Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 94. PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Pagi hari yang indah matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Matahari yang mulai masuk melalui celah-celah gorden kamar sebuah hotel yang tidak terlalu mewah itu, membuat tidur seorang pria menjadi terganggu.


Pria itu bergeliat, kemudian ia mengucap kedua matanya sambil mengumpulkan kesadarannya. Pria itu Melihat jarum jam yang ada di dinding kamar hotel itu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Astaga, ternyata sudah pukul sepuluh."gumam pria itu. sembari beranjak dari tempat tidur berlalu ke kamar mandi. Bagaimana tidak dia bangun sampai siang seperti ini, malam tadi dia tidak bisa tidur dan lebih menghabiskan waktu di sebuah klub.


Hingga akhirnya, pria itu kembali ke kamarnya pukul empat subuh. Setelah berada di kamar mandi, dia langsung mengguyur tubuhnya dengan menggunakan air shower yang disediakan oleh pihak hotel tempatnya menginap.


Setelah kurang lebih tiga menit berada di kamar mandi, Kini pria itu sudah keluar dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Pria itu langsung mengenakan pakaiannya, dia tidak berniat pergi ke kantor hari ini.


Apalagi sebelumnya pria itu sudah meminta izin kepada sang Bos untuk dua hari ke depan dirinya tidak masuk ke kantor. Saat pria itu, menggunakan pakaiannya ia kembali teringat kepada wanita yang sangat ia cintai. Yang saat ini dia tidak mengetahui di mana keberadaannya.


Pria itu kembali meraih ponselnya, Ia melihat beberapa notifikasi pesan Whatsapp yang berada di layar ponselnya. Berharap salah satu pesan WhatsApp yang masuk itu dari wanita yang sangat ia cintai.


Tapi sayangnya, ketika pria itu membuka layar ponselnya Tak ada satupun dari nomor ponsel wanita yang sangat ia cintai. Hanya beberapa pesan Whatsapp yang dikirimkan oleh Regen dan juga Tuan Baskoro.


Januar sengaja memblokir nomor ponsel Nyonya Raina. Karena dia tahu kalau Nyonya Raina akan bolak-balik menghubunginya Nanti yang dapat mengganggu dirinya.


Kali ini Januar benar-benar kesal kepada Nyonya Raina. Seharusnya sebagai orang tua atau sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan dirinya, Nyonya Raina lebih memikirkan kebahagiaan putranya Januar dibandingkan dengan reputasi keluarga yang ia anggap akan menjadi rendah dipandang orang lain Jika Januar menikah dengan wanita seperti Evi yang hanya anak yatim piatu.


Nyonya Raina sama sekali tidak melihat sisi baik dari Evi. Sementara Evi wanita yang sangat dicintai putranya. Wanita yang mampu memporak-porandakan hati putranya dan bersedia menikahi seorang wanita.


Januar berusaha kembali menghubungi Evi. tapi nomor ponsel Evi hingga sekarang tidak dapat bisa dihubungi. Membuat Januar semakin mengkhawatirkan wanita itu. Rencananya ia akan mencari keberadaan Evi ke apartemen yang selama ini ditempati oleh Evi.


Setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi, pria itu berlalu dari kamarnya berniat untuk sarapan pagi mengingat jam sudah hampir jam sebelas siang.


Saat dirinya sudah duduk di sebuah Cafe restoran yang berada di dalam hotel itu juga. Dia langsung memesan menu makanan untuk segera ia santap mengingat perutnya saat ini sudah keroncongan dan cacing-cacing yang ada di perutnya sudah berdemo meminta jatah.

__ADS_1


Terlihat seorang pelayan datang menghampiri pria itu setelah beberapa menit memesan menu makanan yang ia inginkan."silakan Mas." ucap wanita itu setelah menghidangkan menu makanan dan langsung meninggalkan meja yang ditempati oleh Januar.


Terlihat ketika dirinya menikmati menu makanan yang ada di hadapannya. Sekilas dia melihat seorang wanita yang tak asing baginya.


"Apa itu Evi?


"Ah, tidak mungkin. Ngapain dia di sini?" gumamnya sembari terus mengamati seorang wanita yang sedang duduk di ujung sana bersama seorang pria paruh baya, yang ia tidak tahu siapa pria itu.


Cepat-cepat Januar menghabiskan makanannya. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya berniat ingin menghampiri wanita yang ia lihat mirip seperti Evi.


Saat jaraknya sudah sekitar lima meter, ternyata Januar tidak salah. Dia melihat sosok Evi bersama seorang pria dan wanita paruh baya yang sama sekali tidak dikenal oleh Januar.


"Sayang kamu di sini? tanya Januar yang membuat Evi tak hanya melihat sosok Januar berada di sana.


"Mas ngapain disini ?


Hal itu membuat atensi pria paruh baya dan wanita paruh baya yang duduk bersama Evi mengarah kepada Januar. "Maaf anda siapa ya? tanya pria paruh baya itu kepada Januar.


Januar memberi salam kepada pria paruh baya itu."Perkenalkan saya Januar, calon suami Evi."ucap Januar memperkenalkan diri kepada pria berupaya itu dan juga wanita paruh baya yang ada di sana.


Sementara Evi hanya geleng-geleng kepala. dia sudah terlihat gugup dan tidak mampu untuk berbicara saat ini.


"Calon suami?


"Calon suami maksud kamu apa ya? tanya pria paruh baya itu.


Januari yang masih berdiri, menatap berharap Evi memberikan penjelasan kepada pria itu.

__ADS_1


"Pak de, dia rekan kerja saya." sahut Evi.


"Yang mana yang benar? rekan kerja atau calon suami kamu?" kembali pria paruh baya itu bertanya kepada Evi.


"Dua-duanya benar Om."bukan Evi yang menjawab justru Januar yang langsung menjawab pertanyaan pria paruh baya itu yang merupakan adik dari ayah kandung Evi yang selama ini tinggal Depok.


"Saya boleh duduk nggak Om? tanya Januar.


"Silahkan!" sangat pria paruh baya itu dengan singkat.


"Kamu dari mana saja sayang? jujur Mas bahagia sekali dapat bertemu kamu di sini. dari semalam Mas mencari kamu. Tapi kamu sama sekali tidak ada kabar.


"Kak Regen juga mencoba menghubungi kamu, Begitu juga dengan Kak Tamara. mereka tidak kalah khawatir dariku. Apalagi setelah kamu memberitahu kamu hendak pergi ke rumah sakit. Memangnya siapa yang sakit sayang?"


"Putra saya mengalami kecelakaan, tapi sudah tidak apa-apa kondisinya saat ini sudah baik-baik saja."Kini pria paruh baya itu yang menjawab pertanyaan dari Januar.


"Alhamdulillah, kalau kondisi putra bapak sudah baik-baik saja. Tapi yang menjadi pertanyaan Kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi?" tanya pemuda itu kepada Evi.


"Maaf Nak Januar, Evi sudah menceritakan malam tadi tentang Nak Januar. Sepertinya hubungan kalian tidak perlu dilanjutkan. karena Mama kamu tidak merestui hubungan kalian. Mengingat karena Evi adalah anak yatim.


Sekali lagi saya tegaskan kepada kamu, Tolong lupakan keponakan saya. Jangan pernah ganggu dia lagi. Saya tidak ingin melihat keponakan saya menangis karena dihina oleh Mama kamu. Semiskin miskinnya kami, kami memiliki harga diri dan tidak pernah mengemis kepada kedua orang tua kamu. Kami mencari nafkah dengan halal. dengan jerih payah kami sendiri."ucap pria paruh baya itu penuh penekanan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2