
Januar berjalan menuju ruang kerja Regen. ketika dia melangkah menuju ruang kerja Regen, terlihat Evi memperhatikan langkah Januar yang berjalan terburu-buru. "Itu Panglatu ( panglima lajang tua) kenapa jalan terburu-buru sih ke ruang kerja bos?"gumam Evi dalam hati.
Netranya menatap punggung Januar yang memasuki ruang kerja Regen, hingga punggung januar menghilang di balik pintu.
Evi kembali ke ruang kerjanya, untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Di saat yang bersamaan, ketika Januar sudah berada di ruang kerja Regen. Dia langsung duduk seberang meja kerja Regen.
"Bos mulai sekarang sudah bisa memulai aktivitas seperti semula, kan?"tanya Januar
"Memangnya ada apa? kok kamu bertanya seperti itu?
Januar hanya cengengesan. "Aku ingin mengajukan cuti dua hari saja bos, apa bos mengijinkan?
"Memangnya kamu mau kemana?
Januar hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung mau mulai bicara dari mana.
"Kamu kenapa? kalau ada yang ingin kamu bicarakan, ya bicarakan saja langsung. Tidak perlu sungkan-sungkan."
"Begini Bos, selama Bos melakukan perjalanan bulan madu. Otakku sedikit mumet jadi butuh refreshing sedikit.,x
"Benaran, hanya itu saja?
lagi lagi Januar menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Januar, kita sudah lama saling kenal. Aku tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan. katakan saja jika ada yang ingin kamu sampaikan."
"Begini Bos, Aku ingin melamar Evi. Dua minggu yang lalu aku sudah mengakui kalau aku menyukai dan menyayanginya. Tapi pasalnya, Evi tidak ingin pacaran. Katanya dia tidak ingin mencari pacar tapi mencari suami.
Regen langsung tertawa ngakak ketika mendengar apa yang diucapkan oleh asistennya itu sekaligus sepupunya.
__ADS_1
"Kok ketawa sih, Bos?
"Lucu saja kamu. Itu berarti Evi memberikan sinyal kepadamu agar kamu segera melamarnya. Kenapa tidak langsung kamu lamar saja, sebelum disambar orang?"
"Tapi bingung bagaimana caranya bos."
"kok bingung sih? kamu tinggal membawa Tante dan om untuk melamar Evi, itu aja kok ribet sih. Masa untuk mengatur pernikahanku dengan Tamara kamu bijak, sedangkan untuk melamar wanita yang kamu cintai kamu tidak bisa. Bagaimana bisa ceritanya begitu!"
Januar hanya cengengesan. "Ini beda Bos, apa bos tidak melihat kalau Evi orangnya bagaimana?
"Iya aku mengetahui Evi bagaimana. Dia wanita sedikit barbar. Tapi hatinya baik, aku setuju Jika kamu menikah dengan Evi. Bahkan sebelumnya, aku sudah berbicara dengan Tamara ingin menjodohkan kamu dengan Evi.
"Jadi bos setuju Kalau aku menikah dengan Evi?
"Kenapa tidak? dia wanita yang baik, dia wanita salehah dan tulus walaupun Dia terlihat barbar."Regen berbicara jujur.
"Ya sudah, Aku memberikanmu cuti. Tapi dengan catatan aku mendengar kamu segera melamar Evi menjadi adik iparku."Regen mengembangkan senyumnya menatap adik sepupu sekaligus asistennya itu.
Tamara ingin menghindar, Takut terjadi percekcokan di antara mereka. Tapi sayangnya, Mamanya Alvin sudah keburu melihat kehadiran Tamara di sana. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Tamara saat Tamara turun dari mobil.
"Heh... wanita murahan! jangan kamu kira setelah menjadi menantu keluarga Aditama kamu merasa besar kepala. Aku tidak akan membiarkan Cia diasuh dengan ayah tirinya seperti Regen." ucap mamanya Alven membuat Tamara terkejut.
"Memangnya kenapa kalau Cia di besarkan dengan papa tirinya yang baik?"
