Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 113. TELEPON DARI NYONYA RAINA


__ADS_3

Sepeninggalan Rohana, Clarissa bertanya kepada Alven "Kakak sudah berapa lama menjalin hubungan dengan Rohana? tanya Clarissa penuh selidik.


"Baru kenal satu bulan belakangan ini."sahut Alven singkat dibalas anggukan dari Clarissa.


Sementara di tempat lain, Regen bernapas lega. Karena sang istri melakukan hal yang tepat untuk keutuhan rumah tangga mereka. Regen sama sekali tidak marah, walaupun Tamara mengecat Clarissa dengan secara tidak hormat.


Justru ia menyukai cara Tamara untuk memberikan pelajaran kepada wanita yang berniat menggoda suaminya. Regen merasa Tamara benar-benar sayang dan cinta terhadapnya. Sehingga Tamara mampu melakukan hal itu.


"Terima kasih sayang, kamu sudah melakukan hal yang tepat."ucap Regen kepada Tamara.


"Memangnya mas tidak marah kalau Tamara memecat sekretaris Mas yang seksi itu?"sahut Tamara sambil nyengir kuda.


"Tidak dong, sayang. Memangnya kamu pikir Mas akan tertarik dengan wanita modelan seperti itu? lelaki yang otaknya Masih normal tidak akan menyukai wanita yang suka mengumbar auratnya. Lain hal kalau lelaki yang otaknya mesum saja, pasti akan menyukai wanita yang mengumbar auratnya."ucap Regen sambil meraih tubuh Tamara kepelukannya.


"Terima kasih Mas. Kamu sudah menjaga hatimu untukku."ucap Tamara sambil langsung memberikan kecupan hangat di bibir ranum sang suami.


"Kamu sudah mulai pintar ya sayang, Sudah berani menggoda Mas, andai saja ini di rumah Pasti Mas akan langsung lahap kamu."ucap Regen sambil langsung membalas kecupan dari sang istri.


Entah mengapa akhir-akhir Ini, Tamara lebih agresif dibandingkan sebelumnya. Tetapi ketika Regen dan Tamara berkonsultasi kepada dokter kandungan, dokter kandungan mengatakan itu hal biasa untuk wanita yang lagi hamil muda.


Ada rasa bahagia di hati Regen Ketika istrinya sedang hamil. Regen sering mendapatkan kecupan demi kecupan yang luar biasa dari istrinya.


Perlahan kecupan itu semakin mendalam, hingga lidah kedua insan itu saling bertautan di sana. Tiba-tiba Marissa masuk ke ruang kerja Regen. Membuat Tamara dan Regen sontak melepaskan pagutannya.


"Astagfirullah, kalau bermesraan itu, pintu ditutup Kenapa? kira-kira dong sama aku yang lagi jomblo ini. Mata aku jadi ternoda melihat tingkah mesum kalian berdua."gerutu Marissa sambil menutup kedua matanya dengan menggunakan telapak tangannya.


"Hello..... tidak perlu lebay seperti itu, kamu saja sudah melihat, pura-pura kamu tutup matamu."Celetuk Regen Sambil tertawa cengengesan.


"Ngapain kamu ke sini?


"Dompet aku ketinggalan, terus aku tidak bawa bekal. Pinjam aku duit Kak lima puluh ribu aja."ucap Marissa Sambil tertawa cengengesan.

__ADS_1


Regen langsung tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Marissa kepada Tamara. Tamara Hanya mendengar apa yang dikatakan oleh adik iparnya.


"Kok bisa kamu ketinggalan dompet?


"Aku bangun kesiangan, jadi buru-buru berangkat ke kantor. Tak sempat nyiapin sarapan pagi dan juga bawa bekal, eh ternyata dompet ketinggalan pula."sahut Marissa sambil nyengir


Regen merogoh dompet yang ada di saku celananya. "Nih tidak perlu pinjam segala."ucap Regen sambil memberikan beberapa Lembar uang pecahan lima puluh ribu.


"Banyak bener nih Kak, Aku hanya butuh lima puluh ribu saja.


"Sudah, ambil saja. Anggap aja itu rezeki untuk kamu ."sahut Regen


"Ya udah deh, Kalau dipaksa. Sering-sering ya Kak ." ucap Marissa sambil langsung berlari keluar ruang kerja Regen. Regen dan Tamara Hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Marissa yang terkadang membuat mereka berdua gemas.


****


Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya ke permukaan bumi. Membuat tidur seorang pria tampan itu menjadi terganggu. Ronald yang bertugas menjadi HRD di ALC COMPANY terlihat sangat gelisah.


