
Evi benar-benar terhenyak ketika mendengar ungkapan perasaan Januar kalau Januar benar-benar mencintainya. Padahal Ia mengira kalau Januar menganggapnya hanya partner misi saja yang ingin mempersatukan dengan Tamara dengan Regen. Di samping itu, mereka juga rekan kerja. Sehingga Evi merasa tidak sungkan-sungkan berbicara dengan Januar.
Sementara di tempat lain, tepatnya di balik jeruji besi tempat Alven mempertanggungjawabkan segala perbuatannya terhadap Cia, Ia berteriak-teriak meminta dibebaskan oleh pihak kepolisian yang bertugas di sana. Tetapi salah satu petugas kepolisian itu datang menghampirinya.
"Heh!! kamu jangan teriak-teriak, jangan mengganggu orang yang lagi istirahat. Kalau kamu tidak ingin hukuman kamu bertambah berat." bentak petugas kepolisian itu kepada Alven.
"Aku tidak bersalah, Mengapa kalian menghukum ku? aku mengambil putriku sendiri, apa urusannya dengan kalian!!" teriak Alven yang merasa dirinya tidak bersalah.
"Diam! petugas kepolisian itu meminta kepada Alven untuk tidak berteriak yang dapat mengganggu kenyamanan di sana.
Sepeninggalan petugas kepolisian itu yang berjaga di sana, salah satu narapidana yang sudah lama menghuni sel itu langsung menarik Alven, dan memberikan tinju kepada wajah Alven. Hingga darah segar keluar dari sudut bibir Alven.
"Kamu tidak dengar apa yang dibilang pak pol tadi?kamu diam! kamu mengganggu ketenanganku saja lagi istirahat di sini." ucap pria itu sambil menarik kerah baju Alven yang mampu membuat nyali Alven menjadi menciut.
"Maksud kamu apa? aku nggak urus kamu mau istirahat atau tidak, yang penting aku harus bebas dari sini." ucap Alven tidak mau kalah karena merasa diremehkan oleh Alven, sehingga narapidana yang merupakan ketua di dalam satu sel dengan Alven langsung memberikan pukulan yang membuat Alven terhubung ke belakang.
"Kamu tandai saya, ya. Saya ketua di kamar ini! Jadi kamu jangan macam-macam kepada saya. Saya tidak peduli kamu siapa di luar sana. Yang pasti kita di Sini sama-sama penjahat" ucap pria yang bertubuh kekar itu kepada Alven.
Sementara di tempat lain kedua orang tua Alven sudah menemui pengacara untuk membebaskan Alven dari balik jeruji besi. Terlihat kedua orang tua Alven dan pengacara itu sudah datang menemui Alven.
"Ma, tolong bantu Alven keluar dari sini. Alven tidak betah tinggal di sini Ma, Alven tidak betah berada di sini kepada kedua orang tuanya saat datang untuk menjenguk Alven.
"Kamu tenang saja sayang, Mama akan berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan kamu dari sini. Mama dan Papa sudah membawa pengacara agar dapat meringankan atau membebaskan kamu dari jeratan hukum ini." ucap Mamanya Alven.
"Benar ya Ma, tolong bantu Alven keluar dari sini." Mohon Alven kepada kedua orang tuanya. Setelah selesai berbicara dan mengintrogasi Alven. Pengacara yang dipercayakan oleh orang tua Alven kembali meninggalkan Alven begitu juga dengan kedua orang tua Alven langsung berpamitan kepadanya.
__ADS_1
"Lihat saja Tamara, dan kamu Regen Aditama, Aku tidak akan membiarkan hidup kalian tenang. Kalian sudah membuat aku sampai berada di tempat ini. Tempat yang paling menjijikan ini. Aku akan membuat perhitungan kepada kalian." gumam Alven di dalam hati, menahan amarahnya ia bersumpah di dalam dirinya sendiri untuk tetap menghancurkan kebahagiaan Tamara dan juga Regen. Karena ia merasa dia yang layak bersanding dengan Tamara.
***
"Nek, Mama kapan pulang." tanya Cia kepada ibu Sumiati.
"Nanti kalau mama sudah pulang, Mama akan menjemput kamu. Dan kalian akan tinggal bersama dengan Opa Aditama dan juga Papa Regen di rumah utama keluarga Aditama." jawab ibu Sumiati.
