Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 79.SAYA BUKAN SOPIR


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah mulai terbit di ufuk timur. Terlihat wanita cantik sudah terbangun dan Baru selesai melakukan ritual mandinya. Mengingat hari ini dia harus segera berangkat ke kantor lebih pagi. Karena pagi ini Evi akan mengadakan meeting bersama Januar dengan klien yang berasal dari luar kota. Untuk menggantikan posisi Regen Aditama.


Regen mempercayakan Januar menjalankan tugasnya sebagai wakil CEO ALC COMPANY. sementara Mario saat ini menggantikan tugas Januar. Tentulah Januar tidak dapat melakukannya sendiri, dia harus dibantu oleh Evi yang selama ini selalu membantu Regen untuk mengatur jadwal, dan juga bahan-bahan meeting yang akan dipresentasikan dengan Klien perusahaan.


Setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi dan cantik. Evi, mengambil tas sandang miliknya. Kemudian ia keluar dari dalam apartemennya masuk ke dalam lift berniat menuju langsung ke basement.


Saat sudah tiba di parkiran, ia langsung menghidupkan mesin mobil miliknya melajukannya ke arah jalan raya menuju ALC COMPANY.


Tampak Januar sudah menunggu kehadiran Evi di kantor.Januar sudah mondar-mandir di ruang kerjanya. Karena Evi belum juga sampai. Takut persiapan bahan meeting belum diselesaikan oleh Evi, sementara pagi ini mereka harus segera bertemu dengan klien.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit membelah jalanan ibukota yang lumayan macet, dengan sedikit ngebut akhirnya Evi tiba di ALC COMPANY.


Dengan langkah terburu-buru, ia langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.


Ting!


Suara lift terbuka tepat di lantai ruang kerja Evi dan Januar berada saat ini. Evi berjalan terburu-buru masuk ke ruang kerjanya. Ia memastikan berkas yang akan dipresentasikan kepada klien, sudah rangkum dan layak untuk dipresentasikan.


Sementara Januar yang sudah mondar-mandir di ruang kerjanya, kembali menghubungi nomor ponsel Evi yang sudah tadi sudah ia hubungi. Tapi tak kunjung diangkat Evi. Berhubung Evi sedang menyetir, dan ia tidak memperhatikan ponselnya yang bergetar.


Saat Evi mendengar suara getaran ponselnya, Ia pun langsung meraih ponsel itu, dan melihat di layar ponselnya kalau Januar yang menghubungi dirinya.


"Iya, Selamat pagi Pak Januar Ada yang bisa saya bantu?" tanya Evi formal.


"Kamu di mana? sepuluh menit lagi kita akan meeting bersama klien, Kamu ini gimana sih?


"Maaf Pak Januar, Saya sudah berada di ruang kerja saya. Saya akan segera menemui Bapak." ucap Evi sambil langsung memutuskan sambungan telepon selulernya dengan sepihak. Kemudian Evi membawa laptop, flash disk, iPad, dan juga file yang akan diperlukan saat meeting nanti.


Evi mengetuk pintu ruang kerja Januar.


Tok ...


Tok ..


Tok ....

__ADS_1


Suara ketukan pintu itu terdengar jelas di telinga Januar.


"Ya masuk!" teriak Januar


ceklek! sekali hentakan pintu langsung terbuka lebar. Evi yang sedikit kesulitan membawa file, laptop, iPad dan juga tas sandang miliknya masuk ke dalam ruang kerja Januar.


"Bagaimana bahan meeting kita pagi ini, Apa semuanya sudah rangkum?" tanya Januar penuh selidik.


"Pak Januar tidak perlu khawatir, Evi bertanggung jawab dengan kerja ini. Berkasnya tolong bapak periksa, Siapa tahu masih perlu revisi. Evi menyerahkan file, Begitu juga dengan laptop. Kemudian Januar memeriksanya, lalu ia menganggukkan kepalanya pertanda kinerja Evi memang bagus dan layak untuk dipresentasikan.


"Ya sudah, kalau begitu kita langsung berangkat sekarang. Aku tidak mau kalau klien kita akan terlalu lama menunggu."ucap Januar sembari langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia pun membawa laptop itu, karena ia melihat Evi sedikit kewalahan.