Selama ini Ronald sudah lama menyukai sosok gadis bernama Marisa. Tapi sepertinya Ronald sulit untuk mengungkapkan semua isi hatinya kepada Marissa.


"Mama." gumamnya langsung mengucek kedua bola matanya. Ia langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon seluler itu tersambung kepada sang Mama.


"Halo assalamualaikum Ma, sapa Ronald di dalam sambungan telepon selulernya.


"Kamu dimana? tanya wanita paruh baya yang ada di ujung telepon.


"Mengapa kamu belum datang ke rumah Mama sudah lama menunggu kamu."ucap wanita paruh baya itu dari ujung telepon.


"Iya Ma, nanti Ronald kesana. Mama nggak perlu khawatir." ucap Ronald lalu langsung mematikan sambungan telepon selulernya dengan sepihak.


"Pasti Mama nanyanya yang itu-itu lagi, bosan deh aku jadinya. Kalau begini terus aku malas datang ke rumah."gumam Ronald yang merasa bosan kedua orang tuanya selalu bertanya kepadanya kapan dia akan menikah, jika sudah bertemu dengan kedua orang tuanya

__ADS_1


Sementara di tempat lain, tepatnya di Pulau Dewata Bali. Terlihat Januar dan Evi benar-benar merasa bahagia. Apalagi selama di Bali, Januar membawa Evi ke tempat-tempat wisata yang begitu memanjakan mata. Evi yang sama sekali belum pernah melakukan perjalanan wisata sampai ke Pulau Dewata Bali, benar-benar takjub dengan keindahan alam yang ada di sana.


Budaya yang begitu khas di Bali membuat Evi benar-benar betah berlama-lama melakukan perjalanan bulan madu di sana. Apalagi menu makanan yang dihidangkan di sana juga mengunggah selera.


Evi benar-benar bersyukur memiliki ayah dan ibu mertua yang sangat pengertian kepada dirinya. Saat keduanya sedang duduk santai menikmati kelapa muda dan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba saja suara deringan ponsel Januar terdengar jelas di telinga keduanya.


Januar meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil itu. Ia melihat Mamanya Raina di sana yang tertera.


"Siapa sayang?" tanya Evi kepada sang suami.


"Mama ada apa, ya? Mama menghubungi aku jam segini,?"tanya Januar di dalam hati. Kemudian Januar langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Nyonya Raina.


"Halo assalamualaikum, Ma. Sapa Januar dalam sambungan telepon selulernya. Nyonya Raina langsung mengubah sambungan telepon itu menjadi sambungan video call. Nyonya Raina melihat putranya sedang bertelanjang dada dan terlihat jelas kalau mereka saat ini sedang berada di pantai.


"Bagaimana perjalanan bulan madu kalian di sana, apa menyenangkan?" tanya Nyonya Raina


"Tentu dong Ma, pasti menyenangkan. Apalagi kita liburan bersama orang yang sangat kita cintai. Bagaimana kabar Mama?" ucap Januar di dalam sambungan video call-nya.


"Alhamdulillah kabar Mama baik. Bagaimana kabar kalian disana, apa semuanya aman dan terkendali?" tanya Nyonya Raina.


"Mama jangan khawatir, semuanya aman terkendali, kok" sahut Januar. Evi yang saat ini sedang menikmati es kelapa muda yang ada di meja itu hanya mengembangkan senyumnya. Dia tidak menyadari kalau Januari mengarahkan kamera ponselnya ke arah Evi


"Tolong berikan ponselnya kepada menantuku, aku ingin berbicara dengannya." ujar Nyonya Raina kepada putranya. Kemudian Januar pun memberikan ponselnya kepada Evi agar Evi dapat berbicara langsung dengan Nyonya Raina.


Setelah ber basa-basi kepada Evi, Nyonya Raina juga meminta kepada Evi untuk membawakan oleh-oleh yang Begitu berharga membuat Evi sedikit bingung. Lalu Nyonya Raina pun meminta kepada Evi untuk memberikan ponselnya kepada Januar. Setelah wajah Januar yang terlihat jelas di layar ponsel, barulah kembali Nyonya Raina berbicara di dalam video call-nya.


"Ingat!!! Mama tidak mau menunda-nunda waktu, bawa kabar baik kepada Mama, setelah pulang bulan madu dari sana." tegas Nyonya Raina menginginkan kalau Evi dan Januar akan segera memiliki momongan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2