
Dokter dan suster yang bertugas di rumah sakit Aditama group menaikkan tubuh Tamara ke atas branker yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Seluruh petinggi rumah sakit beserta jajarannya sudah berjejer memberikan hormat menyambut kedatangan Tuan Aditama, Regen, Tamara dan juga bayinya dan keluarga. Pertanda mereka sangat menghormati pemilik Rumah Sakit, tempat mereka mengabdikan diri dan mencari nafkah di sana.
Setelah Tamara sudah ditempatkan di ruang khusus pemilik Rumah Sakit, Tamara sudah mulai menggerakkan jari tangannya. Pertanda sebentar lagi, Tamara akan sadar dari tidur panjangnya. Setelah operasi besar dijalaninya dibantu oleh dokter Dirga dan rekan-rekannya.
Regen menghampiri Tamara.
"Sayang, Apa kau mendengar ku?"
"Terima kasih, kau sudah berjuang untuk Mas. Mas yakin kamu dapat bertahan, karena cinta dan kasih sayangmu yang begitu besar untuk Mas dan juga putra-putri kita. Kamu tahu sayang, Putra kita sangat tampan. Sama seperti Mas. Bibirnya seperti bibir kamu. Ayo Sayang, Buka matamu. Kau pasti akan mampu melewati semuanya. Mas janji, Mas tidak akan memberikan ampunan kepada orang yang tega menganiaya kamu.
"Apa kamu tahu sayang, kau sudah membuat aku sangat khawatir. Dokter memberikan pilihan yang sulit kepada Mas. Mas tidak tahu harus berbuat apa, pada saat itu. Rasanya langit seakan runtuh menimpa tubuh Mas. Ketika dokter meminta memilih antara kalian berdua,"
"Dengan terpaksa, Mas harus menandatangani kalau kamu yang mas pilih untuk diselamatkan. Sejujurnya saat itu Mas bukan tidak menyayangi Putra kita. Tetapi karena rasa cinta dan kasih sayang kamu kepada Mas, dibantu oleh dokter ahli dokter Dirga, yang merupakan dokter ahli di rumah sakit kita, yang membantu proses operasi itu. Hingga operasi itu berjalan dengan lancar.
"Kau tahu, ternyata dokter Dirga itu benar-benar ahli dan dapat membuat kamu terselamatkan dan juga Putra kita. Ayo Sayang, bangun!! kau juga ingin melihat Putra kita yang tampan itu, bukan?" ucap Regen.
Ketika Regen berusaha untuk membangunkan istrinya, tiba-tiba Tamara mengigau.
"Tolong, jangan siksa aku dan bayiku. Aku akan memberikan segala apa permintaanmu. Asalkan kamu lepaskan aku dan juga anakku."teriak Tamara di bawah alam sadarnya. Mendengar igauan Tamara, Regen sangat khawatir dengan kondisi psikologis Tamara.
"Sayang, bangun!! tidak ada yang ingin menyakitimu di sini. Mas, akan selalu ada di sisimu. Semua orang-orang yang di sini sangat menyayangimu sayang. Kau tahu, betapa sedihnya aku ketika mendapat kabar tentang Kamu. Mas tidak dapat berpikir jernih. Mas sudah seperti orang gila ketika mendengar kabar menghilangnya kamu"
"Apa kamu tahu, Mama dari kampung juga sangat mengkhawatirkanmu. Saat ini papa dan mama lagi di dalam perjalanan. Aku yakin, mereka juga sangat sedih ketika melihat kamu dalam kondisi seperti ini." ucap Regen sambil memberikan kecupan hangat di kening istrinya.
"Ayo bangun Sayang, Kamu pasti bisa melewati ini semua. Kasihan Cia, dia sudah menunggu kamu di rumah. Apa kamu tidak kasihan melihat putri kita yang cantik dan Putra kita yang tampan itu."ucap Regen sembari meneteskan air matanya, dan mengecup kening Tamara. Air mata Regen menetas tepatnya di bibir manis Tamara. Entah karena air mata itu, sehingga Tamara mulai membuka kelopak matanya.
