
Perdebatan antara Evi dan juga Januar, mengalihkan atensi seseorang yang ada di cafe itu. "Kalian tidak perlu berdebat, aku yakin kalian berdua jodoh."ucap seorang pria paruh baya yang sama sekali tidak dikenal oleh Evi Begitu juga dengan Januar. Setelah mengatakan itu, pria paruh baya itu langsung meninggalkan keduanya begitu saja.
"Pak Januar kenal Siapa bapak itu tadi? tanya Evi penasaran.
Januar menggelengkan kepalanya.
"Terus kalau Pak Januar tidak mengenal pria itu tadi, Mengapa tiba-tiba saja nyambar begitu."tanya Evi.
Januar hanya mengerikan bahunya. Dia juga bingung Siapa pria paru baya itu. kemudian Evi melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. "sudah jam 08.00 malam, lebih baik kita pulang, besok bekerja lagi."ucap Evi kepada Januar.
Karena Evi tidak membawa mobil fasilitas yang diberikan perusahaan kepadanya, sehingga Januar yang harus menghantarkan dirinya ke apartemen yang selama ini ia tempati.
"Kamu mau pulang ke mana?
"Memangnya rumah aku ada berapa Pak?
"Kamu ditanya kok malah balik bertanya?"ucap Januar.
"Lagian Pak Januar pertanyaannya aneh, eh bukan hanya tinggal di apartemen fasilitas dari kantor. Terus mau pulang ke mana lagi?"ucap Evi.
"Siapa tahu kamu mau pergi ke rumah pacar kamu."
"Baru saja Bapak mengatakan saya jomblo, kok ngomong aku punya pacar?"
"Siapa tahu kamu diam-diam sudah memiliki pacar."sahut Januar asal.
"Aku tidak ingin mencari pacar, Aku ingin langsung mencari suami kelak. Kalau pacaran itu bukan patokan jadi jodoh. Jadi bagiku buang-buang waktu pacaran, jika memang suka sama suka dan saling memahami mengapa tidak menikah langsung saja,"
"Banyak juga kok Yang aku lihat sudah lama pacaran tapi menikahnya sama orang lain
"Masa sih?
"Iya, buktinya Pak Januar sendiri. Pak Januar sendiri yang cerita Kalau Pak Januar sudah pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Bahkan sudah hampir 5 tahun lamanya menjalin hubungan, tapi akhirnya putus juga dan wanita itu menikah dengan orang lain."ucap Evi yang mampu membuat Januar langsung terdiam.
Januar langsung melajukan mobil yang ia kendarai menuju apartemen yang ditempati oleh Evi. Sekitar 20 menit kemudian, membelah jalanan ibukota akhirnya mobil yang dikendarai oleh Januar tiba di sebuah apartemen. Januar menghentikan mobilnya, lalu Evi turun.
"Pak Januar nggak mampir dulu? tanya Evi berbasa-basi menawari Januar untuk mampir ke apartemen miliknya.
Januar melirik jarum jam yang ada di pergelangan tangannya. Ia melihat masih ada waktu sekitar 40 menit. "Aku mampir deh, Aku juga ingin mengetahui bagaimana apartemen kamu."ucap Januar membuat Evi terhenyak padahal Evi sebenarnya hanya berbasa-basi saja mengajak Januar mampir ke apartemen miliknya.
Tapi entah mengapa, pria itu langsung setuju. kemudian Evi tidak bisa menolak, karena sebelumnya dirinya yang menawari Januari agar singgah ke apartemennya.
__ADS_1
Keduanya berjalan memasuki lift. Evi menekan angka sepuluh karena kebetulan apartemen Evi berada di lantai sepuluh
Ting!
Suara lift terbuka saat lift itu sudah menghantarkan mereka tepat di lantai sepuluh
"Pak, Tunggu sebentar ya." ucap Evi sambil membuka pintu apartemennya.
Saat pintu apartemen itu terbuka, mempersilahkan Januar masuk ke apartemen miliknya. Januar masuk mengikuti langkah.
"Silakan duduk pak," ujar Evi mempersilahkan Januari duduk di sebuah sofa yang ada di apartemen itu. fasilitas apartemen yang ditempati Evi, memang lumayan mewah. terdapat sebuah kamar yang lumayan luas, ruang tamu dan dapur. Di samping dapur ada kamar mandi. Di dalam kamarnya juga terdapat kamar mandi.
Januar menelisik seisi ruangan. Terlihat apartemen milik Evi benar-benar tertata rapi. Ia salut kepada wanita itu. Walaupun wanita itu disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, Tapi masalah kebersihan dan kerapian di apartemen miliknya memang benar-benar bisa di acungkan jempol.
"Sebentar ya Pak, saya ambilkan minum dulu. Oh iya pak Januar mau minum apa?"tanya Evi kepada Januar.
"Terserah kamu aja deh, apa yang ada aja."sahut Januar sambil mengembangkan senyumnya.
Evi berlalu ke dapur, ia berniat untuk membuat secangkir kopi kepada Januar sang atasan.
Beberapa menit kemudian, Evi kembali menghampiri Januar yang saat ini duduk sambil mengotak-atik ponselnya.
"Silakan Pak."ucap Evi mempersilahkan Januar meminum kopi buatannya.
"Bapak bisa saja, silakan diminum tapi masih panas."ucap Evi sambil mengembangkan senyumnya.
