
"Aaaa....."teriak Januar ketika dirinya sudah tiba di sebuah danau yang lokasinya lumayan jauh dari ibukota. Sebelumnya Januar sudah berusaha mencari keberadaan Evi, tapi Januar tak kunjung menemukan Evi.
"Semua ini gara-gara Mama!!!" teriaknya kembali dia benar-benar kesal akan sikap Nyonya Raina terhadap wanita yang sangat ia cintai. Hingga malam pun tiba. Januar tak kunjung beranjak dari tempat duduknya. Malam ini dia tidak akan kembali ke rumah.
Dia memilih menginap di sebuah hotel, yang lokasinya di sekitaran danau itu. Berulang kali Januar menghubungi nomor ponsel Evi. Tapi tak kunjung tersambung. Hal itu membuat Januar semakin frustasi, berulang kali ia juga mengirimkan pesan Whatsapp tapi tak kunjung mendapat balasan bahkan pesan yang ia kirimkan hanya centang satu abu-abu.
"Kemana sih, Evi? apa dia memblokir nomor WhatsApp ku. Kenapa fotonya sudah tidak ada lagi pertanyaan kembali timbul di hati Januar. Saat ini dia benar-benar kaca. Tiba-tiba suara deringan ponselnya berdering. Ia mengira kalau yang menghubungi dirinya adalah Evi.
Ternyata dia salah. Ia melihat nomor ponsel Nyonya Raina yang menghubungi dirinya. Januar yang sudah terlanjur emosi kepada Nyonya Raina langsung memutuskan sambungan telepon itu. Kemudian ia memblokir nomor ponsel Nyonya Raina agar Nyonya Raina tidak dapat menghubungi dirinya.
Sementara Nyonya Raina mencebik kesal ketika sambungan telepon selulernya kepada putranya tidak tersambung. Bahkan saat ini nomor ponsel Nyonya Raina diblokir oleh putranya sendiri. Membuat nyonya Raina semakin kesal terhadap Januar.
"Lihat nih, Putra Papa tadi masih bisa dihubungi. Tapi dia tidak mengangkat sambungan telepon nya. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Dia sudah memblokir nomor ponsel Mami." ucap nyonya Raina menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Mama tidak perlu menatap Papa seperti itu! semua ini gara-gara Mama. Mama sendiri yang membuat Mama menjauh dari Putra Mama sendiri.
Mama hanya ingin memberikan yang terbaik kepada Putra kita Pa. Papa saja yang selalu memanjakan dia. Dia selalu ingin dituruti keinginannya. Sedari dulu Mama sudah memintanya untuk menikah dengan Putri dari teman Mama, dia wanita dari keluarga orang terpandang di negara ini." ucap Nyonya Raina.
"Ma! kebahagiaan Putra kita bukan karena wanita itu terlahir dari keluarga terpandang, tapi Putra kita mencintai wanita sederhana seperti Evi.Memangnya Mama yang ingin menjalani hubungan rumah tangga itu Mama atau Januar sih? Mama tidak boleh egois, Mama harus dengarkan apa kata hati Putra Mama sendiri. Lihat Januar sampai saat ini belum pulang, entah kemana dia sekarang." ucap Tuan Baskoro, Karena sudah emosi melihat sikap dan tingkah laku istrinya terhadap Evi, Wanita yang dicintai oleh putranya.
"Sudahlah, Papa berisik! bukannya cari solusi malah menyudutkan Mama lagi!"Oceh Nyonya Raina sambil langsung meninggalkan suaminya begitu saja.
Sementara Regen yang sudah mendapatkan informasi dari Tuan Baskoro, kalau saat ini Januari belum juga kembali, setelah sore tadi pergi meninggalkan rumah dengan kemarahannya. Regen mencoba menghubungi nomor ponsel Januar. Berharap Januar bersedia mengangkat sambungan telepon selulernya.
Ketika sambungan telepon seluler itu tersambung, Regen bernafas lega ternyata asisten sekaligus adik sepupunya itu masih sehat saat ini. "Ada apa Bos? tanya Januar ketika sambungan telepon seluler itu tersambung.
"Kamu di mana sekarang?
__ADS_1
"Aku ingin menenangkan diri dulu Bos jadi tolong jangan diganggu dulu. Dan aku ingin ajukan cuti untuk beberapa hari" ucap Januar kepada Regen.
