Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 84. SHOLAT BERJAMAAH


__ADS_3

Keesokan paginya, Tamara sudah terbangun dari tidurnya. Ia Melihat jarum jam yang ada di dinding sudah waktunya untuk sholat subuh.


Tamara bangkit dari tidurnya. Setelah ia membersihkan diri di kamar mandi, Tamara kembali menghampiri sang suami.


Tamara mencoba membangunkan suaminya.


"Mas, ayo bangun! saatnya shalat subuh." Tamara mencoba membangunkan Regen.


Merasa ada yang menggoyang tubuh dan memanggil dirinya. Regen bergeliat kemudian ia mengucek matanya. Regen mengumpulkan kesadarannya. Ia melihat sang istri sudah menggunakan mukena dan membentangkan sajadah yang mengarah ke arah kiblat.


"Mas, ayo sholat berjamaah."ucap Tamara yang mampu membuat Regen benar-benar terhenyak.


"Astagfirullah, entah sudah berapa lama pria itu sama sekali tidak pernah melakukan sholat. Dia benar benar lupa. Kini wanita yang menjadi istrinya itu mengingatkannya kembali untuk menunaikan tugasnya menjadi seorang muslim.


"Iya sayang, maaf Mas telat bangun. Regen langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi mengambil air wudhu.


Saat ini Regen sudah menggunakan sarung dan lobe yang sudah disediakan oleh Tamara.


kini keduanya ingin melakukan sholat berjamaah. Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga keduanya. Terdengar jelas di telinga keduanya suara yang memanggil mereka.


Tamara bangkit langsung membukakan pintu. ia menatap penampilan putrinya sudah dilengkapi dengan mukena dan ia memegang sajadah di tangan kanannya.


"Masya Allah, Mama lupa Putri Mama ternyata sudah bangun. Ayo sayang, kita sholat berjamaah Bersama Papa."ucap Tamara menuntun tangan Sang Putri.


Ketiganya akhirnya pun melakukan salat berjamaah. Regen yang menjadi imam saat melakukan sholat subuh itu. Doa-doa yang dipanjatkan oleh Cia tidak luput untuk kebahagiaan keluarga mereka. Cia juga berdoa agar segera Allah mengabulkan permohonannya yang menginginkan seorang adik. Regen juga berdoa hal yang sama agar mereka segera dikaruniai buah hati menemani hari-hari mereka.


Setelah selesai sholat subuh, Tamara memberikan salam kepada sang suami yang diikuti oleh Cia. "Ya Allah ternyata aku tidak salah memilih seorang istri yang mampu mengingatkanku untuk kembali ke jalanMu ya Allah."gumam Regen di dalam hati.


Setelah selesai melakukan sholat subuh bersama istri dan Putri sambungnya.


Kini Cia berlalu kembali ke kamarnya. Tanpa diminta oleh Regen dan juga Tamara. "Sayang kenapa Cia tahu kita akan mengadakan sholat subuh, Apa kamu sudah memberitahunya sebelumnya?


"Tidak Mas, hanya saja kami sudah terbiasa melakukan sholat subuh bersama walaupun dulunya Alven sama sekali tidak bersedia menjadi imam saat itu. Tamara selalu mengajarkan Cia agar selalu ingat menunaikan tugasnya menjadi seorang umat muslim.


"Masya Allah, sayang. Jujur Mas sangat bahagia. Entah sudah berapa lama mas tidak melakukan sholat. Untungnya ada kamu yang saat ini mengingatkan Mas untuk melakukan tugas sebagai seorang muslim." ucap Regen kepada istrinya sambil langsung memberikan kecupan hangat kening sang istri.


Setelah selesai melakukan Sholat subuh, Tamara kembali merapikan mukena dan sajadah yang mereka gunakan.


Saat ini Regen sudah duduk di sofa sembari membuka layar laptopnya mencoba melihat laporan yang sudah dikirimkan Januar. Ternyata Regen tidak salah menitipkan kantor kepada Januar, karena Januar benar-benar melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai wakil. Begitu juga dengan Evi, dia melakukan tugasnya dengan baik. Terlihat dari laporan-laporan yang mereka kirimkan tertata rapi dan tidak ada yang mengganjal.

