Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 102. JANUAR KEMBALI


__ADS_3

Dokter yang menangani Januar sudah mulai putus asa. Ketika alat pemacu jantung itu tak berhasil membuat denyut jantung Januar kembali berdetak.


Dokter itu pun menggelengkan kepalanya. Hingga dokter itu akhirnya menghentikannya.


"Sus kematian, jam 12.35."ucap dokter itu memberitahu kematian Januar kepada suster agar suster mencatatnya di dalam berkas pasien atas nama Januar.


Mendengar itu, Evi tak kuat. Ia Terus berusaha mengguncang tubuh Januar.


"Sayang kamu harus bangun, Tolong jangan siksa aku seperti ini. Kalau kamu benar-benar mencintaiku Kenapa kamu pergi begitu saja. Apakah kamu ingin membiarkan aku bersedih melihat kepergianmu.


Evi terus mengguncang tubuh pria yang terbujur di atas branker. Suster itupun meminta kepada Evi agar tidak menggoyang-goyang tubuh Januar. Perlahan suster itu ingin melepas alat-alat medis yang menempel di tubuh Januar. Tetapi tangan Evi langsung menghentikannya.


"Jangan suster! dia masih hidup. Aku yakin dia lelaki yang tidak pernah ingkar janji. Dia sudah berjanji kepadaku ingin segera menikahi ku."tangis Evi kepada suster.


Suster itu pun menatap Evi dengan tatapan kasihan. Sehingga suster itu masih memberikan waktu kepada Evi. Suster itu meninggalkannya sementara Nyonya Raina dan Tuan Baskoro terus menangis histeris. Ketika suster dan dokter sudah keluar dari ruang ICU itu. Mereka mendengar suara jerit tangis Evi di dalam sana.


Tuan Baskoro masih membiarkan Evi di dalam. Pihak rumah sakit sudah meminta kepada Tuan Baskoro Untuk segera menyelesaikan administrasinya.


Tuan Baskoro menghubungi Regen dan memberitahu kalau Januar saat ini sudah tiada. Membuat Regen benar-benar terhenyak, ia pun langsung menghubungi Tamara agar segera bersiap-siap, karna mereka akan pergi ke rumah sakit.


Tamara seolah tak percaya ketika Regen memberitahu dirinya. Kalau Januar sudah pergi untuk selamanya. Tangis Tamara pun pecah, begitu banyak pertolongan Januar kepadanya selama ini.


Sementara Evi yang masih berada di ruang ICU bersama lelaki pujaan hatinya, yang sudah terbujur di atas branker terus mengguncang tubuhnya berharap pernyataan dokter itu salah.


Evi memberanikan mengambil alat pemacu jantung itu. Kemudian ia beberapa kali menempelkan alat pemacu jantung itu kepada bagian dada Januar. Berharap denyut jantung Januar kembali berdetak.


"Sayang please, aku mohon. Kalau kamu benar-benar mencintaiku kamu bangun! bukan matamu sayang." tangis Evi sembari terus menggosok alat pemacu jantung itu lalu menempelkannya ke bagian dada Januar.

__ADS_1


Tiba-tiba keajaiban pun terjadi, denyut jantung Januar pun kembali berdetak. Ia melihat dimonitor kalau denyut jantung Januar benar-benar berdetak. Sehingga Evi langsung berteriak meminta tolong kepada dokter dan suster yang menangani Januar untuk segera menghampirinya.


Sementara Tuan Baskoro dan nyonya Raina tidak kalah terkejutnya. Kenapa tiba tiba Evi menjerit memanggil dokter suar teriak Evi begitu nyaring. Ketika dokter dan suster kembali masuk ke ruangan ICU itu, dokter itu benar-benar terhenyak melihat keajaiban terjadi.


"Ini benar-benar ajaib, mukjizat terjadi."ucap dokter itu di hadapan Nyonya Raina dan juga Tuan Baskoro. Evi benar-benar bersyukur ternyata usahanya tidak sia-sia untuk membangunkan sang pujaan Hati.


"Terima kasih sayang, kamu telah kembali." ucap Evi kembali memberikan kecupan hangat di kening Januar. Nyonya Raina membiarkan Evi berada di dekat Januar.


Perlahan janur membuka bola matanya. "Sayang terima kasih kamu sudah kembali."ucap Evi kembali sambil terus memberikan kecupan di bagian punggung tangan Januar.


Dokter itu benar-benar tidak menyangka pasien yang mengalami luka parah seperti Januar jarang sekali dapat selamat. "Alhamdulillah, kamu kembali sayang."ucap Evi kembali.