"Apa Aku sudah di surga? tanya Tamara sembari menelisik seisi ruangan.
"Tidak sayang, kau di sisi Mas tidak ada yang bisa menyusahkan kita berdua." ucap Regen sembari memberikan kecupan hangat di bibir Tamara.
__ADS_1
"Apakah aku masih hidup?
"Iya, sayang!"
Kemudian Tamara meraba perutnya yang sudah terlihat rata.
"Dimana anakku?"
"Putra kita ada di ruang bayi, kamu tenang saja dia baik-baik saja di sana. Kamu tahu sayang, Putra kita sangat tampan. Tentunya dia mewarisi wajah tampan Papanya dan maminya yang cantik sepertimu.
"Tapi wajahku, tidak secantik dulu lagi mas. karena luka di wajahku pasti akan membekas. Aku pasti akan terlihat jelek. Kamu akan meninggalkanku, jika sudah seperti ini." ucap Tamara kepada Regen.
Siapa yang bilang aku akan meninggalkanmu, bagaimanapun kamu tetap istriku. Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang. Karena aku sangat mencintaimu, bukan karena hanya fisik saja. Tapi kamu memiliki hati Seperti malaikat.
"Tapi mas,"
tidak ada tapi-tapian, kamu tenang saja. Mas memiliki dokter ahli di bidang itu, dan wajahmu Akan Kembali Seperti sediakala. Kamu jangan khawatir." ucap Regen menyakinkan istrinya.
"Allahu Akbar...
"Allahu Akbar....
"Allahu Akbar....
"Tamara anak ayah kau sudah sadar? Terima kasih, kau sudah kembali kepada kami." ucap Pak suyatno dan ibu Sumiati sembari langsung meneteskan air matanya.
Ibu Sumiati tidak dapat membendung air matanya, melihat penderitaan yang dirasakan Tamara. Karena perbuatan orang-orang yang berniat jahat kepadanya.
Pak suyatno tidak dapat membendung air matanya. Tentunya air mata kebahagiaan, karena putrinya selamat dari jurang maut.
"Selamat ya nak, sekarang cucu Papa sudah ada dua. Tentunya ada Cia dan juga cucu laki-laki ayah jagoan ayah. Tentunya ini kebahagiaan tersendiri buat ayah." Ucap pak suyatno sembari mengembangkan senyumnya dan mengajukan yang Tamara.
__ADS_1
"Pa, Mas, Cia di mana? tanya Tamara kepada Tuan Aditama dan juga Regen.
"Cia, ada di rumah sebentar lagi dia akan datang ke sini."ucap Regen sembari mengembangkan senyumnya.
"Kasihan putriku Pasti dia mencari ku Tolong bawa segera dia kemari.
"Iya sayang, Mas akan meminta bibi dan sopir menghantarkan dia. Karena kata bibi, Cia tak berhenti-henti menangis mencari keberadaan kamu.
"Maafkan, Tamara sudah membuat kalian semua khawatir.
Kamu tidak salah sayang, mengapa kau harus minta maaf. Semua ini kesalahan Clarissa. Aku tidak akan mengampuni Clarissa sampai kapanpun."ucap Regen kepada Tamara.
***
"Mas, Tamara ingin melihat Putra kita." pinta Tamara kepada Regen.
"Belum bisa Sayang, kondisimu belum memungkinkan untuk melihat Putra kita. Dan Lagian Putra kita baik-baik saja kok. Makanya kamu harus cepat sembuh dong, agar kita bisa sama-sama merawat anak-anak kita kelak." ucap Regen sambil mengecup punggung tangan istrinya.
"Apa Putra kita benar-benar baik-baik saja Mas? tanya Tamara karena dia mengetahui kalau putranya itu terlahir prematur.
"Iya sayang, kamu tidak perlu khawatir.Putra kita baik-baik saja kok."
Evi dan juga Marissa sudah menyumbangkan darahnya kepada Tamara pun, datang menghampiri Tamara untuk sekedar mengetahui kondisi Tamara. Karena mereka benar-benar mengkhawatirkan kondisi Tamara.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1