
Sepanjang perjalanan, Tamara Hanya menangis sambil memeluk putrinya Cia. bocah kecil itu terlihat berusaha menenangkan Mamanya. Sekalipun dia ikutan panik, tapi dia tidak menunjukkan kepada Tamara kalau dirinya benar-benar panik. Justru Cia meminta kepada Tamara untuk lebih baik berdoa daripada menangis.
"Maaf Tuan, kita ke rumah sakit mana?" tanya Joko kepada Tuan Aditama."
"Rumah sakit terdekat dari ALC COMPANY sahut Tuan Aditama. Pak Joko pun langsung melajukan mobilnya yang ia menuju rumah sakit yang diinformasikan oleh Tuan Aditama.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Mereka pun tiba di rumah sakit. Tamara yang begitu panik langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit
"Bagaimana kondisi Mas Regen, Mario?" tanya Tamara sambil menangis sesenggukan.
"Tuan Regen masih berada di dalam dan sedang diperiksa oleh dokter. Tadi Ketika saya masuk ke ruang kerja Tuan Regen, terlihat wajah Tuan Regen sangat pucat dan dia juga mengeluh kalau perutnya terasa mual dan kepalanya terasa pusing. Hingga akhirnya Tuan Regen kembali muntah-muntah di kamar mandi dan tubuhnya sangat lemas.
Tamara langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD, di mana suaminya sedang diperiksa oleh dokter. Ketika Tamara melihat suaminya sedang dipasang jarum infus di punggung tangannya, Ia pun berlari memeluk Regen. Seolah-olah dirinya takut kehilangan sang suami.
"Mas... !!Tamara terisak sambil memeluk dan memberikan kecupan hangat di wajah pucat sang suami.
"Kamu Kenapa mas?
"Mas, tidak apa-apa sayang. Kata dokter Mas hanya masuk angin saja." Tamara menatap suaminya dengan intens. Ia berusaha mencari kebohongan di sana. Tetapi ia tidak menemukan kebohongan di wajah pria yang berbaring di atas branker itu.
"Bagaimana kondisi suami saya dokter?" tanya Tamara penuh selidik. Karena dia khawatir akan kondisi suaminya.
"Suami Anda baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin saja." sahut sang dokter kembali sambil mengembangkan senyumnya menatap Tamara dengan tatapan penuh arti.
"Maaf, Apakah Anda saat ini sedang hamil?" tanya sang dokter kepada Tamara.
"Kok dokter nanyanya seperti itu?
"Tidak apa-apa Nyonya. Hanya saja, ada juga kalau istrinya sedang hamil muda, suami yang mengalami morning sickness." turur sang dokter.
"Ya sudah, langsung periksa saja istri saya dokter. Siapa tahu memang istri saya sedang hamil."ujar Regen
__ADS_1
"Tapi Mas, aku merasa tidak hamil kok. Buktinya aku tidak merasakan apa-apa.
"Maaf nyonya, tanggal datang haid terakhir tanggal berapa ya? tanya sang suster yang membantu dokter menangani Regen.
Tamara berusaha mengingat-ingat tanggal terakhir dia datang bulan. Ia terhenyak, Ternyata sudah dua bulan Tamara tidak datang bulan.
"Maaf sus, saya kurang ingat."
"Ya sudah, tidak ada salahnya kita periksa dulu Bu."ujar sang suster sambil tersenyum
"Ya udah Sayang,diperiksa aja, kan nggak apa-apa. Kalau hamil Alhamdulillah, kalau tidak, ya nggak apa-apa."ucap Regen.
Akhirnya Tamara pun bersedia diperiksa oleh dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu. Dan ternyata dugaan sang dokter benar adanya saat ini Tamara sedang hamil.
"Bagaimana hasilnya dokter?" tanya Regen tidak sabaran ketika Tamara sudah kembali menghampiri dirinya di ruang rawat inap, setelah Regen dipindahkan ke ruang rawat inap dari ruang UGD.
Tamara mengembangkan senyumnya. Karena dokter kandungan itu juga ingin langsung memberitahu kepada Regen, kalau hasil pemeriksaannya ternyata tidak salah, Dugaan dari dokter yang memeriksa dan sebelumnya.
