
Mobil yang ditumpangi Tamara sudah melaju meninggalkan sekolah Cia. Mereka tidak langsung pulang ke rumah utama keluarga Aditama. Tamara ingin langsung menemui Regen di kantor ALC COMPANY. Berharap sang suami masih berada di kantor dan tidak ada meeting di luar kantor.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian membelah jalanan ibukota, kebetulan siang ini tidak terlalu macet. Akhirnya mobil yang ditumpangi Tamara sudah memasuki parkiran gedung pencakar langit itu.
"Nyonya, apa Nyonya turun di sini saja atau nyonya turun di parkiran?" tanya sang sopir kepada Tamara.
"Kami turun di lobby kantor saja Pak." ucap Tamara yang langsung dibalas anggukan oleh sang sopir.
Sang sopir menghentikan mobil tepat di depan lobby kantor. Kemudian sang sopir Turun dan membuka pintu untuk Tamara dan Cia.
Orang-orang yang sudah sangat mengenal Tamara disana langsung menghampiri Tamara. Karena Tamara dulunya juga bekerja di ALC COMPANY, langsung memberi salam kepada Tamara dan bertegur sapa dengannya.
Walaupun Tamara saat ini sudah menjadi istri pemilik ALC COMPANY sekaligus CEO ALC, dia selalu ramah kepada orang lain termasuk kepada mantan bawahannya dulu.
"Masya Allah, Ibu Tamara Saat ini semakin cantik saja, aku jadi pangling."ucap seorang wanita yang bekerja satu divisi dengan Evi.
Tamara Hanya mengembangkan senyumnya. "Kamu bisa aja Ris. Oh iya, Mas Regen ada di ruang kerjanya, tidak?" tanya Tamara kepada Riska yang kebetulan bekerja satu divisi dengan Evi.
"Tadi sih, sebelum aku turun mau makan sian, Tuan Regen ada di ruang kerjanya sedang ngobrol bersama Pak Januar."sahut Riska dengan ramah.
"Ya sudah, kalau begitu aku ke ruang Mas Regen dulu ya Ris," pamit Tamara sambil berjalan meninggalkan Riska dengan tangan kanannya tetap memegang tangan putrinya Cia.
"Ma, ini tempat kerja Papa Regen?" tanya Cia penasaran
"Iya sayang, papa kerja di lantai lima. Kita ke sana ya." ucap Tamara sembari berjalan hendak memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Sementara Regen melihat CCTV yang ada di ruang kerjanya, mengerutkan keningnya. Melihat Tamara memasuki lift khusus petinggi perusahaan. Padahal sebelumnya Tamara tidak mengatakan apa-apa kalau dirinya ingin datang ke kantor.
"Ada apa Tamara datang ke kantor? apa ada masalah ya?" gumam Regen dalam hati.
"Kenapa Bos? kok Bos kelihatan bingung?" tanya Januar melihat raut wajah Regen berubah.
"Nggak tahu, kakak ipar Kamu sepertinya mau datang ke sini. Tuh lihat dia memasuki lift. Ada apa ya, Kok tumben? Padahal sebelumnya dia nggak mengatakan apa-apa kalau dia akan datang ke kantor.
__ADS_1
"Siapa tahu Cia yang mengajak, atau Ada hal penting yang harus segera dia sampaikan kepada bos." sahut Januar membuat Regen sedikit bingung.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Regen. Dia sudah dapat menebak kalau istrinya yang akan memasuki ruang kerjanya.
"Masuk! teriak Regen mempersilahkan seseorang yang ada di luar pintu ruang kerjanya.
"Ceklek!!! sekali hentakan pintu ruang kerja reagen terbuka lebar.
"Papaaa....." Teriak Cia sambil berhamburan langsung memeluk Regen.
Regen langsung menggendong Putri kecilnya. lalu memberikan kecupan hangat di wajah cantik putrinya. Sementara Tamara langsung memberi salam dan mencium punggung tangan Regen takzim.
"Ada apa Sayang kok siang-siang nyamperin Mas ke kantor?" tanya Regen penasaran. sambil mengajak Tamara duduk di sofa.