"Tapi kamu dimana sekarang?
"Yang pasti saya berada di tempat yang aman." sahut Januar.
"Januar, Kalau ada masalah dibicarakan saja dengan baik-baik. Jangan lari dari masalah." ujar Regen kepada jamur sang adik sepupu.
"Aku tidak lari dari masalah, Aku hanya takut kehilangan kendali jika bertemu dengan Mama. Lebih baik jamur menghindar dulu. sekarang aku juga tidak mengetahui Di mana keberadaan Evi saat ini."
"Maksud kamu apa?
"Evi pergi ke rumah sakit, aku juga tidak tahu di rumah sakit mana. Karena saat berada di rumah, tiba-tiba saja Evi mendapatkan sambungan telepon. Dan saat sambungan telepon seluler itu terputus, Evi langsung berpamitan untuk kembali. Lalu aku menawarkan diri untuk menghantarkannya. Tetapi dia menolak bahkan langsung pergi meninggalkan rumah, sambil langsung menaiki ojek online yang sudah ia pesan.
"Memangnya siapa yang sakit?
"Ya sudah, kalau begitu biar saya coba berbicara dengan Tamara. Siapa tahu Tamara bisa menghubunginya."ucap Regen kepada Januar berusaha untuk menenangkan adik sepupunya itu.
Setelah selesai berbicara dengan Januar, Regen langsung memutuskan sambungan telepon sebenarnya. Tamara yang berada di sampingnya menatap suaminya.
"Sayang, coba kamu hubungi Evi sekarang. soalnya Januar menghubungi Evi sambungan teleponnya tidak tersambung. Menurut penuturan Januari, Evi pergi meninggalkan rumah Om dan Tante setelah Evi mendapat sambungan telepon seluler dari seseorang."ujar Regen.
Tamara meraih ponselnya yang saat ini ia letakkan di atas meja. Dia mencari nomor ponsel Evi. Saat Tamara sudah menemukan nomor ponsel Evi di layar ponselnya, dia mencoba menghubunginya.
Beberapa kali Tamara mencoba. Tapi operator yang menjawab telepon Tamara.
"Bagaimana Sayang? apa FB tidak bisa dihubungi?
__ADS_1
"Iya Mas, nomor ponsel EVi sama sekali tidak bisa dihubungi. Sepertinya ponselnya tidak aktif karena yang menjawab hanya operator."Di rumah sakit mana ya si Evi? Terus siapa yang sakit?" tanya Tamara.
"Mas juga tidak tahu sayang, makanya Mas mau minta kamu untuk menghubunginya. Memang sore tadi, Januar membawa Evi bertemu dengan kedua orang tuanya. Tapi menurut penuturan Januar Tante kurang menyetujui.
Setelah Evi mendapatkan sambungan telepon, dia langsung pergi tanpa menjelaskan ke mana dia. Evi hanya memberitahu kalau dia pergi ke rumah sakit."ucap Regen menuturkan apa yang diberitahu oleh Januar kepadanya.
Cia yang baru datang menghampiri kedua orang tuanya. menatap wajah kedua orang tuanya. Terlihat kekhawatiran di wajah Tamara dan juga Regen.
"Mama kenapa? tanya Cia yang baru selesai bermain dengan Tuan Aditama. Tamara mengalihkan atensinya ketika mendengar putrinya berbicara.
"Mama tidak apa-apa sayang, hanya Mama mengkhawatirkan Tante Evi.
"Memangnya Tante Evi kenapa, Ma?
"Mama juga tidak tahu sayang, Mama tidak bisa menghubungi Tante Evi."sahut Tamara membuat putrinya juga mengkhawatirkan Evi.
"Kita berdua aja ya, Ma. mudah-mudahan tante Evi baik-baik saja. lebih baik kita salat sekarang Ma." ucap Evi kepada Tamara mengingatkan Tamara untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.
"Terima kasih sayang, kamu sudah mengingatkan mama." ucap Tamara sembari langsung mengecup wajah cantik putrinya. sementara Regen menatap kedua wanita berbeda generasi itu sambil mengembangkan senyumnya.
"Masya Allah, ternyata putri kecilku berpikiran dewasa. Dia juga sudah kita untuk meminta petunjuk kepada Allah."kini giliran Regen yang memberikan kecupan hangat di wajah cantik Cia. Mereka pun akhirnya sholat berjamaah.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN