
Alven berlalu begitu saja meninggalkan Soraya di ruang kerjanya. Saat melihat Alven keluar dari ruang kerja Soraya penuh dengan emosi. Salah satu karyawan di butik milik Soraya masuk ke ruang kerja Soraya.
Khawatir terjadi sesuatu kepada sang Bos. ternyata benar wanita muda yang bekerja di butik milik Soraya menemukan Soraya sudah jatuh pingsan. Bukan malah membantu, melainkan Alven pergi begitu saja.
Seketika wanita muda itu panik. Dia pun memanggil salah satu rekannya untuk membantu dirinya membopong tubuh Soraya ke sofa, agar Soraya diberikan di sana.
Kedua wanita itu berusaha untuk menyadarkan Soraya. Mereka khawatir karena Soraya saat ini sedang hamil. Sehingga salah satu di antara mereka memilih untuk langsung menghubungi dokter.
Tak menunggu lama, dokter datang untuk memeriksa kondisi Soraya. "Apa yang terjadi? Mengapa ibu Soraya bisa pingsan? tanya dokter itu kepada karyawan yang bekerja di butik itu.
"Kami tidak tahu dokter, tapi sepertinya Nyonya Soraya dan suaminya sempat bertengkar di ruangan ini. Tapi kami tidak mengetahui apa penyebabnya, sehingga Nyonya Soraya pingsan." sahut Rara yang merupakan karyawan di sana.
Dokter menemukan ada kekerasan fisik di tubuh Soraya tepatnya di bagian wajah dan juga telinga Soraya. "Sepertinya ada kekerasan fisik yang membuat Soraya jatuh pingsan."gumam dokter itu sambil berusaha untuk menyadarkan Soraya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Soraya sadar.
"Saya di mana? tanya Soraya sambil menelisik sekelilingnya ruangannya. Tiba-tiba ia mengingat pertengkaran hebatnya dengan Alven, lalu ia menangis sesungguhkan.
Apalagi ketika Soraya mengingat kata talak dengan lantang terucap dari mulut Alven terhadapnya, membuat Soraya seolah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Sementara di tempat lain. Januar yang sudah kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Januar sudah berjanji kepada Evi, akan menjemput dirinya kembali di rumah utama Tuan Aditama, setelah pekerjaannya usai.
__ADS_1
"Mas, Cia dan Evi kok ngak balik balik ya?"
"Paling juga keasikan main sama papa." sahut Regen enteng.
"Tapi Tamara Kwatir Mas, soalnya sejak tadi Tamara hubungi nomor ponsel Evi, tak kunjung ada jawaban." ucap Tamara Kwatir.
"Kamu ngak usah Kwatir, mereka baik baik saja kok." sahut Regen seolah dia mengetahui apa saja yang di lakukan Cia dan Evi di rumah utama keluarga Aditama.
"Kok Mas, seolah bisa memastikan kalau mereka baik baik saja? atau jangan jangan ini sebagian dari rencana Mas? tuduh Tamara.
"Rencana apa maksudnya?"
"Saya nggak paham rencana apa yang kamu maksud."
"Ya sudahlah lupakan saja. "sahut Tamara sambil meraih ponsel yang ada di tas sandang miliknya.
Sebelum dia berhasil mengambil ponsel yang ada di tas sandang miliknya, suara deringan ponsel Tamara terdengar dan ternyata panggilan itu dari Evi. Tamara mengembangkan senyumnya saat melihat nomor ponsel Evi yang menghubungi dirinya.
Tamara menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel berharap yang menghubungi dirinya berbicara dengan jujur.
"Assalamualaikum, Kalian dimana sekarang?" tanya Tamara.
__ADS_1
"Kakak lebih baik pulang saja duluan, nanti Cia, Evi antara pulang ke rumah kalau dia sudah bosan bermain. Mending Kakak diantar Tuan Regen pulang ke rumah. Kalau tidak susul saja kami di rumah utama keluarga Aditama." usul Evi yang mampu membuat Tamara membulatkan matanya.
"Kamu ini gimana sih? tadi ngomongnya ke supermarket hanya sebentar saja. Tapi mengapa kalian tiba-tiba berada di sana?" ucap Tamara komplain.
"Jangan marah ya, Kak. Kebetulan Tuan Aditama memintaku langsung untuk menghantarkan pesanannya. Ternyata Cia betah bermain dengan opanya di sini." sahut Evi santai.
"Ya Sudahlah, enggak apa-apa. Gimana mau saya bilang lagi, kamu sudah berada di situ dengan Cia. Sudah otomatis Cia menikmati bermain di sana daripada di rumah yang sumpek dan sempit." sahut Tamara kemudian memutuskan sambungan telepon selulernya dengan sepihak.
Setelah selesai menerima sambungan telepon seluler dari Tamara, Evi tertawa ngakak mengalihkan atensi Tuan Aditama.
"Ada apa kamu tertawa? Sepertinya kamu senang sekali."tanya Tuan Aditama.
"Tuan rencana kita berhasil. Sepertinya, Kak Tamara dan Tuan Regen sudah semakin dekat. Terdengar dari nada suaranya, tidak ada nada emosi saat dia tahu dia saya bawa ke rumah ini. Mungkin sebentar lagi kak Tamara akan datang menyusul Cia kemari."ucap Evi dibalas tawa dari tuan Aditama.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1