Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 67." KITA NIKAH YUK."


__ADS_3

Karena Evi sudah merasa nyaman ada yang menjaganya Di sana, ia pun akhirnya tertidur pulas. Sementara Januar sama sekali belum bisa tertidur. Saat ia melihat wanita yang di sebelahnya sudah tertidur pulas, ia mengembangkan senyumnya. Kemudian ia mengelus rambut wanita yang ada di sampingnya, yang mampu membuat Januar senyum-senyum sendiri layaknya seorang pemuda yang kasmaran. Januar menatap wajah polos wanita itu. Hingga ia tidak dapat menahan diri lagi. Dia langsung memberikan kecupan hangat di wajah cantik wanita itu


"Selamat tidur, bawel." ucapnya lirih kemudian ia tersenyum dan kembali memejamkan matanya. Pukul dua dini hari, akhirnya Januar tertidur pulas mengarungi alam mimpinya.


****


Pagi hari ini, matahari sama sekali tidak terlihat. Karena awan yang menyelimuti. hujan pun masih melanda ibukota. Banjir di jalanan belum juga surut.


"Huyammm...... Evi bergeliat kemudian perlahan Ia membuka bola matanya. Ia mengingat kalau Januar tidur di sampingnya. Tapi setelah ia terbangun pria itu tidak ada lagi di sampingnya, membuat Evi langsung bangkit dari tempat tidur.


"Pak.... Pak Januar Bapak di mana?" Evi memanggil Januar sembari berjalan keluar dari kamarnya. sayup sayup Evi mendengar suara berisik dari arah dapur. Evi berjalan ke arah dapur. Ia benar-benar terhenyak saat ini Januar sedang sibuk menata sarapan pagi yang ia masak di dapur.


"Astagfirullah, bapak yang masak ini semua? Memangnya Bapak bangun jam berapa?


"Boleh nggak kalau di luar kantor kamu tidak memanggil saya dengan panggilan bapak? apa saya sudah terlihat tua, sehingga kamu memanggil saya dengan bapak-bapak? ini di luar kantor loh. Kalau di kantor bolehlah Kamu memanggil saya dengan panggilan Pak karena itu profesional kerja. Tapi masalahnya ini di luar kantor loh."ucap Januar tiba-tiba komplain kalau saat ini Evi memanggilnya dengan panggilan bapak.


"Terus aku harus manggil apa, dong?


"Terserah kamu, yang penting enak didengar.


Evi menggaruk kepalanya yang tak gatal Entah mengapa tiba-tiba atasannya itu meminta, kalau dirinya tidak bisa memanggilnya dengan panggilan Bapak di luar kantor. Padahal sebelum-sebelumnya Januar tidak pernah komplain sama sekali.


"Ya udah deh , aku panggil Kakak aja.


"Kakak? Aku bukan kakak kamu."


"Terus manggil apa dong, tadi katanya panggilnya terserah.


"Ya, selain Kakak dan bapak. Yang penting enak didengar."


"Ya udah aku panggil Mas aja deh," sahut Evi


"Nah itu juga bisa." ucap Januar sambil terkekeh.


Januar mempersilahkan Evi untuk menyantap sarapan pagi yang sudah ia hidangkan.


"Ya sudah, kamu mandi aja. Habis itu kamu langsung sarapan."ujar Januar.


Evi langsung mengangguk. Dia berlalu ke kamar dan melakukan ritual mandinya. Kemudian setelah Evi selesai melakukan ritual mandinya Ia pun Kembali keluar setelah memastikan penampilannya sudah terlihat rapi.


"Cantik." gumam Januar yang masih dapat didengar oleh Evi. Evi hanya diam memilih Tidak berkomentar apa-apa, dan pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan Januar sebelumnya.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan." ujar Januar kemudian keduanya pun duduk di meja makan sederhana yang ada di apartemen Evi.


"Pak Januar bangun jam berapa sih? kok sudah rapi dan menyiapkan sarapan pagi?


"Sekitar pukul 06.00, Sepertinya kita tidak bisa ke kantor ini, karena banjir masih belum surut apalagi saat ini hujan masih lebat Tuan Regen juga sudah menginformasikan kepadaku kalau hari ini kita libur."ucap Januar memberitahu kemudian keduanya pun menyantap sarapan pagi buatan Januar.


