Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 63. TRAUMA


__ADS_3

Saat ini kondisi Fitricia sudah semakin membaik. Dia sudah mulai berinteraksi kepada Tamara dan juga Regen Tetapi terlihat Cia mengalami trauma. Sampai-sampai dia tidak ingin ditinggal oleh Regen. Cia terus memeluk lengan Regen agar tidak meninggalkan dirinya.


Regen mengelus pundak Cia sambil memberikan kecupan hangat di pucuk kepala bocah kecil itu. Regen berusaha menenangkannya. Tidak bisa dipungkiri, di usia Cia yang saat ini masih tergolong balita, dia mendapatkan kekerasan fisik dari ayah kandungnya sendiri. Cia benar-benar tidak menyangka.


"Papa Regen, Jangan tinggalin Cia." kembali Cia memohon kepada Regen agar tidak meninggalkan dirinya.


"Iya sayang, Papa tidak akan meninggalkan Cia. Cepat sembuh ya sayang, agar kita dapat tinggal bersama dan Papa bisa menjaga Cia."ucap Regen kembali memberikan kecupan hangat di pucuk kepala bocah kecil itu.


Tamara yang melihat perlakuan Regen begitu lembut dan menyayangi Cia dengan tulus, hatinya begitu menghangat. "Ya Allah, Regen saja yang tidak memiliki hubungan darah dengan Cia, dia begitu menyayanginya Mengapa kamu Mas Alven, tega sekali menyakiti putrimu sendiri? setan apa yang yang merasuki mu."gumam Tamara di dalam hati.


Tamara mendekati putrinya. "Papa Regen tidak akan meninggalkan Cia, Cia jangan khawatir ya Sayang, ada Mama dan Papa yang menjagamu di sini." ucap Tamara kepada Cia. Tetapi sepertinya Cia masih belum dapat melupakan kejadian saat Alven menyakiti fisiknya, hingga dia tidak sadarkan diri.


Saat Regen dan Tamara berusaha menenangkan Cia agar tidak merasa ketakutan, Pak suyatno dan ibu Sumiati masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan informasi dari suster di mana keberadaan cucu mereka.


"Ibu, ayah....." kalian datang? tanya Tamara sembari memberi salam kepada Pak suyatno dan ibu Sumiati. Tamara menangis sesungguhkan di pelukkan ayahnya.


Ibu Sumiati langsung memeluk cucunya, terlihat Cia sedikit merasa tenang ketika melihat keberadaan Pak suyatno dan ibu Sumiati. Awalnya Pak suyatno berniat untuk bertanya kepada Cia Mengapa Cia bisa bersama Regen saat itu.


Tapi pak suyatno, mengurungkan niatnya, karena takut Cia akan kembali mengingat kejadian saat dirinya disakiti oleh Alven.


"Kamu yang tenang ya sayang, kamu akan baik-baik saja ada Papa Regen, Mama Tamara, ada kakek dan nenek di sini." Ucap pak suyatno ketika melihat raut wajah ketakutan dari cucu mereka.


Tiba-tiba suara ketukan pintu kembali terdengar jelas di telinga mereka. Regen bangkit dari tempat duduknya. Tapi lagi-lagi Cia menarik tangannya seolah-olah dirinya tidak ingin ditinggalkan walau sedetik pun.


"Mas, biar aku saja, Sepertinya Cia tidak mau jauh-jauh darimu."ucap Tamara sambil bangkit dari tempat duduknya membuka pintu ruang rawat inap Cia.


"Papa..., sapa Tamara saat melihat kalau saat ini Tuan Aditama yang datang untuk menjenguk putrinya.


Tamara mencium punggung tangan pria paruh baya itu, lalu Tamara mempersilakannya masuk.


"Hai cucu papa yang cantik, Sapa tuan Aditama lalu memeluk dia.

__ADS_1


"Opa...Huaaa...Opa...Hua... tangis Cia di pelukan pria paruh baya itu. Terlihat di wajah Cia masih membiru, dan lebam-lebam akibat tamparan yang dilakukan oleh Alven kepada Cia. Cia mengadu kepada Tuan Aditama membuat Tuan Aditama tidak tega melihat bocah kecil itu.


"Regen, Apa kamu sudah lakukan yang patut kamu lakukan terhadap Alven??? tanya Tuan Aditama dengan nada dingin.


"Sudah Pa, saat ini Alven dan anak buahnya sudah mendekam di penjara.


