Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 106. MERASA TERGANGGU


__ADS_3

Hari sudah hampir malam. Acara resepsi pernikahan pun telah usai dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Terlihat satu persatu tamu undangan sudah meninggalkan lokasi acara resepsi pernikahan itu.


Tuan Baskoro, Nyonya Raina, Tuan Aditama dan juga pasangan suami istri Regen, Tamara beserta Putri kecil mereka sudah meninggalkan hotel di mana acara resepsi pernikahan itu diadakan.


Terlihat Januar dan Evi sudah bersiap dijemput oleh sang supir pribadi Tuan Baskoro. Agar mereka segera kembali ke rumah utama keluarga Baskoro


"Aduh, Sepertinya kalau sudah tiba di rumah, aku pasti akan langsung berbaring untuk meregangkan otot-otot ku yang sudah terasa pegal dan ngilu semua."keluh Evi


"Sabar ya, Sayang. Mas pasti akan memberikan pijatan yang luar biasa nanti." ucap Januar sambil tersenyum jahil.


Evi Menatap suami yang mulai berbicara ngawur kepadanya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, pasangan suami istri itu sudah tiba di rumah keluarga Tuan Baskoro. Begitu juga dengan keluarga Tuan Aditama sudah tiba di sana.


Ada kebahagiaan tersendiri di hati Tuan Baskoro, ketika melihat putranya sudah sah menjadi seorang suami. Momen yang selama ini dinanti-nantikan Tuan Baskoro. Para asisten rumah tangga yang bekerja di rumah utama keluarga Baskoro, terlihat antusias untuk memberikan selamat kepada sang majikan.


Apalagi mereka mengetahui kalau Januar sang majikan baru selamat dari jurang maut membuat mereka benar-benar tidak menyangka, Kini sang majikan sudah berdiri tegap dihadapan mereka. Yang sedang berpenampilan tampan dan juga saat ini statusnya sudah berbeda.


"Selamat ya Tuan atas pernikahannya bersama Nyonya muda." ucap salah satu asisten rumah tangga yang bertugas di rumah utama keluarga Baskoro


"Terima kasih Bi." sahutnya sambil mengembangkan senyumnya menatap sang asisten rumah tangga yang sudah dianggap Januar seperti ibu kandungnya. Karena selama ini asisten rumah tangga yang sudah berusia senja itu yang merawat Januar semenjak kecil.


"Sepertinya Evi sudah ngantuk dan sudah capek juga. Lebih baik kita istirahat Mas."ucap Evi kepada suaminya. Karena memang benar tubuhnya sudah terasa lelah dan pegal, apalagi satu harian ini aktivitas mereka cukup melelahkan. Berdiri di pelaminan untuk menyalami para tamu undangan yang datang memberi selamat kepada mereka.


Januar pun beranjak dari tempat duduknya. Dia melihat Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Itu berarti orang-orang di rumah sudah masuk ke kamar dan istirahat.


"Sayang, tunggu! Panggil Januar kepada Evi yang sudah lebih dulu berjalan masuk menuju kamar.


"Cepat dong Mas! Aku sudah ngantuk pengen istirahat."


Januar langsung meraih tubuh istrinya kepelukannya. Tanpa mempedulikan keluarga mereka yang belum masuk ke dalam kamar.


"Mas lihat dong, ini kita belum di kamar loh." ucap Evi kepada sang suami.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kan kita sudah halal sayang!"sahut Januar enteng sambil mengembangkan senyumnya.


Evi langsung menarik tangan suaminya masuk ke dalam kamar. Dia merasa malu kalau ada anggota keluarga lainnya melihat dirinya sedang bermesraan dengan sang suami.


"Mas, Lain kali kalau mau bermesraan lihat situasi dong. Di rumah ini situasinya lagi rame, bukan hanya kita berdua saja! apa mas tidak malu kalau Papa dan Om Aditama melihat kita seperti tadi?


