidak akan menyukai kehadiran saya.
__ADS_1
"Kamu jangan berprasangka yang tidak tidak dulu. Kamu belum bertemu dengan mereka, sudah mengatakan seperti itu. Orang tua aku orangnya baik kok, kamu tenang saja."Januar meyakinkan Evi agar Evi bersedia bertemu dengan kedua orang tua Januar.
"Ya udah, kalau begitu aku siap-siap dulu ya. habis aku sudah jorok banget, soalnya dari tadi aku bersih-bersih rumah ini."
Evi pun langsung masuk ke kamar mandi berniat langsung membersihkan diri. Setelah selesai melakukan ritual mandinya. Ia pun memakai pakaian santai yang biasa ia pakai bepergian.
Evi keluar setelah melihat penampilannya sudah terlihat rapi, dan menurutnya dia tidak akan malu-maluin di hadapan kedua orang tua Januar.
"Sumpah! kamu cantik banget sayang." Puji Januar.
"Tolong kantongi dulu kata-kata sayang pak Januar itu, nanti aku jadi besar kepala. Sementara kedua orang tua Pak Januar sendiri belum tentu memberikan restu kepada aku yang menjadi pendamping hidup Pak Januar.
"Papi aku yakin, Papa dan Mama akan menerima kamu sebagai menantu mereka."
"Kita lihat saja nanti bagaimana respon mereka. Setelah mengetahui siapa Evi yang sebenarnya. Pasti mereka akan malu memiliki menantu seperti Evi, yang hanya tamatan SMA dan bekerja di perusahaan Tuan Regen Aditama.
"Sudah aku bilang, jangan berprasangka buruk dulu. Kalau kamu belum bertemu mereka.
"Ya udahlah, nggak apa-apa." sahutnya enteng.
Kemudian mereka pun meninggalkan rumah sederhana Tamara menuju rumah utama keluarga Baskoro.
"Pak! Jujur, Aku gugup. Takut nanti salah ngomong." ucap Evi jujur kepada Januar membuat Januar tertawa cengengesan.
"Memangnya kamu bisa gugup juga, Ya. tanyanya membuat Evi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Sepertinya Pak Januar cari masalah ya. Mana mungkin aku tidak gugup bertemu dengan orang tua Pak Januar. Sementara...."
"Sementara apa?" tanya Januar karena Evi tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ah, sudahlah! yang lain saja kita bahas. Lebih baik kita cepat-cepat, agar kedua orang tua kamu tidak terlalu lama menunggu." ujar Evi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1