"Jadi kamu tinggal sendirian? tanya Januar yang melihat apartemen Evi sepi tidak ada orang lain selain mereka berdua di sana.
"Iya Pak, mau siapa lagi? kedua orang tuaku sudah tidak ada lagi. Aku hanya hidup sebatang kara di kota ini. Untung saja ada Kak Tamara yang membantuku kala itu, sehingga aku dapat di kantor sebesar ALC. Evi memberitahu.
"Apa kamu tidak merasa takut hidup sendiri seperti ini?
"Apa yang harus aku takutkan? jika kita berserah kepada sang pemilik kehidupan, maka rasa takut kita pasti tidak akan ada." Evi membayangkan bagaimana kesehariannya hidup sendiri di apartemen itu.
Januar hanya manggut-manggut. Kemudian Evi kembali berpamitan kepada Januar kalau dirinya berniat membersihkan diri. Mengingat satu harian ini mereka beraktivitas, tubuhnya sudah terasa lengket sudah tidak sabar lagi dia mengguyur tubuhnya dengan air.
"Pak Januar, nggak apa-apa kan aku tinggal dulu. Badan aku lengket nih nggak percaya diri.duduk ngobrol sama bapak kalau belum mandi satu harian penuh."ucap Evi jujur.
"Kamu jujur banget sih, Ya sudah silakan. Januar mempersilahkan Evi untuk segera membersihkan diri. Sesekali ia menyeruput kopi buatan Evi Dan menikmatinya. Ketika Evi meninggalkan dirinya sendiri di sana. Januar memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa. sambil mengotak-atik ponselnya.
"Aaaaa.... tiba-tiba suara teriakan Evi mengagetkan Januar. sontak dirinya langsung bangkit berdiri dan berlari hendak masuk ke kamar Evi, karena mendengar suara jeritan Evi.
__ADS_1
"Kamu kenapa? tanya Januar ketika mengetuk pintu kamar Evi. Evi sama sekali tidak menjawab. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Januar akhirnya membuka pintu kamar Evi,.ia melihat pintu kamar itu sudah gelap gulita.
"Evi kamu di mana? kok kamarnya gelap sekali?" ucap Januar sambil langsung mengambil ponselnya dari saku celana lalu menghidupkan senter ponselnya.
"Gak tau Pak, tiba-tiba saja lampunya mati."ucap Evi saat Evi masih belum menggunakan pakaiannya dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Sehingga Januar Langsung kembali membelakangi Evi.
"Ya sudah, kamu pakai senter ponselku dulu untuk mengambil pakaianmu dan segeralah memakai bajumu."ujar Januar sambil keluar dari kamar Evi dan kembali duduk di sofa.
Desiran yang cukup hebat dirasakan oleh Januar ketika melihat pemandangan indah ciptaan Tuhan ketika dirinya melihat Eva hanya Menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Sehingga setelah Januar menghidupkan senter ponselnya tubuh mulus Evi terekspos jelas di matanya.
Evi cepat-cepat menggunakan pakaiannya. Lalu setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi, Ia kembali keluar ke ruang tamu. "Maaf ya Pak, sudah mengagetkan bapak? Entah kenapa tiba-tiba saja lampu kamar mandi dan kamar itu mati."ucap Evi memberitahu.
"Ya sudah sebentar aku lihat dulu, Mungkin ada yang rusak di saklarnya atau bolanya sudah putus. Kira-kira kamu memiliki stok bola lampu tidak?"tanya Januar.
"Sepertinya ada Pak, tunggu ya Pak aku lihat dulu. ucap Evi sambil membuka laci yang ada di dekat televisi. dan ternyata benar adanya kalau stok lampunya masih ada.
"Ada nih pak,
"Ya sudah, sebentar ya."Januar masuk ke kamar diikuti oleh Evi.
"Maaf ranjangnya aku injak dulu ya, kalau berdiri dari sini Sepertinya aku tidak sampai memasangkan lampunya." Ucap Januar meminta izin kepada Evi
"Iya, Pak. Silakan nggak apa-apa, yang penting lampunya hidup. Karena Evi paling tidak bisa tidur dengan posisi gelap seperti ini." ucap Evi sambil terus menyenter ke arah fitting lampu agar Januar dapat memasangkan bola lampu itu.
Setelah Januar berusaha meraih Fitting bola lampu itu, akhirnya lampu itu bisa terpasang. kemudian Januar meminta kepada Evi untuk kembali menghidupkan saklar, mencoba bisa hidup atau tidak lampu yang di pasang oleh Januar.
Setelah Evi menghidupkan saklar lampu itu, ternyata lampu itu bisa hidup.
Januar turun dari ranjang, berniat kembali ke ruang tamu.
"Terima kasih ya, Pak. Berkat bapak lampu ini nyala kembali. Mungkin kalau tidak ada Bapak Malam ini aku harus tidur di ruang tamu. "ucap Evi berterima kasih kepada Januar.
"Makanya buru cari suami, biar ada yang membantu kamu di sini.
Evi hanya terdiam. Kemudian Ia pun tidak mau kalah dari Januar. "Aku kan perempuan, tidak mungkin aku yang mencari seorang pria yang menjadi pendamping hidupku. Gengsi lah, pria yang harus mendatangiku dan melamar ku langsung menjadi pendamping hidupnya." Evi terus terang kepada Januar Karena dia sudah menganggap Januar sahabat baiknya, sehingga apa yang di dalam hatinya ia sampaikan langsung kepada Januar.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN