
Keesokan harinya, kabar rencana pernikahan Regen pun tersebar di seluruh penjuru Aditama Company. Termasuk Alven juga mengetahui kabar tersebut. Bahkan ia benar-benar terkejut kalau Tamara menerima lamaran Regen dengan semudah itu.
Padahal dia tidak mengetahui bagaimana perjuangan Regen untuk menaklukan hati Tamara.
"Kamu serius kalau Tamara akan menikah dengan Tuan regen?"tanya Alvin kepada salah satu karyawan yang bekerja di ALC company atau yang sering disebut dengan Aditama group.
"Ya, iyalah Pak. Tuan Regen sudah mengadakan foto prewedding dan gedung juga sudah dipesan. Pihak wedding organizer nya sendiri yang berbicara langsung kepada saya. Karena pagi tadi pihak wedding organizer datang ke kantor untuk menemui sekretaris Tuan Regen yaitu Pak Januar dan juga Evi." ucap karyawan itu kepada Alven membuat Alven menggeram kesal.
"Aku tidak menyangka ternyata selera Regen rendah seperti Tamara. Apalagi dia mau menikah dengan bekas ku sendiri." gumam Alven merendahkan selera temannya itu.
Kemudian Ia pun meraih ponselnya yang ada di atas meja kerjanya.Ia mencari nomor seseorang yang sebelumnya ia perintahkan untuk menculik Cia.
Dua minggu yang lalu ia meminta kepada anak buahnya untuk menculik Cia tapi anak buahnya sama sekali tidak berhasil, karena Regen sudah menugaskan beberapa bodyguard, tanpa sepengetahuan Tamara dan juga Cia.
"Brengsek!!! kalian semua!!! uang sudah kalian Terima, tapi kalian tidak berhasil menculik putri saya." teriak Alven sambil menghempaskan barang yang ada di hadapannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Ayo, Alven kamu mikir! Kenapa kamu tidak berbuat sesuatu." gerutu Alven sambil menokok bagian kepalanya dengan kepalan tangannya.
Kemudian ide cemerlang terlintas di kepalanya. Walaupun ide itu memiliki risiko yang cukup tinggi, tapi menurutnya hanya itu jalan satu-satunya Untuk membatalkan pernikahan Tamara dengan Regen.
"Baik, Kalau secara halus tidak bisa, maka aku akan melakukannya secara kasar. Lihat Tamara, aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia sementara hidupku saat ini entah bagaimana." Alven bermonolog sendiri.
Tanpa ia sadari Evi mendengarkan semua apa yang ia bicarakan di dalam sambungan telepon selulernya, lalu ia pun mendengar gumaman Alven yang ingin bertindak kasar terhadap Tamara, dan juga Cia. Jika Tamara tidak bersedia rujuk dengannya.
Evi menggelengkan kepalanya. " Pria ini bukannya tobat, malah Ia semakin beringas. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Kak Tamara dan juga Cia." Evi mencebik kesal, melihat pria yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Evi langsung menemui Januar dan memberitahu apa yang ia dengar tanpa ada yang ditutup-tutupi, membuat Januar pun terhenyak ternyata pria itu tidak ada tobatnya, bahkan melakukan hal-hal yang di luar dugaan.
****
"Mas, di sini pakaiannya mahal loh."ucap Tamara saat mereka sudah tiba di sebuah butik ternama di ibukota.
"Tidak apa-apa sayang, aku sengaja membawa kamu ke butik ini agar semua orang mengetahui kalau istri dari Regen Aditama Tamara binti suyatno Ternyata wanita yang sangat cantik jelita." ucap Regen sambil meraih tubuh Tamara kepelukannya. Tamara Hanya mengembangkan senyumnya.
"Mas Bisa saja, menggombal. Aku kira Mas dulunya hanya pendiam dan dingin, Ternyata Mas juga bisa hangat." Puji Tamara.
"Hai Regen, ada gerangan apa kamu datang ke butik tante? tanya Tante Alina saat melihat kehadiran Regen dan juga Tamara di sana. Ya Tante Alina pemilik butik yang merupakan adik kandung dari ibunya Regen.
"Tante, perkenalkan Ini Tamara, calon istri Regen! cantik kan? ucap Regen sambil mengembangkan senyumnya memperkenalkan Tamara dengan tante Alina.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu move on juga. Kamu sangat beruntung sayang, mampu membuat Putra saya ini move on dari wanita yang tidak tahu di untung itu. Aku harap kamu memahaminya ya, sayang."ujar tante Alina berharap Tamara memahami siapa sosok Regen yang sebenarnya.