"Sumpah, nasi goreng ini enak Banga. Aku nggak nyangka loh Pak Januar pintar masak." puji Evi


"Bukan pintar, tapi bisa." sahut Januar


"Sama aja mah, yang penting Evi makan dengan lahap." ucapnya sambil menyendok nasi goreng itu ke mulutnya, hingga tidak menunggu lama nasi goreng yang ada di piring Evi tandas.


"Sepertinya Pak Januar memiliki potensi menjadi koki."


"Ah tidak juga, ini hanya kebetulan saja masak nasi goreng Siapa saja bisa."


"Enggak loh Mas, untuk pertama kalinya Evi memanggil Januar dengan panggilan Mas. membuat Januar mengembangkan senyumnya.


Setelah selesai sarapan pagi, keduanya berjalan menuju ruang tamu.


"Mas, serius kalau kantor saat ini libur?


"Untung ya Mas, persiapan pernikahan Tuan Regen dan Kak Tamara telah selesai kita laksanakan. Aku sudah tidak sabar melihat mereka bersanding di pelaminan. Kalau boleh setelah Tuan Regen dengan Kak Tamara melangsungkan pernikahannya, Pak Januar menyusul lagi deh. Aku akan membantu persiapan pernikahan Mas Januar." ucap Evi.


"Terus, kalau kamu yang menjadi mempelai wanitanya gimana?" ucap Januar seperti bercanda.


"Jangan ngadi-ngadi Mas, Nggak mungkin lah.


"Nggak mungkin gimana? yang Nggak mungkin itu bisa menjadi mungkin."


Evi menggaruk kepalanya yang tak gatal."


"Ya Nggak mungkin lah, secara kita selama ini hanya sebatas atasan dan bawahan. Kita juga tidak ada hubungan apa-apa.


"Ada."


"Maksudnya?


"Kan, Kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak mencari pacar tapi mencari suami. Kamu juga tidak perlu pacaran, yang intinya kalau suka sama suka yang menikah langsung." ucap Januar


"Maksudnya?

__ADS_1


"Kita menikah yuk." ajak januar membuat Evi tiba-tiba langsung tertawa ngakak.


"Kok tertawa, sih?


"Lucu saja, mana ada orang mengajak menikah seperti itu. Nggak lihat apa, drama-drama Korea itu. Jika sedang ingin melamar seorang wanita dambaan hatinya pasti memperlakukan wanita itu secara khusus. Jadi nggak usah bercanda. Bercandaannya nggak asik." ucap Evi menggerutu.


"Memangnya siapa yang bercanda?


Aku serius kok."


"Sudah lah, yang lain aja dibahas." sahut Evi


"Tapi aku ingin membahas ini sekarang.


Evi terdiam memilih tidak menjawab pria yang ada di sampingnya saat ini.


Kemudian Januar langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, dan kepalanya ia taruh di atas paha Evi membuat Evi benar-benar terhenyak dengan tingkah pria yang selama ini dekat dengannya.


"Mas, jangan seperti ini dong.


"Biarkan saja dulu, malam tadi aku kurang tidur. Aku ingin tidur sebentar di sini. Noleh ya?" mohon Januar.


Evi menghela nafas. Kemudian ia membuangnya secara kasar.


"Mas jangan seperti anak kecil dong, kalau mau tidur tuh di kamar aja. Evi mau nonton.


"Nggak mau, Mas maunya di sini sama kamu."


lagi lagi Evi merasa aneh dengan sikap manja Januar terhadapnya.


Padahal ia beranggapan apa yang diucapkan Januar beberapa menit yang lalu kepadanya itu hanya candaan belaka. Tapi melihat januar bersikap manja kepadanya, Evi merasa kalau apa yang dikatakan oleh Januari kepadanya serius.


"Ya udah, nggak apa-apa tiduran aja dulu." ucapnya sembari mengutak-atik ponselnya. Tak lama kemudian suara dengkuran terdengar jelas di telinga Evi.


"Astaga! beneran tidur dia. Berarti tadi malam dia benar-benar tidak tidur nyenyak."gumam Evi sembari mengelus rambut pria yang tertidur di pahanya itu.


Evi mengembangkan senyumnya melihat pria yang sudah seperti anak kecil minta dikeloni oleh Mamanya.


"Ternyata kalau kamu lagi tidur seperti ini, lucu juga ya." gumam Evi sambil mengabadikan momen itu di layar ponselnya mengambil foto dan yang tertidur pulas di pahanya.


Saat dia melihat foto-foto itu ia terkekeh, tak menyangka pria yang selama ini menjadi partner misi mempersatukan Tamara dengan Regen bersikap manja terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2