"Biarin aja! kan, mereka juga pernah mengalami hal sama seperti kita. Mereka juga pernah muda kok."lagi lagi Januar menjawab dengan enteng dia selalu tidak mau kalah dari istrinya.


Karena tidak ingin berdebat dengan suaminya, Evi pun berlalu dan masuk ke kamar mandi berniat untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Tetapi ketika Evi keluar dari kamar mandi, ia dikejutkan dengan sosok suami yang langsung menggendong tubuhnya.


"Mas turunin dong! minta Evi dengan lembut kepada suaminya.


"Tapi Januar tidak menggubris dan langsung mengecup bibir manis Evi. Hingga Evi tidak bisa berkutik.


"Kamu jangan nakal! Mas sudah sangat lama menunggu momen seperti ini sayang." ucap Januar sambil kembali memberikan kecupan hangat di bibir manis Evi. Perlahan kecupan itu semakin mendalam.


"Iya sayang, mas paham."


"Mas tuntun Evi, ya."ucap Evi sambil menatap suaminya dengan tatapan mendalam. Dia tahu persis apa tugasnya menjadi seorang suami. Evi tidak ingin mengecewakan suaminya di malam pertama mereka.


Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga mereka, membuat pasangan suami istri yang baru saja beberapa jam yang lalu, merasa terganggu.


"Aduh, siapa lagi sih ini yang mengganggu?" gerutu Januar sambil berdiri membukakan pintu.


"Ada apa sih, Bi! malam-malam gini kok ganggu?


"Begini Tuan muda, tadi ada seseorang yang menelpon. Tetapi ketika diangkat selalu dimatikan. Bibi khawatir Tuan muda." ucap asisten rumah tangga yang sudah lama menemani keluarga Baskoro.


Tiba-tiba suara dari yang telepon itu kembali berdering membuat Januar langsung mengangkat telepon.


"Iya halo selamat malam, ada yang bisa kami bantu." jawab Januar dalam sambungan telepon.

__ADS_1


Tetapi orang yang menghubungi nomor telepon rumah utama keluarga Tuan Baskoro sama sekali tidak menjawab. Membuat Januar sedikit geram dan kesal karena telepon itu sudah mengganggu dirinya."


"Siapa sih orang yang nelpon malam-malam? nggak tahu apa orang istirahat." kesal Januar dalam hati sambil kembali menghampiri istrinya. Ia pun langsung menggantung telepon itu, agar tidak bisa ditelepon masuk lagi ke kamarnya.


"Ada apa mas? tanya Evi penasaran


"Tidak, apa-apa sayang hanya ada orang iseng aja untuk mengganggu."


"Oh, iya. Sudah kalau begitu kita istirahat aja."


"Jangan dong sayang, kan tadi gantung?"


"Sudah besok aja dilanjutkan kan lebih nikmat, kalau tubuh lebih fresh. Lagian saat ini badan Evi masih capek Mas." ucap Evi kepada suaminya.


Januar pun tidak mau egois. Ia pun membiarkan istrinya istirahat dengan tenang. janur tahu kalau Evi benar-benar capek mengingat aktivitas mereka seharian begitu melelahkan.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kamu istirahat saja."ucap Januar agar Evi dapat istirahat dan langsung berbaring di sampingnya.


"Terima kasih ya, Mas. Sudah sangat pengertian sama Evi."


"Sama-sama Sayang, lagian Mas kan tahu kalau kita benar-benar capek. Jadi tidak apa-apa istirahat dulu."


Tak berapa lama, entah karena memang faktor kelelahan, Evi Langsung tertidur pulas mengarungi alam mimpinya dipelukan sang suami.


Januar melihat wajah polos istrinya pun mengembangkan senyumnya. "Alangkah bahagianya hati ini mendapatkan kamu sayang, Wanita yang begitu baik."gumam Januar. Apalagi Januar mengetahui kalau pendonor yang datang untuk mendonorkan darahnya kepadanya, paska kecelakaan naas itu hampir saja merenggut nyawanya, Evita yang berperan di dalamnya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2