"Mas itu cantik ya." ucap Tamara menunjukkan ke arah Maneken dengan menggunakan gaun berwarna silver.
"Iya sayang cantik. Apalagi kalau kamu yang memakainya, pasti akan semakin cantik." Puji Regen.
"Mas Bisa saja gombalnya, buat Tamara terbang ke awan langit ketujuh." ucap Tamara sambil terkekeh. Regen tersenyum melihat Tamara saat ini sudah bisa tertawa lepas. yang sebelumnya Tamara terlihat kaku saat bersama dirinya.
****
Keesokan paginya Cia berangkat ke sekolah dihantarkan langsung oleh Tamara dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Walaupun Regen sudah meminta kepada Tamara agar untuk menjemput dan menghantarkan Cia itu menjadi urusan dari asisten pribadinya. Tapi Tamara menolak, ia ingin menghantarkan langsung putrinya ke sekolah dan memastikan kalau putrinya baik-baik saja.
Setelah tiba di sekolah, seperti biasa Tamara meninggalkan Cia dan menitipkannya kepada guru kelasnya. Kemudian setelah jam pulang sekolah tiba, baru Tamara menjemputnya.
__ADS_1
Setelah Tamara berlalu dari sekolah, dari kejauhan Alven dan dua orang anak buahnya sudah memantau keberadaan Cia tanpa Tamara ketahui.
Saat jam istirahat tiba, Cia keluar dari ruang kelasnya, berniat untuk bermain dengan teman-temannya di luar ruangan. Saat wali kelasnya sedang pergi ke toilet. Di sanalah Alven melakukan aksinya. Alven menghampiri Cia. Dia mencoba bernegoisasi dengan Cia. Ia mengajak Cia untuk membeli es krim di supermarket yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah.
Si Gadis polos itu mengangguk. Ia merasa bangga mendapatkan perhatian dari ayah kandungnya sendiri. Kemudian Alven membawa Cia keluar dari kelas saat wali kelasnya berada di toilet. "Ayah kita beli es krimnya jangan lama-lama ya, soalnya jam istirahat Cia hanya sebentar."ucap Cia kepada Alven yang dibalas anggukan dari Alven.
Keduanya memasuki mobil. Kemudian anak buah Alven langsung mengemudikan mobil itu dengan kecepatan tinggi, keluar dari area sekolah. Membuat Cia sedikit bingung. "Yah, itu supermarketnya udah lewat, Kenapa mobilnya maju terus?" tanya Cia penasaran.
"Iya, sayang. beli es krimnya jangan di situ ya, soalnya es krim di sana tidak enak. Di sana ada es krim dijual enak sekali." ucap Alven.Tapi Ayah, kalau terlalu jauh bisa-bisa Cia telat masuk ke kelas." ucap Cia kepada Alven.
"Enggak kok, kita hanya sebentar saja." ucap Alven kembali menenangkan bocah kecil itu. Sudah sekitar 15 menit berlalu, tapi mobil itu tak kunjung berhenti. Cia justru melihat kalau mobil yang dikendarai oleh seseorang yang ada di bangku kemudi menjauh dari perkotaan.
Cia melihat mobil itu melaju di jalan tol, membuat Cia sudah merasa ketakutan Cia baru menyadari kalau Ayahnya akan pergi membawa dirinya meninggalkan Tamara.
"Ayah, ini bukan jalan mau ke supermarket, ini jalan mau keluar kota. Cia tahu waktu mama dan Cia pergi ke puncak." ucap Cia kepada Alven. Alven tidak menjawab, menurutnya putrinya itu tidak akan berkutik lagi jika keberadaan mereka sudah berada di jalan tol menuju puncak.
"Ayah, aku mau pulang, Mama nanti mencari Cia. Ayah, aku mau pulang." rengek Cia yang mengalihkan atensi dari dua orang anak buah Regen.
Tapi kedua pria itu seolah tak peduli. Ia membiarkan Regen menenangkan putrinya. Tapi lagi-lagi Regen tidak berhasil menenangkan Cia. Hingga akhirnya Cia diberi obat bius agar dia tidak rewel dan berteriak di dalam mobil.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"
__ADS_1