__ADS_1


"Kenapa Mas? kok mau senyum-senyum sendiri?" tanya Tamara sambil langsung duduk di samping sang suami.


"Ini sayang, Ternyata mas tidak salah menitipkan kantor kepada Januar dan Evi. sepertinya mereka memiliki kecocokan, Mas justru berniat ingin menjodohkan mereka berdua." ucap Regen sambal terkekeh membuat Tamara pun mengerutkan keningnya.


"Mas telat banget sih tahu berita.


"Maksudnya apa sayang?


"Januar sudah melamar Evi, tapi belum resmi. karena Januar belum membawa kedua orang tuanya langsung melamar Evi."Tamara memberitahu kepada Regen. Membuat Regen benar-benar terhenyak. Ia tidak menyangka kalau asisten sekaligus adik sepupunya itu ternyata sudah melamar wanita yang selama ini menjadi partner misinya.


"Dari mana kamu tahu sayang?"


"CCTV Tamara ada di mana-mana." sahut Tamara sambil terkekeh.


"Maksud kamu apa sih sayang?


"Makanya Mas kalau Mas di kantor, Jangan macam-macam karena di mana-mana ada CCTV Tamara." sahut Tamara yang mampu membuat Regen semakin penasaran.


"Ayo dong Sayang Dari mana kamu mengetahui hal itu, nanti kabarnya hanya hoax saja."


"Astagfirullah, Mas. Tamara bukan sosial media yang mampu menyebarkan berita hoax tapi ini beneran. Karena yang memberitahunya langsung orang yang bersangkutan yaitu Evi. Ternyata ketika kita masih berada di California Januar sudah melamar Evi.


"Dibilang jadian sih nggak Mas."


"Kok gitu? tapi sudah dilamar?


"Evi menjawab membuat Januar benar-benar terperangah. Dia tidak ingin mencari kekasih Tetapi dia ingin mencari suami. Jadi evi minta Januar untuk segera membawa kedua orang tuanya melamar Evi menjadi pendamping hidup Januar. Tapi menurut Januar dia tidak langsung membawa kedua orang tuanya melamar Evi, karena kita masih berada di California. Januar berniat melamar Evi setelah kita berada di tanah air. Dan mungkin dalam waktu dekat Januar akan segera melamarnya." sahut Tamara sambil mengembangkan senyumnya menatap suaminya dengan tatapan penuh cinta.


"Masya Allah, Kakak sama adik sama saja ya. Nggak salah juga Januar memilih Evi yang akan menjadi pendamping hidupnya. Evi juga wanita yang solehah, walaupun terkadang terlihat barbar." sahut Regen sambil terkekeh keduanya pun tertawa membayangkan Bagaimana sikap Evi yang selama ini yang terkadang barbar.


"Ya sudah Mas, kalau begitu aku turun ke bawah dulu ya. Aku ingin mempersiapkan sarapan pagi untuk Mas.


"Ngapain sayang, kan ada asisten rumah tangga." ujar Januar.


"Tidak Mas, aku ingin menyiapkan sarapan pagi untuk suami Tamara sendiri, tanpa mengharapkan asisten rumah tangga. Itu sudah menjadi kewajiban Tamara sebagai seorang istri." ucap Tamara sambil berjalan meninggalkan suaminya di sana yang sedang mengotak-atik di laptopnya.


"Masya Allah, terima kasih ya Allah, Engkau memberikan istri saleha untuk hamba. Dulu saat Bianca menjadi pendamping hidupku, dia sama sekali tidak pernah melayaniku seperti ini. Jangankan membuatkan sarapan, untuk sekedar menyiapkan pakaian saja Bianca tidak pernah melakukan hal itu.


Mungkin dengan Allah menunjukkan perselingkuhan Bianca membuat Aku terpisah dan mempertemukan aku dengan Tamara, wanita salehah yang menjadi pendamping hidupku untuk selamanya. Ini sudah rencana Allah." gumam Regen di dalam hati. Semuanya benar-benar ada hikmahnya, Allah mempertemukan aku dengan wanita yang benar-benar peduli terhadapku dan keluarga.

__ADS_1


Di dapur Tamara dengan lincah mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga Aditama. Walaupun asisten rumah tangga yang bekerja di sana melarang Tamara. Tapi Tamara tidak peduli. Dia ingin melayani suaminya dengan segenap hati.


"Non, jangan non! biar kami saja ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami." ucap asisten rumah tangga itu kepada Tamara.


"Tidak Bi, aku ingin memasak sarapan pagi untuk suami anak dan mertuaku. Tolong berikan saya kesempatan." ucapnya sambil terus tangannya mempersiapkan bahan-bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan pagi.


satu jam bergulat di dapur, kini Tamara sudah menyelesaikan menu sarapan pagi sederhana di atas meja makan. Lalu ia kembali ke kamar dan melihat suaminya sudah berada di kamar mandi. Tamara langsung mempersiapkan pakaian kantor sang suami, setelah suaminya mengatakan kalau dirinya akan segera ke kantor memantau perkembangan perusahaan hari ini. Setelah beberapa minggu sudah tidak menginjakan kaki di kantor ALC COMPANY


Regen yang baru keluar dari kamar mandi sudah disuguhkan dengan kehadiran istrinya di sana. "Mas Ini bajunya, pakai saja ya. ucapnya Sambil kembali merapikan tempat tidur.


Regen pun mengenakan pakaiannya. kini Regen tinggal menggunakan dasi. Tamara yang melihat itu pun langsung membantu suaminya untuk membenahi dasinya. Setelah memastikan penampilan suaminya sudah rapi, Tamara langsung menggandeng suaminya turun menuruni anak tangga menuju ruang makan.


"Sayang ayo kita sarapan. Cia dan Papa sudah menunggu di bawah." ucapnya karena sebelumnya Cia sudah berada di ruang makan. Ketika Tamara meninggalkan ruang makan itu bocah kecil yang sangat mandiri itu udah ada di ruang makan tanpa harus diminta oleh Tamara. Cia sudah mengetahui jadwal sarapan pagi, karena pagi ini Cia juga harus berangkat ke sekolah.


"Cia berangkat ke sekolah Mas aja yang mengantarnya, kamu tidak perlu repot-repot. karena sekolah Cia searah dengan kantor Mas." ucap Regen kepada Tamara.


"Ya sudah, mana baiknya saja deh." sahut Tamara sambil mengembangkan senyumnya menatap sang suami dengan tatapan penuh cinta.


Saat mereka sudah tiba di ruang makan, Regen sudah disuguhkan dengan pemandangan indah. Tuan Aditama yang sudah duduk di samping Cia menatap menu makanan yang terhidang di sana.


"Wah sepertinya ini makan besar deh, aku akan makan dengan lahap pasti masakan kamu enak." Puji Regen.


"Mas jangan memuji dulu, sebelum mencicipinya, nanti mas kecewa." sahut Tamara sambil mempersilakan suaminya duduk. Dengan telaten Tamara melayani suami putri dan mertuanya. Kini mereka duduk dan menyantap menu makanan yang dihidangkan oleh Tamara.


Ketika Regen memasukkan makanan yang dihidangkan oleh Tamara ke dalam mulutnya, Ia benar-benar terhenyak, makanan itu benar-benar mengunggah seleranya. Tanpa menunggu waktu lama, Regen menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya. Begitu juga dengan Tuan Aditama dan juga Cia.


"Kalau makan kaya begini terus, bisa-bisa aku jadi gemuk." ucap Regen sambil terkekeh.


"Iya, Papa saja Sampai nambah. Benar-benar enak." puji Tuan Aditama.


"Iya Opa. Makanya dari dulu Cia suka sekali masakan mama, daripada masakan yang dijual di restoran. Karena masakan mama paling the best." Puji Cia menimpali Tuan Aditama.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS"

__ADS_1


BAGI SIAPA YANG AKAN MAMPIR KE KARYA BARU EMAK, AKAN ADA GIVEAWAY TGL 6 JULI BAGI BAGI PULSA BAGI PENDUKUNG EMAK YANG PALING AKTIF


__ADS_2