Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 120. PDKT


__ADS_3

"Halo, Kak Tamara, bagaimana kondisimu saat ini. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evi dan Marissa bersamaan, ketika mereka sudah tiba di ruang rawat inap Tamara.


"Alhamdulillah aku sudah baikan, tentunya ini berkat kalian berdua. Aku berhutang nyawa kepada kalian berdua."ucap Tamara.


"Sudah, tidak perlu kamu pikirkan. Yang penting, Kakak bisa selamat dari jurang maut itu. Aku tidak akan memberikan ampunan kepada Clarissa, aku akan meminta kepada Mas Januar untuk menjebloskan ke penjara untuk selama-lamanya." ucap Evi sembari langsung memeluk Kakak angkatnya itu.


Karena Evi tak kunjung melepaskan pelukannya, Marisa protes.


"Gantian dong, dari tadi kamu melulu yang memeluk kakak ipar. Sekarang giliran aku juga." Marissa protes.


Evi hanya nyengir kuda, ketika melihat Marissa sudah tampak kesal. Karena dirinya tak kunjung melepaskan pelukannya dari Tamara. Dia pun akhirnya merenggangkan pelukannya. Kemudian Evi memberikan akses kepada Marissa, agar Marissa dapat memberikan pelukan hangat kepada Tamara.


"Apa kakak ipar tahu, kami sangat mengkhawatirkanmu Kak. Sehingga ketika kami mendengar kondisimu saat itu, cukup memperhatikan. Kami memilih untuk segera berangkat ke rumah sakit tempat kamu dirawat.


Karena kami tahu persis, kalau golongan darah kita itu sama.


"Untung ada kamu Evi, dan kamu Marissa, kalau tidak, kami sudah entah bagaimana. untuk itu, aku akan memberikan hadiah yang sepantasnya kalian Terima." ucap Tuan Aditama.


"Tidak perlu, Om. Kak Tamara sudah Evi anggap seperti kakak kandung sendiri, jadi Sudah sepantasnya Evi menolongnya. Lagian selama ini Kak Tamara juga sudah sangat banyak membantu Evi.


"Iya Om, nggak perlu lah seperti itu. Kami tulus untuk membantu kak Tamara. Marissa menimpali.


"Tidak nak, sebagai ucapan terima kasih Om kepada kalian, karena kalian sangat berjasa di kehidupan Tamara dan cucu Om, maka Om akan berikan kepada kalian masing-masing seratus juta.


Evi menggelengkan kepala, seolah tidak yakin Apa yang diucapkan oleh Tuan Aditama. Begitu juga dengan Marissa. Padahal ikatan di antara mereka masih ada hubungan kekeluargaan. Marisa adik sepupu Regen dan Evi istri dari adik sepupu Regen.


"Tidak Om, kami tidak bisa menerima ini. Kita adalah keluarga, sudah sepantasnya bahu membahu dan saling tolong-menolong."ucap Evi dan Marissa secara bersamaan kalau Mereka menolak menerima uang pemberian Tuan Aditama.


***


Dua minggu kemudian, Kondisi Tamara sudah semakin membaik. Sehingga dokter sudah memperbolehkan dirinya pulang ke rumah. lain halnya dengan bayinya yang diberi nama Andika Regen Aditama. Andika masih membutuhkan perawatan khusus dari rumah sakit mengingat kelahiran baby Andika prematur.


"Mas, apa Tamara hari ini sudah bisa pulang ke rumah?


"Iya sayang, kata dokter juga Sepertinya kamu hari ini bisa pulang ke rumah apa kamu senang?"

__ADS_1


"Tentu dong Mas. Tamara sudah sangat merindukan rumah kita. Tapi bagaimana dengan Putra kita, Apa dia sudah baik-baik saja dan bisa dibawa pulang ke rumah?" Tanya Tamara. Karena dirinya menginginkan kalau putranya juga diperbolehkan pulang ke rumah bersamanya.


"Maaf sayang, menurut keterangan dokter, Putra kita masih membutuhkan perawatan kurang lebih satu minggu lagi. Jadi dokter menganjurkan agar kita tetap membiarkan Putra kita berada di rumah sakit." ucap Regen kepada Tamara.


***


Tamara dan Regen sudah bergegas ingin kembali ke rumah utama keluarga Aditama. mengingat kondisi Tamara saat ini sudah semakin membaik.


Beberapa waktu ke depan operasi akan dilakukan kembali kepada Tamara untuk memulihkan wajah Tamara, seperti sedia kala. Regen berniat untuk membawa Tamara ke Korea untuk mengobati wajah Tamara yang sudah rusak, dengan belahan pisau yang dilakukan oleh Clarissa kepadanya.


