
Beberapa hari kemudian setelah Tamara dan Cia silahturahmi ke rumah utama keluarga Aditama, Tamara tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Saat Tamara sedang asik melakukan aktivitas di warung es Boba, tiba-tiba suara dengan ponsel milik Tamara terdengar jelas di telinganya.
Tamara meraih ponselnya, lalu melihat nomor siapa yang menghubungi dirinya. Nama Evi yang tertera di layar ponsel Tamara.
"Ada apa bocah kecil ini menghubungiku? pasti ini terkait dengan Tuan Regen."gumam Tamara di dalam hati. Tapi karena Evi merupakan adik yang begitu ia sayangi dan Evi juga selama ini terhadapnya. Dia tidak ingin mengecewakan adiknya, dengan mengabaikan teleponnya.
Tamara menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada adik angkatnya itu.
"Halo, assalamualaikum adikku yang manis!" sapa Tamara di dalam sambungan telepon selulernya.
"Hehehe.... semanis gula tebu, apa gula aren nih Kak?" sahut Evi bergurau.
"Terserah kamu saja mau gula tebu atau gula aren. Katakan ada apa kamu menghubungi Kakak siang-siang begini? tanya Tamara kepada adik angkatnya itu.
"Kak, temenin Evi makan siang yuk, hari ini. sudah lama juga kita tidak makan siang bersama."ucap Evi dari ujung telepon.
"Tapi Kakak masih buka warung dek, bagaimana kakak makan siang bareng sama kamu?"
"Ya elah Kak, kan bisa tutup sebentar. Makan siang kan tidak lama, paling lama juga hanya sekitar satu jam saja. Ayolah Kak, kita sudah lama tidak makan siang bareng. Aku merindukan momen-momen kita dulu." ucap Evi dengan nada memelas.
Benar yang dikatakan Evi, sudah lama juga mereka tidak makan siang bersama. Bahkan akhir-akhir ini Evi juga tidak terlalu sering Singgah ke rumah Tamara, karena sibuk dengan pekerjaan di kantor.
"Iya sudah deh, habis jemput dia dari sekolah, kita makan bersama. Tetapi kalau boleh di cafe dekat rumah kakak saja ya." ujar Tamara di dalam sambungan telepon selulernya.
"Iya Kak, Cafe Cempaka saja. Itu dekat juga ke sekolah Cia kan?" sahut Evi dari ujung telepon. Tamara dan Evi sepakat untuk makan siang bersama di cafe Cempaka yang lokasinya tidak jauh dari sekolah Cia.
Setelah mereka sepakat, Tamara menyelesaikan pekerjaannya membuat pesanan para pelanggan yang masih duduk menanti pesanan mereka dibuat oleh Tamara.
__ADS_1
Setelah pesanan pelanggan itu telah usai, Tamara langsung bersiap menutup warung es boba miliknya. Di samping karena Evi memintanya untuk makan siang bersama, Tamara juga ingin menjemput Cia dari sekolahan.
Sementara di tempat lain, Januar melakukan hal yang sama kepada sahabatnya sekaligus big boss nya. Januar berusaha merayu Regen agar bersedia makan bersama. Dengan segala bujuk rayuan yang dilakukan Januar, akhirnya Regen bersedia makan bersama.
Tetapi Januar tidak memberitahu kalau mereka akan makan berempat. Setahu Regen mereka makan berdua saja sekaligus untuk membahas proyek-proyek yang saat ini berlangsung.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. kini Evi sudah duduk di sebuah kursi paling pojok Cafe. Cafe itu terlihat mewah walaupun dari luar kelihatannya biasa saja. Tapi kalau masalah fasilitas dan desain interiornya cukup indah dan mewah.
Tamara baru saja menjemput Cia. Dia berniat langsung ke cafe Cempaka sesuai dengan kesepakatannya dengan Evi. Tetapi sebelum Tamara sampai di Cafe itu, Januar dan Regen yang sudah tiba lebih dulu.
Evi melambaikan tangannya kepada Januar, agar Januar dan Regen menghampiri dirinya. Karena sebelumnya Evi sudah reservasi tempat itu.