"Saya tidak pernah mencari masalah dengan ibu, tapi kenapa ibu selalu membenci Saya? bahkan mengatakan saya wanita murahan? apa Ibu pernah melihat saya menjajakan tubuh saya kepada pria hidung belang? tolong jaga ucapan ibu."ucap Tamara berusaha menetralkan dada yang naik turun karna menahan emosi.
"Kalau kamu tidak wanita murahan, Kamu tidak akan semudah itu langsung menikah dengan pria lain, setelah bercerai dengan Aven.
"Perlu dicatat ya Bu, Alven yang lebih dulu berkhianat dan menikah dengan Soraya. bukan saya! jika Ibu mengatakan saya wanita murahan, terus Alven lelaki macam apa? ucap Tamara tidak mau kalah dari Mamanya Alven yang Sedari dulu selalu menyepelekan Tamara.
Kali ini Tamara Sudah berani berbicara langsung kepada Mamanya Alven. Karena hubungannya dengan Mamanya Alven itu sudah tidak ada lagi. Begitu juga dengan Alven, tetapi Mamanya Alven masih saja berniat untuk mengusiknya.
__ADS_1
"Sekali lagi, jangan pernah mengganggu kehidupan saya dan putri saya! Sudah jelas-jelas Ibu dengar keputusan pengadilan kalau hak asuh Cia jatuh ke tangan saya. Jadi Ibu jangan pernah berniat untuk merebut atau menculik Cia kembali, kalau Ibu tidak ingin bernasib sama dengan Putra Ibu Alven.
"Kamu mengancam saya! tanya Mamanya Alven
"Saya tidak pernah mengancam, tapi Ibu yang selalu ingin mengusik kehidupan saya! tolong ya Bu, hidup saya sudah tenang dengan suami saya dan keluarga saya. Suami saya yang sekarang ini juga menyayangi Cia dengan tulus. Cia baru merasakan kasih sayang penuh dari seorang ayah , dari suami saya yang sekarang,"
"Asal Ibu tahu, Regen tidak pernah memiliki waktu kepada putri saya Cia saat kami masih bersama. Kalau Ibu tidak percaya, Ibu langsung bisa tanyakan kepada Cia. Cia masih kecil, otomatis Cia tidak akan berbohong."Tamara kembali menekankan kepada mamanya Alven agar tidak mengusik kehidupannya lagi.
"Aku akan berusaha merebut Cia. Kalau kamu tidak menarik gugatan kamu terhadap Alven.
"Bukan saya yang melaporkan Alven ke kantor polisi, dan menjebloskannya ke penjara. Tetapi Regen dan Komnas perlindungan Anak yang menjebloskan Alven ke penjara,karna perlakuan Alven yang tega menyakiti anaknya sendiri. Tolong Ibu Catat!!!" Tamara sudah mulai emosi, karena mamanya Alven berniat ingin merebut Cia kembali.
Mamanya Alven menjadi kesal. Dia langsung berlalu meninggalkan Tamara sembari mengancam Tamara untuk tetap merebut Cia dari Tamara.
"Ada kekesalan tersendiri di hati Tamara. Sudah Alven yang menghianati dirinya, justru Mamanya Alven mengatakannya wanita murahan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian merebut Cia dariku, putriku akan menderita hidup bersama kalian yang hanya memikirkan uang dan uang. Kalian itu egois, tidak pernah mengerti dan paham perasaan orang lain." Tamara berjalan dengan gontai memasuki area sekolah. Menunggu putrinya keluar dari dalam kelas.Karena bel sudah berbunyi pertanda jam mata pelajaran di sekolah Cia Telah usai.
Tamara langsung menghampiri Cia yang keluar dari dalam kelas. Cia memeluk putrinya sembari langsung menggendong masuk ke dalam mobil. Sementara sopir pribadi yang disediakan oleh Regen untuk menghantarkan Tamara kemana saja, yang Tamara inginkan langsung melajukan mobilnya ketika melihat Tamara dan Cia duduk dengan nyaman.
"Maaf Nyonya, kita langsung pulang ke rumah atau singgah kemana? tanya sang sopir kepada Tamara.
"Kita ke ALC COMPANY, Saya ingin menemui suami saya."ucap Tamara sembari meminta kepada sang sopir untuk menghantarkan mereka ke kantor ALC COMPANY menemui Regen yang sedang bekerja di sana.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS
__ADS_1