Tetapi setelah kondisi kesehatan Tamara dan juga baby Andika semakin membaik. Jika kondisi baby Andika sudah stabil, Regen berniat untuk membawa Tamara bersama bayinya liburan ke Korea sambil melakukan perawatan kecantikan untuk istrinya Tamara.


"Apakah kamu masih mencintaiku, walaupun wajahku seperti ini mas." ucap Tamara dengan tatapan Sendu.


"Sayang, mas mencintaimu, bukan karena wajahmu yang cantik dan menawan. Tetapi karena hati tulus kamu mencintai Mas, membuat Mas sangat mencintai kamu berhenti untuk menuduh mas tidak mencintaimu lagi, jika wajahmu seperti ini.


Tentunya ini bukan hal yang mudah bagi Tamara. Kejadian yang menimpa kamu ini bukan hal yang kamu inginkan. Untuk itu, mas akan berusaha untuk memulihkan wajah kamu kembali. Bukan karena Mas malu, tetapi agar kamu percaya diri untuk menghadapi orang-orang.


"Terima kasih, Mas."


"Kamu wanita yang sangat luar biasa, mampu menghadirkan pangeran di tengah-tengah keluarga kita. Walaupun kondisinya dalam situasi genting, kamu tetap menjaga dia untuk Mas dan juga untuk keluarga besar Aditama. Mas sangat mencintai kamu, Tamara, istriku sayang." ucap Regen untuk istrinya dan memberikan kecupan hangat di kening Tamara.


Januar datang menghampiri Regen.


"Pak Bos, Sepertinya saya harus kembali ke kantor karena Marissa baru saja menghubungiku." ucap Januar kepada Regen.


"Ya sudah, segeralah kembali ke kantor. Tolong katakan kepada Ronald, untuk membantu Marissa menjalankan tugas yang saya berikan kepada Marisa."ujar Regan memberitahu.


Setelah berpamitan kepada Regen, dan Tamara. Januar Langsung kembali ke kantor. Setelah mendapat telepon seluler dari Marissa, yang meminta agar Januar segera kembali ke kantor. Karena ada sesuatu hal penting yang harus mereka kerjakan saat ini juga.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Januar pun tiba di kantor ALC COMPANY. Marisa yang sudah disibukkan mengerjakan pekerjaannya yang aturan dikerjakan oleh Januar dan Regen sedikit kewalahan..


"Maaf, aku sudah membuatmu terganggu."


"Tidak apa-apa ,Pak Ronald. Coba ini Bapak periksa, Apakah ini sudah sesuai dengan permintaan yang diinginkan oleh Pak Regen atau tidak." tanya Marissa kepada Ronald sembari menyerahkan beberapa file kepada Ronald untuk diperiksa oleh Ronald dan juga Januar.

__ADS_1


****


"Risa, sepertinya perutku sudah lapar. Kita makan dulu, yuk. Nanti kita lanjutkan lagi pekerjaannya." ucap Ronald kepada Marissa.


"Maaf Pak Ronald, sepertinya lebih baik anda duluan deh. Karena saya membawa bekal dari rumah."


"Bekal?


"Kamu serius?


"Iya Pak."


"Mau dong."


"Pak Ronald serius, mau makan bekal saya? ini masakan sederhana loh." ucap Marissa tidak percaya diri kalau Ronald akan memakan bekal miliknya.


"Kenapa tidak mau? justru makanan seperti ini yang aku rindukan. Aku sangat merindukan masakan seperti ini, sama seperti yang dibuat oleh ibuku, saat aku masih kecil dulu. Apa kau ingin berbagi kepadaku?


Tentu saya dengan senang hati. lagian Kebetulan saya membawa bekal yang lebih, itupun kalau Pak Ronald mau." ucap Marissa kepada Ronald sambil memberikan bekal sebagian kepada Ronald.


Sementara Januar memilih untuk kembali ke rumah, makan siang. Karena sebelumnya Evi menghubunginya, kalau Evi sudah memasak makan siang untuk sang suami.


"Oh iya, Marisa. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepadamu."


"Ada apa ya, Pak? Apa ada pekerjaan saya yang tidak sesuai dengan permintaan perusahaan?"tanya Marisa merasa khawatir.


Ronald menghela nafas panjang.Ia ingin sekali mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yang beberapa bulan terakhir ini, sudah ia simpan dalam-dalam di dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2