"Kok lucu? Tamara yang hamil kok mas Regen yang mengidam?" celoteh Tamara tanpa menyadari kehadiran Ayah mertuanya di sana.
Sang dokter langsung tertawa cengengesan mendengar celotehan Tamara.
"Dokter kok malah tertawa sih? gerutu Tamara tidak menyukai Kalau dokter itu mentertawakan dirinya.
Kemudian sang dokter pun menjelaskan kepada Regen dan Tamara kalau sang istri sedang hamil. "Tidak hanya istri saja yang dapat merasakan mengidam. Bisa saja dirasakan sang suami." ucap sang dokter membuat Tamara langsung menatap suaminya dengan tatapan.
"Maksud dokter ceritanya suami saya saat ini sedang mengidam, sehingga merasa mual dan muntah? pertanyaan dami pertanyaan dilontarkan oleh Tamara kepada sang dokter. Sang Dokter menganggukkan kepalanya. Membuat Tamara membulatkan matanya. Karena ia tidak pernah merasakan hal yang sama. Apalagi saat Tamara mengandung Cia dia yang merasakan mengidam yang cukup parah.
"Kok bisa ya, dokter? saya yang hamil suami sayang yang ngidam."
"Kalau masalah itu, itu sudah biasa. Itu artinya suami Anda sangat mencintai anda. Karena dirinya tidak ingin anda merasakan rasa sakit, ketika mengidam." sahut sang dokter membuat Tamara mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Sang dokter menganjurkan agar Regen dirawat inap selama beberapa hari ke depan di rumah sakit. Agar kondisi kesehatannya kembali stabil..Tamara pun langsung menyetujuinya. Yang ia inginkan saat ini kondisi kesehatan suaminya agar benar-benar pulih kembali.
Tuan Aditama mengembangkan senyumnya. dia benar-benar bahagia mendengar Tamara saat ini sedang hamil cucu kandungnya. Walaupun Tuan Aditama sudah menganggap dia sebagai cucu kandungnya, tetapi dia juga menginginkan cucu benih dari Putra kandungnya sendiri.
"Terima kasih ya, nak. Kamu sudah membawa kabar gembira untuk keluarga kita." ucap Tuan Aditama, sembari memberi selamat kepada Tamara dan juga Regen.
"Iya Pa, doakan Tamara dan Janin Tamara baik-baik saja."
"Itu sudah pasti, tidak mungkin Papa tidak mendoakan kalian."ucap Tuan Aditama.
Regen terus memberikan kecupan di punggung tangan istrinya. Dia tidak dapat mengungkapkan kebahagiaannya melalui kata-kata. Dia benar-benar merasa bahagia serasa dirinya lebih-lebih mendapatkan proyek yang memiliki keuntungan yang sangat besar di perusahaan.
***
Januar memeluk Evi dari belakang. Karena Evi sudah lebih dulu tidur akibat kecapean setelah satu harian dalam perjalanan membuat Evi sedikit kelelahan. Januar mencium tepat di telinga Evi.
"Mas, geli loh!" gerutu Evi kepada Januar yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tetapi Januar tidak mempedulikan ocehan istrinya. Ia terus saja memeluk Evi dan memberikan istri ciuman yang hangat. " I love you my wife." ucap Januar kepada Evi. Evi langsung membalikkan tubuhnya, agar dirinya dapat melihat suaminya lebih leluasa.
Evi membalas pelukan dari Januar. Ia juga memberikan ciuman hangat di bibir ranum Januar. " I love you too my husband." ucap Evi sambil mengembangkan senyumnya semanis mungkin.
"Sayang, bisa ya kita bermain satu ronde aja?" tanya Januar kepada Evi.
"Mas kok malah bertanya sama Evi? kan, Evi istri Mas. Dan Evi sudah menjadi istri Mas seutuhnya, itu sudah kewajiban Evi untuk melayani Mas." ucap Evi sambil langsung mengalungkan tangannya di jenjang leher sang suami.
Merasa mendapat lampu hijau dari istrinya, Januar langsung memberikan kecupan hangat di bibir manis sang istri yang sudah candu baginya. Membuat Evi tidak tahan mengeluarkan de$@hannya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN