
Pemilik warung makan itu menatap sosok Januar. Lelaki yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di warung makan itu.
"Oh iya, Mas sepertinya baru kali ini ke sini ya?"ucap pemilik warung itu sembari mengembangkan senyumnya.
"Iya Pak. Pak Januar Baru kali ini datang ke sini. Dia atasan Evi, asisten dari Tuan Regen Aditama, suami dari Kak Tamara.
"Tapi Pak Udin jangan salah, Pak Januar ini juga memiliki hotel dan restoran ternama loh di kota ini.
"Wah hebat tuh. Bapak juga ingin memiliki restoran ternama seperti yang dimiliki Pak Januar. Tapi ya bagaimana nasib bapak masih seperti ini.
"Tapi patut disyukuri saja. Yang penting bisa makan dan menyekolahkan anak-anak, sudah syukur" sahut pemilik warung sambil kembali mengembangkan senyumnya menatap Januar dan juga Evi secara bergantian.
"Eh maaf, jadi mengganggu makan kalian, silakan dimakan. Bapak ingin kembali bekerja lagi ya." ucap pemilik warung sambil berlalu dari hadapan Evi dan juga Januar.
Evi mencuci tangannya di dalam kobokan yang sudah disediakan oleh pemilik warung. setelah mengucapkan bismillah, Evi langsung menyantap menu makanan miliknya.
Sementara Januar hanya terdiam, menatap menu makanan yang aneh baginya. Evi makan dengan lahap, tanpa memperhatikan Mimik wajah Januar. Evi menyantap menu makanan siangnya. Entah karena lapar atau karena doyan, atau karena Citra rasa yang begitu lezat membuat Evi langsung secepat mungkin menghabiskan makan siangnya.
Hal itu membuat Januar merasa heran melihat wanita yang ada di hadapannya tidak pernah peduli dengan tatapan orang lain, ketika dirinya menyantap menu makanan yang ada di hadapannya.
Sadar telah diperhatikan, Evi langsung menghentikan makannya. "Loh Pak Januar dari tadi kok belum makan? Pak Januar Tidak selera melihat menu makanan yang ada di sini? Coba deh." ujar Evi kepada Januar yang sudah dari tadi hanya memegang sendok dan garpu yang ada di tangannya.
Januar pun mulai memasukkan sendok makan itu ke dalam mulutnya. Perlahan ia cicipi menu makanan itu, dan ternyata benar apa yang dikatakan Evi benar adanya. Citra rasa dan menu makanan yang ada di sana memang mengunggah selera.
Hal itu membuat Januar langsung melahap menemukan yang ada di hadapannya hingga ludes tanpa ada sisa. Evi memperhatikan Januar yang menyantap menu makanannya. Evi mengembangkan senyumnya.
"Bagaimana pak, Citra rasa makanan yang ada di rumah makan ini? apakah Citra rasanya yang ada di rumah makan ini cocok di lidah Pak Januar? tanya Evi penasaran
Janur menganggukkan kepalanya. "Sepertinya rumah makan ini memiliki potensi untuk dikembangkan. Jika pemilik warung bersedia, Aku ingin bekerja sama dengan mereka. Dengan cara aku menanamkan modal disini, untuk dikembangkan. Dan pemilik warung yang akan mengelola dan mengembangkannya." ucap Januar kepada Evi.
__ADS_1
"Pak januar serius?" tanya Evi kepada Januar. Januar menganggukkan kepalanya.Ia pun ingin sekali mengembangkan usaha rumah makan pemilik warung. Dikembangkan menjadi restoran yang menu makanannya dapat dijangkau anak kuliahan dan juga para karyawan karyawati.
Evi memanggil Kang Udin ke tempat duduk mereka. Kang Udin pun akhirnya menghampirinya. " Ada apa iya neng, memanggil Akang ke sini? apa yang bisa saya bantu?" tanya Kang Udin kepada Evi.
Evi mengembangkan senyumnya. "Bapak lagi repot tidak? tanya Evi sambil menelisik seisi rumah makan milik Kang Udin yang sudah mulai tampak sepi karena para mahasiswa-mahasiswi yang biasa makan di sana sudah pada kembali ke aktivitas masing-masing.
"Tidak, kebetulan menu makanannya sudah hampir habis jadi Akang tidak terlalu repot lagi." sahut kang Udin.
"Begini Kang Udin, ada sesuatu yang ingin dibicarakan atasan saya ini kepada kang Udin. Itu pun jika memang bersedia."ucap Evi sambil mempersilahkan Januari berbicara kepada kang Udin.