Januar dan Regen pun menghampiri Evi. keduanya duduk di hadapan Evi. Regen mengerutkan keningnya Mengapa ada Evi di sana.
"Jangan bilang kalian sudah janjian di sini."ucap Regen penuh selidik.
"Tidak Pak Bos, ini hanya kebetulan saja. Kami sama sekali tidak janjian." sahut Januar tentunya berbohong.
Saat pelayan itu datang menghampiri Regen dan Januar. Regen dan Januar pun memesan menu makanan mereka. lalu pelayan itu meninggalkan meja yang mereka tempati.
Tak berselang lama Tamara dan Cia pun tiba di cafe. Tamara celingukan mencari sosok Evi. Sampai Evi melambaikan tangannya agar Tamara dan Cia melihat keberadaannya.
Evi langsung menghampiri Tamara yang tak kunjung melihat keberadaannya. Ia pun langsung meminta Tamara untuk mengikutinya, menghampiri Januar dan juga Regen.
Karena menu makanan yang sudah dipesan Evi sebelumnya sudah tiba di meja mereka.
Tamara mengikuti Evi Begitu juga dengan Cia.
Saat Tamara dan Cia tiba di sana, Tamara benar-benar terhenyak melihat keberadaan Regen di sana. Berbeda dengan Cia. Cia bersorak kegirangan karena dia bertemu dengan om kesayangannya.
__ADS_1
"Om Regen! ada di sini?" tanya Cia sambil langsung memeluk Regen. Regan pun terhenyak melihat keberadaan Cia disana. Ia pun langsung bangkit dari tempat duduknya, dan berjongkok menyamakan tubuhnya dengan Cia.
Regen memeluk Cia, lalu memberikan kecupan hangat di kening bocah kecil itu. Kemudian Regen duduk kembali memangku Cia.
"Wah, kebetulan banget ada Tuan Regen dan Januar di sini. Lebih baik kita makan bareng saja." ujar Evi sambil mengembangkan senyumnya. Evi mengedipkan matanya sebelah ke arah Januar untuk memulai aksi mereka.
Tiba-tiba suara deringan ponsel Evi terdengar jelas di telinganya. Yang mana sebenarnya yang menghubungi dirinya nomor ponsel Januar, dengan secara diam-diam Januar menekan nomor ponsel milik Evi dari saku celananya.
Evi yang mendengar suara deringan ponselnya pun awalnya mengabaikan saja. Tapi Tamara menyuruhnya untuk mengangkat terlebih dahulu. Evi pun menuruti perkataan sang kakak. lalu ia berpamitan keluar untuk mengangkat sambungan telepon seluler palsu itu.
Setelah Evi menjauh dari meja yang ditempati oleh Regen dan Januar. Tiba-tiba nomor ponsel Januar pun berdering yang memanggil itu ternyata Evi. Mereka sengaja melakukan itu, untuk memberikan waktu kepada Regen dan Tamara.
Januar berpamitan kepada Regen dan juga Tamara untuk mengangkat sambungan telepon seluler palsu itu. Tak berselang lama Evi kembali, lalu ia meminta maaf kepada Tamara karena dirinya harus membeli sesuatu atas instruksi Tuan Aditama.
"Maaf Kak Tamara, aku tinggal sebentar ya soalnya aku harus pergi ke supermarket. Ada sesuatu yang harus aku beli. Ini perintah dari tuan Aditama. jadi aku tidak bisa menolak."ucap Evi membuat Regen mengerutkan keningnya.
"Ya udah, tidak apa-apa. Tapi jangan lama-lama ya. Nanti makanannya keburu dingin.
" Kalau begitu, Cia ikut aja deh, biar ada temanku pergi ke supermarket.
"Cia mau nggak, ikut sama tante makan es krim?" tawar Evi.
Cia yang mendengar kata es krim pun langsung bersemangat. Ia pun setuju ikut bersama Evi, lalu mereka pun meninggalkan Tamara dan Regen berdua di sana.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"