"Memangnya Mama belum ada di rumah opa Aditama?
"Belum Sayang, Mama bersama Papa Regen masih banyak urusan yang harus mereka kerjakan terlebih dahulu. Setelah urusan mereka selesai, nanti Mama akan dijemput ke rumah ini." ucap Ibu Sumiati berusaha memberikan pengertian kepada cucunya.
"Oh gitu ya, Oma? ucap Cia sambil mengembangkan senyumnya. Pak suyatno yang mendengar percakapan antara dua wanita berbeda generasi itu, hanya mengembangkan senyumnya. Itu berarti Cia benar-benar menyayangi Tamara. Begitu juga dengan Regen. Terbukti bocah kecil itu sudah tidak sabaran menunggu Tamara dan Regen hidup bersamanya.
Padahal sebelumnya Pak suyatno sudah meminta kepada adiknya untuk tetap memperhatikan rumah beserta ladang mereka. Supaya adiknya sesekali membersihkan rumah sederhana yang mereka tempati selama ini. Selama Pak suyatno dan ibu Sumiati berada di kota Jakarta.
****
"Kamu mau ke mana?
Evi melilit jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Pak, ini sudah saatnya kembali bekerja. karena jam istirahat sudah selesai." sahut Evi padahal Evi belum menjawab ungkapan perasaan dari Januar.
Evi langsung melangkah keluar tanpa meminta persetujuan dari Januar membuat Januar mencebik kesal. Setelah Evi tiba di ruang kerjanya, Ia sama sekali tidak konsentrasi untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai karyawan di perusahaan ALC COMPANY.
__ADS_1
Kata-kata yang keluar dari mulut Regen terngiang-ngiang di kepalanya.
Ia memijit-mijit pelipisnya. "Benar nggak sih Pak Januar benar-benar mencintaiku? jika memang iya, kenapa baru sekarang Pak Januar mengungkapkannya? Terus apa mungkin kami jodoh? secara usia kami jauh berbeda. Tapi jika dilihat-lihat, Pak Januar tampan juga, dia juga baik dan mapan."gumam Evi di dalam hati. Sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Karena dia bingung akan perasaannya sendiri. Dan jawaban apa yang akan diberikannya kepada Januar. Karena ia tahu Januar pasti menuntut jawaban dari Evi.
Jam begitu cepat berlalu. Kini sudah pukul lima sore. Itu artinya jam pulang kerja sudah tiba. Evi membereskan meja kerjanya berniat langsung pulang hari ini. Tak ada niatan singgah ke manapun entah itu ke rumah Tamara atau sekedar refreshing ke sebuah Mall. Tetapi ia memilih untuk segera kembali ke apartemen miliknya.
Evi melangkah masuk ke dalam lift khusus karyawan.
Sepeninggalan Evi dari ruang kerjanya, Januar menghampirinya ke sana dan dia melihat Evi sudah tidak ada. Membuat Januar langsung buru-buru keluar menaiki lift khusus petinggi perusahaan.
Saat Evi sudah tiba di lobby, ia langsung berjalan menuju parkiran mobil di mana mobilnya saat ini terparkir. Kemudian ia langsung melajukan mobilnya keluar dari area kantor menuju apartemen miliknya.
Saat Evi sudah keluar dari area kantor,Januar baru tiba di parkiran. Ia melihat mobil Evi sudah keluar dari area kantor. Januar berusaha untuk mengejar mobil Evi, tapi lampu merah yang ada di depan sana menghalang dirinya untuk dapat mengejar Evi.
Januar membanting setirnya. "Kenapa sih, Evi langsung pergi saja tanpa berpamitan kepadaku? Apakah dia membenciku setelah aku mengungkapkan isi hatiku kepadanya? atau jangan-jangan dia mau pergi makan malam sama pria itu?" gumam Januar di dalam hati. Kemudian setelah lampu hijau menyala, Ia pun kembali melanjutkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap Ia dapat mengejar ke mana mobil Evi berlalu.
Januar khawatir kalau Evi pergi bersama pria yang bernama Christopher itu. Karena siang tadi ia sempat Mendengar pembicaraan Evi dengan Christopher. Yang mana Christopher mengajak Evi untuk makan malam.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN
__ADS_1