Tamara memberitahu kedatangan Mamanya Alven ke sekolah Cia. Dia juga mengadu kalau dirinya khawatir akan keselamatan Cia. Membuat Regen menggeram kesal. "Mengapa orang itu selalu mencari masalah, pantang baginya melihat kamu bahagia." empat Regen kesal.
"Berani-beraninya wanita itu mendatangi kakak ipar, sudah anaknya yang salah masih saja ngeyel. Pantas saja putranya seperti itu, sedangkan orang tuanya aja tidak punya akhlak sama sekali." ucap Januar mencebik kesal mendengar cerita Tamara.
"Sudah Sayang, tidak perlu kamu pikirkan. Biar Mas yang ngurus semua bersama Januar." ucap Regen sembari memeluk istrinya.
"Bagaimana Tamara nggak khawatir Mas, Mamanya Alven itu mengancam kalau dirinya akan berusaha mengambil Cia dari kita. Karena mereka merasa berhak memiliki Cia." sahut Alven yang mampu membuat Januar semakin emosi.
Sementara di tempat lain, Evi yang sudah Melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan jam istirahat ia berniat ingin makan siang. "Lebih baik aku istirahat saja deh, Lagian perutku sudah lapar mudah-mudahan. Rumah Makan Minang Kang Udin buka." gumam Evi di dalam hati sembari beranjak dari tempat duduknya.
Ketika Evi keluar dari ruang kerjanya, ia sempat melirik ke ruang kerja Januar yang ternyata Januar tidak ada di ruang kerjanya. "Dimana panglatu itu, Apa sudah istirahat atau pergi makan siang di luar? tapi kalau dia pergi makan siang di luar tumben-tumbennya panglatu itu tidak mengajakku makan bareng."Evi bermonolog sendiri.
Kemudian ia berjalan hendak memasuki lift khusus para karyawan yang bekerja di ALC COMPANY. Tetapi sebelum dirinya memasuki lift, dia sayup sayup mendengar suara Januar dan Tamara yang berada di ruang kerja Regen.
"Jangan-jangan panglatu itu masih ada di ruang kerja bos, tapi sayup-sayup kok sepertinya ada suara Kak Tamara ya, apa memang kak Tamara berada di ruang kerja bos?"lagi lagi Evi bermonolog sendiri.
Daripada penasaran, akhirnya Evi memutuskan untuk menghampiri ruang kerja Regen.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga ketiga orang dewasa yang ada di ruang kerja Regen. Begitu juga dengan bocah kecil itu
"Papa, ada orang yang mengetuk pintu." Cia memberitahu karena Regen saat ini berusaha menenangkan Tamara
"Masuk!" teriak Januar dari ruang kerja Regen.
"Ceklek!"
Pintu ruang kerja Regen terbuka.
"Kak Tamara ada di sini toh!" ucap Evi sambil langsung menghampiri Tamara kemudian Ia pun langsung memeluk Cia dan memberikan kecupan hangat di wajah cantik Cia."
"Kakak kok nangis? ada masalah apa, Kak?
Bos Regen menyakiti kakak? tuduh Evi
"Sembarangan kamu ngomong! mana mungkin bos Regen menyakiti kakak ipar. Secara kan, Bos Regen cinta mati sama Kakak ipar." ucap Januar berusaha untuk menghibur Tamara membuat Tamara pun akhirnya tersenyum menatap Januar dan suaminya secara bergantian.
"Kalian ini ada-ada saja, masih sempatnya kalian menggombal aku, jelas-jelas pikiranku saat ini sedang kacau."
"Sudah kakak ipar, percaya sama Januar. Biar itu menjadi urusan Januar. Jangan sebut namaku Januar kalau mereka tidak aku tangani secepat mungkin, dan mereka tidak akan berani untuk mengganggu kakak ipar dan juga keponakanku." sahut Januar meyakinkan Tamara. Agar Tamara tidak terlalu mengkhawatirkan keselamatan Cia selama Cia berada di sekolah atau di manapun.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS
__ADS_1