Setelah memasuki lift khusus petinggi perusahaan, keduanya tidak ada terlibat obrolan. Netra Januar terus melihat penampilan Evi yang menurutnya sangat cantik dan seksi. Padahal Evi memakai pakaian yang tertutup. Dia memakai kaos putih dan di luarnya blazer hitam dan Evi juga menggunakan rok span selutut dan sepertinya penampilan begitu mempesona di mata Januar.


Ting!


lift kembali terbuka. Ketika mereka sudah berada di lobby, Evi berjalan terburu-buru menuju mobil miliknya. Tapi tiba-tiba saja Januar menarik tangannya.


"Kamu mau kemana?


"Iya, mau ke mobil lah pak. Nggak mungkin saya jalan kaki ke sana.


Kita meeting bareng tentunya kita harus pergi barengan. Ayo naik ke mobil saya saja." ujar Januar yang langsung dibalas anggukan dari Evi, tanpa membantah. Karena jika ia membantah, dia tidak akan berhasil mengingat waktu saat ini sudah mepet.


Evi langsung duduk di bangku penumpang. sementara Januar duduk di bangku kemudi. Januari yang melihat Evi duduk di Bangku penumpang langsung menetapnya dengan tatapan tajam. "Kamu pikir saya sopir kamu? ucap Januar dengan nada yang meninggi.


Evi mengerutkan keningnya.


Memangnya siapa yang bilang bapak itu super saya?


"Kalau kamu tidak mengira saya sebagai sopir kamu, seharusnya kamu tidak duduk di situ. cepat maju ke depan, duduk di samping saya." ujar Januar yang langsung dibalas anggukan dari Evi.


"Cie illeh, bilang aja mau dekat-dekat. Ngak usah ngatain saya mengira Pak Januar sopir.


"Itu kamu tahu, ngapain kamu jauh-jauh dari saya."

__ADS_1


"Huhhhh...modus!"


"Terserah mau ngomong apa, yang penting aku ingin duduk bersama wanita yang sangat aku cintai.


"Cinta?


"Apa itu cinta?


"Nggak usah pura-pura tidak tahu. Jangan seperti anak kecil." ucap Januar kepada Evi.


"Loh, kan memang aku masih anak kecil dibandingkan Pak Januar."jawab Evi enteng tanpa merasa takut sedikitpun.


"Anak kecil tapi sudah bisa bikin anak."sahut Januar sambil terkekeh. Yang dibalas tatapan tajam dari Evi.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih Dua puluh menit, Mereka pun akhirnya tiba di sebuah Restoran. Mereka langsung masuk ke dalam restoran, takut mereka telat bertemu dengan klien.


Saat mereka sudah tiba di sana, belum ada seorang pun yang duduk di restoran itu, yang ada hanya beberapa pelayan yang lalu lalang membersihkan restoran itu.


Karena biasanya Cafe itu mulai buka jam sepuluh pagi. Padahal saat ini masih pukul sembilan pagi. Itu artinya masih memiliki waktu senggang satu jam lagi.


"Loh Pak Januar, kok sepi banget sih, nggak ada orang? bukankah Pak Januar sudah mengatakan meeting pagi ini pukul sembilan pagi?" tanya Evi penasaran.


"Maaf, baru saja klien kita mengirimkan pesan Whatsapp kalau mereka akan datang terlambat." ucap Januar enteng membuat Evi menjadi kesal. Padahal dirinya sudah buru-buru untuk segera mempersiapkan bahan meeting yang akan dipresentasikan Lagi ini.


"Ya sudah, sembari menunggu klien tiba di sini lebih baik kita sarapan dulu. Pasti kamu belum sarapan kan dari rumah?" ucap Januar menebak kalau saat ini Evi belum sarapan pagi.


"Ya udahlah daripada terpelongok di sini nggak ngapa-ngapain,mendingan sarapan aja." ucap Evi dengan Ketus. Kemudian Januar pun memanggil pelayan yang kebetulan berada di dekat mereka.


"Oh iya kamu mau pesan apa?


"Terserah, apa aja juga masuk. Asalkan jangan racun."sahut Evi lagi lagi ketus.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN. "DI BULLY KARNA OBESITAS"


__ADS_2