"Mas, ingin berbicara dengan saya? Memangnya Mas ingin membicarakan apa dengan saya? apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya kang Udin ramah.
"Begini kang Udin, saya salah satu pemilik restoran yang lokasinya lumayan jauh dari sini. Saya sudah merasakan Citra rasa masakan kang Udin. Dan rasa masakan kang Udin cukup lezat dan mengunggah selera. sama persis seperti yang dikatakan oleh Evi sebelumnya kepada saya,"
"Jujur awalnya saya belum percaya. Tetapi Ketika saya sudah mencicipinya ternyata benar apa yang dikatakan oleh Evi. Jika kang Udin bersedia, Saya ingin bekerja sama dengan kang Udin. Itu pun kalau kang Udin Mau." ucap Januar.
"Maksudnya? tanya kang Udin yang belum paham maksud dan tujuan dari Januar.
Tetapi tempatnya kita besarkan dan menu makanannya kita tambah. Saya menyedia modal dan kang Udin yang menjalankan restorannya nanti 70% keuntungan untuk kang Udin dan 30% untuk saya. Bagaimana menurut kang Udin, Apakah Kang Udin tertarik dengan tawaran saya?"tanya Januar kepada kang Udin.
Kang Udin terlihat memikirkan sesuatu. "Saya akan memikirkannya terlebih dahulu dan berkonsultasi dengan istri saya. Jujur Saya tertarik dengan tawaran Anda Mas, tetapi saya harus bertanya dulu kepada istri saya, setuju atau tidak. Jadi berikan saya waktu Mas." ucap Kang Udin kepada Januar
Januar mengangguk paham. "Kalau begitu, jika tertarik hubungi saya saja ya." ucap Januar sembari memberikan kartu namanya kepada kang Udin.
" Terima kasih Mas, nanti saya akan hubungi jika istri saya setuju dengan usulan Mas." ucap kang Udin sembari berpamitan dari hadapan Januar dan juga Evi.
"Maaf kang, berapa ini semua?" tanya Januar sembari merokok dompetnya yang ada di saku belakang celananya.
"Empat puluh ribu Mas." sahut kang Udin Carlos memberikan uang pecahan seratus ribu yang ada di dompetnya.
__ADS_1
"Ini kang." ucapnya sambil memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan langsung memberikan ke tangan kang Udin
"Wah, ini banyak sekali Mas." sahutnya
"Sudah kang, ambil saja anggap saja ini rezeki." sahut Januar sambil langsung berlalu meninggalkan kang Udin di sana diikuti oleh Evi.
Evi hanya menatap Januar ketika berada di dalam mobil.
"Aku nggak nyangka jiwa sosial Pak Januar ternyata masih ada." gumamnya dalam hati sembari menatap Januar dengan tatapan penuh arti.
Sadar ditatap oleh Evi, Januar pun bertanya kepadanya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?
"Tidak apa-apa Pak. Baru nyadar aja kalau Pak Januari itu ternyata tampan juga." Evi bercanda kepada Januar. Tetapi Januar langsung tertawa ngakak mendengar jawaban Evi.
Ketika Evi dan Januar sudah berada di dalam mobil, Januar melajukan mobilnya ke arah jalan raya menuju ALC COMPANY. Tiba-tiba saja Januar menghentikan mobilnya di bahu Jalan setelah berjalan 50 meter dari rumah makan itu.
Membuat Evi kebingungan, Mengapa tiba-tiba Januar menghentikan mobilnya di lokasi tempatnya yang sepi seperti itu. "Pak Januar Kenapa kita berhenti di sini? ini sudah jam satu lewat. Itu artinya waktu makan siang sudah habis."
Januar menatap Evi dengan intens dan meraih tangan Evi.
"Sekali lagi aku ingin mengatakan isi hatiku dengan jujur kepadamu. Aku benar-benar mencintaimu Evi. Apa kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan?" kembali Januar mengungkapkan isi hatinya. Padahal beberapa hari yang lalu dia sudah mengungkapkan isi hatinya di Apartemen milik Evi.
"Pak Januar, Dari awal saya sudah katakan. Saya tidak mencari kekasih. Tapi saya ingin mencari suami. Jadi kalau memang Bapak benar-benar mencintai saya, silakan datang ke rumah untuk segera melamar saya dengan membawa kedua orang tua Bapak." sahut Evi membuat Januar langsung memeluk Evi dan memberikan kecupan hangat di kening Evi.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"
BAGI SIAPA YANG AKAN MAMPIR KE KARYA BARU EMAK, AKAN ADA GIVEAWAY TGL 6 JULI BAGI BAGI PULSA BAGI PENDUKUNG EMAK YANG PALING AKTIF