Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 102. SAHABAT LAMA


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu. Kondisi kesehatan Januar berangsur-angsur membaik. Evi selalu setia menjaga Januar di rumah sakit. Apalagi Regen sudah memberikan izin kepadanya. Beberapa hari cuti untuk menemani Januar di rumah sakit.


Sementara Nyonya Raina, sikapnya terhadap Evi benar-benar berubah. Kali ini nyonya Raina benar-benar merestui hubungan Evi dengan Januar.


"Sayang bagaimana keadaanmu sekarang? tanya Nyonya Raina ketika dia baru memasuki ruang rawat inap Januar.


"Alhamdulillah, Januar sudah baikan mam." sahut Januar dengan suara parau.


"Ya sudah, kamu makan dulu ya. Kebetulan mama masak makanan kesukaan kamu." ujar Nyonya Raina.


"Januar sudah makan Ma, Evi yang suapi. Januar memberitahu kepada Nyonya Raina kalau dirinya sudah selesai makan siang.


Raut wajah Nyonya Raina sedikit kecewa. karena ia sudah bersusah payah untuk memasak makanan kesukaan putranya. Tapi Januar sudah keburu makan siang.


Evi menatap Januar. Seolah ia meminta agar Januar tetap saja memakan makanan yang dibawa oleh Nyonya Raina. Berharap Nyonya Raina tidak kecewa akan penolakan Januar kali ini.


"Januar akan makan sebentar lagi kok, Mom. Mama tenang saja."


"Ya sudah, kamu makan juga Evi sekarang. kamu pasti belum makan, kan?"tanya Nyonya Raina.


Evi mengembangkan senyumnya. Sembari menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menerima kotak bekal yang dibawa oleh Nyonya Raina lalu perlahan membukanya.


"Wah, sepertinya makanan ini sangat enak sekali Tante. Evi mencicipi masakan Nyonya Raina. Tiba-tiba ia teringat dengan rasa masakan itu Yang Tak asing baginya.


"Kok masakannya rasanya sama seperti masakan Ibu?"gumam Evi yang masih dapat didengar Nyonya Raina.


"Maksud kamu?


"Iya, tante. Aroma masakan dan Citra rasa masakan ini, sama persis seperti masakan almarhum ibunya Evi." ucap Evi sambil mengingat Citra rasa masakan Ibu Zubaidah yang merupakan almarhumah Ibu kandung Evi.

__ADS_1


"Tidak mungkin. Karena masakan ini merupakan resep rahasia. Yang mengetahui resep ini hanya dua orang saja. Kebetulan Mama, dulu sempat ikut lomba memasak saat SMK dulu. Dan Mama beserta teman Mama, membuat resep ini sendiri. Jadi tidak akan ada orang yang mengetahui resep ini selain kami berdua."ucap Nyonya Raina.


"Evi tidak bohong Tante, Evi tau betul masakan ibunya Evi." Evi terus mempertahankan Kalau Citra rasa masakan itu sama persis seperti masakan ibu Zubaidah.


Nyonya Raina mengerutkan keningnya. Ketika Evi tetap bertahan kalau Citra rasa masakan ibu kandungnya sama persis seperti makanan masakan Nyonya Raina.


"Kalau memang Citra rasa dan aroma masakan ini Sama persis dengan masakan ibu kamu. Mama pengen mengetahui Siapa nama ibu kamu? Maaf bukan berniat untuk mengingat duka yang sudah lama. Tapi rasanya Mama heran, Mengapa Citra rasakan masakan mama sama persis sama Citra rasa masakan Ibu kamu. Itu yang membuat Mama bingung."


"Nama ibu saya Risma Zubaidah."


"Risma Zubaidah?"


"Iya, Tante. Nama ibu saya Risma Zubaidah." sahut Evi jujur


"Astaga! Jadi kamu putri dari sahabat Mama yang bernama Risma?" Nyonya Raina kembali bertanya kepada Evi membuat Evi mengerutkan rekeningnya.


"Iya! sahabat Mama. Risma itu sahabat lama Mama ketika Mama masih duduk di bangku SMK. Kami sekolah di kota Pematangsiantar, tapi setelah tamat SMK, Mama melanjutkan pendidikan di kota Jakarta. Sementara ibu kamu memilih untuk langsung bekerja saat itu. Di salah satu restoran di kota Medan. karena nenek kamu tidak sanggup untuk menguliahkan ibu kamu saat itu."sahut Nyonya Raina.


