
Setelah Pak suyatno selesai berbicara dengan Tamara, Pak Suyatno memutuskan sambungan telepon selulernya. Kemudian ia kembali menghampiri Tuan Aditama dan juga Regen.
Sedangkan Ibu Sumiati yang berada di dapur kembali menghampiri Tuan Aditama dan juga Regen yang ada di ruang tamu dengan membawakan beberapa cangkir kopi dan cemilan untuk di suguhkan kepada tamu yang baru pertama kali datang kerumah sederhana mereka.
"Silahkan di minum Pak." ujar Ibu Sumiati sambil tersenyum. Di usia Ibu Sumiati yang sudah berumur hampir enam puluh tahun, memang sudah tidak terlalu kuat untuk bekerja di sawah. Tapi kalau hanya sekedar membuat kopi dan cemilan, ibu Sumiati masih mampu.
Kemudian Tuan Aditama kembali melanjutkan pembicaraannya mengenai lamaran mereka terhadap Tamara, yang akan menjadi pendamping hidup putranya. Dan terlihat Pak Suyatno masih sangat berat untuk menerima lamaran Regen terhadap putrinya.
"Begini saja Pak, Bukan kami menolak lamaran ini. Tapi ada baiknya kami bicarakan dulu dengan putri kami Tamara. Karna terus terang, Bapak mungkin sudah mengetahui status Tamara saat ini. Dia sudah pernah gagal sekali menjalin rumah tangga dengan ayahnya Fitricia. Tentu kami tidak ingin lagi, Tamara gagal lagi untuk yang kedua kalinya." ucap Pak Suyatno hati hati. Takut membuat Tuan Aditama dan Regen tersinggung.
"Tidak apa apa Pak, tapi besar harapan kami kalau lamaran kami di terima keluarga ini." ucap Tuan Aditama.
Kring....
Kring....
Kring....
Suara deringan ponsel Regen terdengar jelas di telinga Regen dan orang yang duduk di ruang tamu.
Regen meraih ponselnya yang ada di saku jasnya. Ia melihat nomor ponsel Tamara yang menghubungi dirinya.
Regen langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya, agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Tamara. tetapi ketika sambungan telepon seluler itu tersambung bukan suara Tamara yang terdengar, melainkan suara bocah kecil Fitricia.
__ADS_1
"Halo, assalamualaikum Papa! sapa dia dari ujung telepon.
Regen sengaja menghidupkan speaker phone ponselnya, agar Tuan Aditama, Pak suyatno, dan ibu Sumiati juga mendengar siapa yang menghubungi Regen.
"Cia! gumam Ibu Sumiati dan Pak suyatno. Regen menganggukkan kepalanya.
"Halo, waalaikumsalam Putri Papa yang cantik." sahut regent membuat Ibu Sumiati dan Pak suyatno mengerutkan keningnya.
"Papa di mana? Kok Papa tidak datang ke rumah Cia, nggak ada teman saya bermain Pa."Cia protes karena Regen hari ini tidak
datang menemuinya di rumah Tamara.
"Maaf ya saya, hari ini Papa tidak bisa datang ke rumah. Papa ada urusan di rumah nenek?
"Iya Sayang, di rumah neneknya Cia. kan dia yang ngomong sama papa, kalau Papa tidak boleh ninggalin Cia dan mama. Dan Cia juga menginginkan kita tinggal bersama kan? ucap Regen di dalam sambungan telepon selulernya.
Pak suyatno dan ibu Sumiati menajamkan pendengaran mereka. Mereka mendengar segala apa yang dibicarakan oleh Regen dan juga Cia.
"Beneran pa, kalau Papa sudah pulang dari rumah nenek, kita akan tinggal sama-sama?" tanya Cia penuh selidik. terlihat regent melirik ke arah Pak suyatno dan ibu Sumiati dengan sekilas.
"Insya Allah sayang." sahut Regen.
"Janji ya Pa, Cia kangen sama papa."ucap Cia setelah selesai berbicara dengan Regan, Cia memutuskan sambungan telepon selulernya.
__ADS_1
Sementara Pak suyatno dan ibu Sumiati saling berpandangan.
"Cia kok bisa dekat bangat sama nak Regen? tanya Pak suyatno.
Regen hanya mengembangkan senyumnya.
"dia memang sudah menganggap saya seperti papa kandungnya sendiri, Begitu juga dengan saya yang sudah menganggapnya seperti putri saya sendiri Pak."sahut Regen
yang dibalas anggukan dari Pak suyatno.
Melihat dan mendengar kedekatan Regen dengan Cia tampaknya Pak suyatno dan ibu Sumiati tidak tega, memisahkan Tamara dengan Regen. Sepertinya Regen memang terlihat tulus menyayangi Cia.
"Begini saja Pak, kami juga rencananya akan pergi ke Jakarta untuk menemui Tamara dan juga Cia. Kebetulan istri saya dari kemarin sudah meminta untuk bertemu dengan cucunya karena ia merindukan cucunya Cia. Jadi mungkin di sanalah kami memberikan jawaban atas lamaran terhadap putri saya Tamara,"
"Maaf Pak, sekali lagi bukan kami menolak lamaran ini. Tapi kami harus berbicara dulu baik-baik dengan Tamara."Ucap pak suyatno dan ibu Sumiati
"Baiklah Pak Tidak, masalah."sahut Tuan Aditama kemudian Tuan Aditama dan Regen pun berpamitan kepada Pak Suyatno dan ibu Sumiati.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"