"Pastikan hukumannya beat, lakukan pemecatan secara tidak hormat kepada Alven. Dan jangan pernah memberikan surat rekomendasi untuknya. Agar Alven tidak dapat mudah bekerja di perusahaan manapun. " ucap Tuan Aditama menahan kekesalannya terhadap Alven. Jika saja Tuan Aditama melihat keberadaan Alven di sana, bisa saja Tuan Aditama kehilangan kendali yang dapat menyakiti Alven..


Sementara di tempat lain Evi dan Januar duduk di sebuah Cafe untuk merencanakan sesuatu perihal pernikahan Tamara dengan Regen. Januar pun memberitahu kepada Evi kalau saat ini Alven sudah mendekam di penjara.


"Baguslah, kalau pria brengsek itu sudah dipenjara. Aku tidak Sudi melihatnya di kantor itu lagi. Entah bagaimana pola pikirnya sanggup menyakiti putrinya sendiri." ucap Evi kepada Januar.


"Oh iya, saat ini Soraya sedang mencari pekerjaan dalam situasi perutnya yang buncit


"Memangnya kenapa?


"Butik Soraya mengalami kebangkrutan. sehingga mau tidak mau dia pun harus menutup butik itu. Kehancuran Soraya tidak luput dari campur tangan istrinya Tuan Kim Liu.


"Dari mana kamu tahu? tanya Januar penuh selidik.


"Beberapa hari yang lalu, saat aku pergi ke toko kue, dia datang juga ke sana untuk melamar pekerjaan. Membuat aku benar-benar terhenyak, seolah tak percaya kalau perempuan yang datang menghampiri pemilik toko kue itu adalah Soraya. Sehingga aku mendekat ke arahnya dan ternyata benar kalau wanita itu ternyata Soraya." Evi memberitahu.


"Inilah namanya karma dibayar tunai. Sudah jelas-jelas ia mengetahui kalau Alven sudah memiliki istri, tapi ia nekat menjalin hubungan dengan Alven, bahkan meminta Alven untuk menikahinyaDoa-doa orang-orang yang teraniaya itu dikabulkan oleh Allah. Sejujurnya kalau Soraya sampai saat ini tidak menyadari itu, dia akan lebih sulit ke depannya.


"Maksudnya?


"Dia seharusnya minta maaf kepada Tamara. Tidak ada salahnya dia minta maaf kepada wanita yang merasa tersakiti saat dirinya menjalin hubungan dengan suami Tamara." ucap Januar kepada Evi


"Tipe wanita seperti Soraya, tidak akan pernah meminta maaf kepada orang lain.Karena jiwa egoisnya sangat tinggi.


"Oh iya pak Januar, mengenai pernikahan Tuan Regen dan Kak Tamara sepertinya sudah terangkum tinggal menunggu hari H dan kondisi Cia semakin membaik.

__ADS_1


sekarang pertanyaan saya, giliran Bapak kapan? lagi-lagi pertanyaan Evi itu yang membuat Januar menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagaimana tidak, sampai saat ini Januar masih meraih gelar jomblo.


"Boleh nggak pertanyaannya jangan yang itu-itu aja?bosan dengarnya tahu!


"Ya Kalau bosan carilah pendamping hidup. ingat umur sudah tua. Masih saja tetap jomblo." celetuk Evi


"Sama-sama jomblo aja ngomong begituan. Memangnya kamu sudah melepas masa jomblo Kamu? tanya Januar kepada Evi.


"Aku sama Pak Januar itu berbeda. Usia Pak Januar saja kepada Evi jauh berbeda. Pak Januar sudah hampir kepala empat sementara aku masih kepala dua.


"Banyak banget kepalaku, perasaan kepalaku Hanya Satu deh." sahut Januar yang membuat Evi langsung terkekeh.


"Maksud aku bukan itu Pak Januar.


"Jadi apa?tanya Januar pura pura tidak tau


"Maksud aku usia Pak Januari itu sudah hampir empat puluh tahun." ucap Evi memberitahu padahal Januar sebenarnya mengetahuinya.


"Hehehe.... usianya saja sudah hampir kepala empat tapi penampilannya masih awet muda, dan terlihat tampan, kan?" ucap Januar memuji dirinya sendiri membuat Evi menggelengkan kepalanya.


"Jangan terlalu super percaya diri, memangnya siapa yang mengatakan Pak Januar itu tampan?


"Ya, saya sendiri lah, kan memang saya tampan." ucap Januar sambil terkekeh.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2