Januar menatap Evi, dia ingin berbicara Tetapi dia kesulitan untuk membuka mulutnya. Karena tenggorokannya terasa kering dan sulit untuk berbicara.


Suster dan dokter pun kembali memeriksa. ternyata Januar sudah lepas dari masa kritisnya. "Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Tolong persiapkan segalanya." ujar dokter itu kepada suster yang bertugas membantu dokter itu menangani Januar


Tuan Baskoro memeluk putranya. Begitu juga dengan Nyonya Raina. "Papa sangat mengkhawatirkanmu entah apa yang akan Papa lakukan jika terjadi sesuatu kepada Kamu ." Tangis Tuan Baskoro kembali memeluk putranya.


Saat ini Tuan Baskoro dan nyonya Raina benar-benar bersyukur. Dokter yang sudah sempat menyatakan kalau Januar sudah tiada. Kini pria tampan itu sudah mulai membuka matanya.


Sementara di tempat lain, Regen sudah tiba di rumah utama keluarga Aditama, langsung menghampiri Tamara yang sudah siap dijemput oleh suaminya. Sedangkan dia juga ikut bersama mereka dan Tuan Aditama.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Mario pun tiba di rumah sakit. Mario menghentikan mobilnya tepat di parkiran rumah sakit.


Regen, Tamara, Cia, dan Tuan Aditama langsung turun dari dalam mobil. Dengan langkah lebar, Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Dengan langkah terburu-buru Regen langsung menggendong tubuh Cia. Agar mereka lebih cepat tiba dimana Januar berada saat ini.

__ADS_1


Saat mereka sudah tiba di depan ruang ICU, Regen yang sudah mendapatkan kabar Kalau Januar sudah pergi untuk selamanya. Dia bingung karena Tuan Baskoro dan nyonya Raina tidak ada di sana.


Dokter dan suster yang sudah memastikan kondisi Januar sudah stabil dan dia sudah benar-benar sadar. Baru keluar dari ruang ICU.


Sementara Januar masih berada di ruang ICU bersama Tuan Baskoro , nyonya Raina dan Evi. Karena ruangan yang diminta oleh Tuan Baskoro untuk di tempati oleh Januar belum bisa ditempati, berhubung kamar itu saat ini sedang di persiapkan oleh pihak rumah sakit. Sehingga dokter meminta kepada pihak keluarga Januar untuk lebih bersabar.


Beberapa menit kemudian suster pun berniat memindahkan Januar ke ruang rawat inap. Kini tubuh Januar sudah didorong keluar dari ruang ICU menuju ruang rawat inap. Yang diikuti oleh Evi, Tuan Baskoro dan nyonya Raina.


Melihat itu semua Regen, Tamara ,Tuan Baskoro benar-benar terkejut dan menatap Tuan Baskoro dengan tatapan penuh tanya. Mereka pun mengikuti langkah Tuan Baskoro sampai ke ruang rawat inap itu.


Saat ini Januar sudah berada di ruang rawat inap. Regen benar-benar bersyukur ternyata adik sepupu sekaligus asistennya itu tidak benar-benar pergi untuk selamanya.


Regen memberikan pelukan kepada Januar. "Aku senang kamu sudah kembali sadar Jujur aku sangat mengkhawatirkanmu." ucap Regen sambil menatap adik sepupu nya itu dengan tatapan penuh arti.


Begitu juga dengan Tamara. Dia benar-benar bersyukur kalau Januar tidak benar-benar pergi seperti apa yang diberitahu oleh Regen kepadanya..


Tuan Aditama tidak kalah bahagianya, saat mengetahui kalau Januar masih hidup.


"Sayang, lihatlah begitu banyak yang menyayangi kamu. Apa kamu tega membiarkan orang-orang yang menyayangi kamu bersedih? ucap Nyonya Raina. Tak Ada jawaban sama sekali dari Januar pandangannya terus mengarah kepada Evi.


Nyonya Raina yang menyadari akan hal itu langsung menarik tangan Evi menyatukan tangan Evi dengan Januar . Nyonya Raina pun merestui hubungan keduanya. "Mama merestui hubungan kalian, jika kalian saling mencintai Mama hanya bisa merestui."ucap nyonya Raina kepada Januar dan juga Evi sambil menyatukan tangan keduanya.


Semua orang tampak tercengang melihat perubahan sikap Nyonya Raina kepada Evi, yang sudah terlihat baik dan juga lembut. wajah Evi terlihat Pias.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2