Evi seolah tak percaya apa yang didengarnya dari nyonya Raina. Kalau wanita yang ada di hadapannya saat ini merupakan sahabat lama ibu kandungnya sendiri.


Nyonya Raina meraih tubuh Evi kepelukannya. Ia memeluk Evi. Rasanya Nyonya Raina memeluk sahabat lamanya sendiri yang sudah sangat lama tidak mendapat kabar darinya, yang ternyata ibu kandung dari Evi Risma Zubaidah sudah meninggal dunia. Hal itu membuat Nyonya Raina semakin merasa bersalah telah memandang rendah Evi, dan sempat menolak Evi menjadi menantunya. Yang ternyata Evi merupakan sahabat lam Nyonya Raina .


"Maafkan Mama, sayang. Atas kata-kata mama tempo hari. Mama benar-benar minta maaf." ucap Nyonya Raina kepada Evi.


"Mama tidak menyangka, ternyata kamu putri dari sahabat lama .ama. Jujur mama sangat rindu sama ibu kamu. Dia wanita yang baik, dia wanita yang solehah, dan juga periang. Dia juga senang membantu orang lain. Dia lebih peduli dengan kebahagiaan orang lain dibandingkan kebahagiaannya sendiri. Nyonya Raina mengingat kebaikan sahabatnya yang bernama Risma.


"Jadi Mama sahabat ibunya Evi? tanya Januar dengan perlahan membuka mulutnya.


"Iya sayang, itu pasti. Risma Zubaidah sahabat lama Mama saat sekolah SMK di Pematangsiantar, yaitu SMK pariwisata yayasan USI."sahut Nyonya Raina sambil langsung mendekat ke arah putranya.

__ADS_1


Nyonya Raina memeluk Januar dan Evi secara bersamaan. Kemudian Ia pun meminta maaf kepada Januar dan juga Evi karena sudah menghalangi hubungan mereka beberapa waktu yang lalu. Padahal Nyonya Raina sudah melihat kalau Januar dan Evi sama-sama saling mencintai.


"Sudahlah tante, tidak perlu minta maaf Yang Lalu biarlah berlalu. Jangan pernah disesali semuanya pasti ada hikmahnya. Lagian Tante nggak sepenuhnya salah kok. Evi yang salah, karena Evi sudah kalah sebelum berjuang sama sekali."ucap Evi sambil menatap Januar dan nyonya Raina secara bergantian.


Sementara di tempat lain, terlihat Regen sangat sibuk di perusahaan ALC COMPANY apalagi saat ini Januar dan Evi tidak ada di kantor membantu dirinya. Hingga Tuan Aditama pun akhirnya kembali membantu Regen di kantor. Sampai Januar benar-benar pulih kembali dapat membantu Regen menjalankan perusahaan ALC COMPANY.


"Regen, ini sudah malam. Lebih baik kita pulang sekarang. Tamara dan Cia pasti sudah menunggumu."ucap Tuan Aditama ketika melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 07.00 malam.


"Iya, Pa. baru aja Tamara menghubungiku katanya Cia tidak mau makan sebelum aku pulang ke rumah."sahut Regen sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya. Tuan Aditama berjalan bersama Regen, bersamaan menaiki lift khusus petinggi perusahaan.


Setelah tiba di parkiran mobil, Mario yang sudah menunggu Tuan Aditama dan juga Regen langsung membuka pintu agar Tuan Aditama dan Regen dapat masuk dengan leluasa.


Saat Tuan Aditama dan juga Regen sudah duduk dengan nyaman di bangku Tengah, Mario melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarga Aditama.


Sepanjang perjalanan Regen berbalas pesan dengan Tamara. Karena dari tadi Cia sudah merengek menunggu kepulangan Regen dari kantor. Tamara sedikit kewalahan untuk membujuk Cia makan malam. Tetapi dia bersikukuh makan malam bersama Regen.


Regen tersenyum saat menerima pesan dari Tamara. "Begitu sayangnya putri kecilku kepadaku, sehingga dia mampu menahan laparnya hanya untuk menungguku makan bersama."ucap Regen sambil tersenyum sumringah yang dapat didengar oleh Tuan Aditama.


"Iya, bocah kecil itu memang bisa mencuri hati semua orang. Tapi kamu juga harus berpikir, program lah Adik untuk Cia agar Cia tidak merasa kesepian di rumah."ujar Tuan Aditama sambil mengembangkan senyumnya.


Regen menggaruk kepalanya yang tak gatal. sebenarnya Regen juga menginginkan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh Tuan Aditama. Tapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda yang menyatakan kalau Tamara itu hamil.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2