Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 50. PERMINTAAN FITRICIA


__ADS_3

"Papa.... Regen, sakit! Adu Cia mengeluh kesakitan menunjuk ke arah punggung tangannya yang tertancap jarum infus.


"Regen langsung menghampiri Cia yang berbaring di atas branker.


"Mana yang Sakit sayang? tanya Regen sambil langsung memberikan kecupan hangat di kening Cia.


"Papa, ini sakit." ucap Cia sambil kembali menunjuk jarum infus itu kepada Regen.


"Sabar ya Sayang, nanti kalau demam kamu turun jarum infusnya akan dicabut oleh dokter. Kamu mau cepat sembuh, kan? kamu masih mau bermain sama papa dan Opa, kan? ucap Regen membuat Cia langsung berbinar.


"Kau papaku, tidak ada papaku yang lain selain Papa Regen."ucap Cia yang mampu membuat Tamara membulatkan matanya.


Tamara menatap Regen seolah ingin menanyakan sesuatu kepada Regen. Tamara tidak mengetahui apa yang dibicarakan Regen dengan Cia saat mereka sering bermain di rumah Tamara, jika Regen pulang dari kantor.


Selama ini Tamara kurang memperhatikan Regen yang sering bermain dengan keduanya sudah saling berjanji. Mereka akan tetap bersama dan tidak akan meninggalkan satu sama yang lain.


Bahkan Regen dengan terang-terangan mengutarakan niatnya untuk melamar Tamara menjadi istrinya kepada Cia. Regen juga dengan terang-terangan meminta restu dari Cia jika mereka menikah nanti.


Saat Cia mendengar permintaan Regen kepadanya, yang ingin menjadikan Tamara menjadi istrinya. Cia benar-benar bahagia. Bahkan dia langsung memanggil Regen dengan panggilan Papa. Keduanya juga berjanji harus saling menyayangi. Cia juga menginginkan Regen menjadi papa sambungnya. Dia seolah melupakan sosok Alven Ayah kandungnya yang tak pernah merasakan kasih sayang dari.


Terkadang juga Regen bertanya mengenai Alven bagi Cia. Cia berbicara dengan jujur, dia tidak membohongi Regen sama sekali, kalau dirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Bahkan ia mendapatkan kasih sayang dari Regen seperti kasih sayang dari seorang ayah. Sehingga keduanya sama-sama berjanji untuk tetap bersama, dan Regen juga berjanji berusaha untuk menaklukkan hati Tamara.


Tamara menghampiri Cia. "Cia Kenapa kamu memanggil Om Regen dengan panggilan papa? tanya Tamara kepada Cia.


"Ma, Mama..." Cia menginginkan Papa Regen menjadi Papanya Cia. Papa Regen sangat baik, dia perhatian sama Mama dan juga kepada Cia. Tidak seperti papa Alven." ucapnya yang mampu membuat Tamara membulatkan matanya. Karena putrinya itu sudah membandingkan Regen dengan Alven.


Padahal sebelumnya Tamara sudah meminta kepada Cia untuk Tidak membenci ayahnya. Tapi namanya seorang anak kecil, masih membutuhkan kasih sayang dan Cia masih belum bisa membohongi dirinya sendiri.


Mendapatkan kasih sayang penuh dari Regen membuat dia merasa nyaman dan bahagia. Sehingga Cia juga memohon kepada Tamara, kalau dirinya benar-benar menginginkan Regen menjadi ayah sambungnya.


Regen mengembangkan senyumnya, mendapat dukungan penuh dari Cia yang sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


Tamara tidak langsung menjawab permintaan putrinya. Sekilas ia membayangkan Bagaimana kebaikan Regen selama ini terhadapnya dan juga terhadap Cia. Bahkan semenjak bersama Regen dirinya merasa nyaman. Tapi tiba-tiba penghianatan yang dilakukan mantan suaminya Alven membuat Tamara belum dapat mengambil keputusan bersedia menikah dengan Regen.

__ADS_1


Tapi Regen masih setia menunggu, sampai Tamara benar-benar siap untuk menikah dengannya.


Sejauh ini Tamara tidak melarang Cia untuk memanggil Regen dengan panggilan papa. sehingga Regen pun merasa bahagia. Dari sini ia mengetahui kalau Tamara sebenarnya juga memiliki rasa terhadapnya. Tapi rasa trauma yang dalam dirinya belum bisa dihilangkan olehnya.


Sama halnya seperti dirinya, sendiri yang lama dapat menerima seseorang di dalam hatinya kembali. Setelah pengkhianatan yang dilakukan Bianca terhadapnya.


"Aku berharap kamu jangan terlalu lama mengambil keputusan, aku sangat mencintaimu Tamara. Aku memang bukan pria romantis, yang bisa menciptakan kata-kata mutiara yang memabukkan wanita. Tapi jujur, aku benar-benar sayang dan cinta sama kamu, begitu juga dengan Cia. Aku mohon, izinkan aku untuk tetap menyayangi dan mencintaimu. Aku ingin membahagiakan kamu dengan Cia."ucap Regen sambil menggenggam tangan Tamara di hadapan Cia.


Cia perlahan bangkit, mengalihkan atensi Tamara.


"Mama...Mama, juga berhak Bahagia dan juga Cia. Mama mau ya, menikah dengan papa Regen."mohon Cia yang tak mampu ditolak oleh Tamara Permintaan Sang Putri kecilnya.


Tamara mengembangkan senyumnya. "Kalau itu membuat kamu bahagia sayang, Mama akan lakukan." ucap Tamara membuat wajah Regen berbinar. Itu artinya secara tidak langsung Tamara menerima cintanya.


Mendengar jawaban dari Tamara, Cia pun mengembangkan senyumnya. lalu ia berterima kasih kepada Tamara karena sudah memenuhi keinginannya.


"Jadi bagaimana nih, kapan aku dan Papa datang melamar kamu?"tanya Regen kepada Tamara


"Loh Mas, kok jadi Tamara yang ditanya? sahut Tamara sambil mengalihkan pandangannya menutupi wajahnya yang merona.


Malam ini mereka sama-sama berada di rumah sakit berjaga di ruang rawat inap Cia. Regen memilih untuk tetap di sana, dan tidak kembali ke rumah utama keluarga Aditama.


Sementara di tempat lain, tempatnya di rumah utama keluarga Aditama, Tuan Aditama tampak gelisah karena putranya tak kunjung pulang. Kwatir terjadi sesuatu kepadanya, karena Regen tidak memberikan kabar kepadanya.


Tiba-tiba suara deringan ponsel milik Regen terdengar jelas di telinganya. Ia pun meraih ponsel itu, dan melihat nomor ponsel Tuan Aditama yang menghubunginya.


Regen menepuk jidatnya. Ia tahu pasti Tuan Aditama mengkhawatirkan dirinya.


"Astaga! aku lupa mengabari Papa, gumamnya dalam hati sembari langsung menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Tuan Aditama.


Setelah sambungan telepon seluler itu tersambung, Tuan Aditama mencacar Regen dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu di mana? kenapa sampai sekarang belum pulang? papa bang mengkhawatirkan kamu." ucap Tuan Aditama kepada Regen.


"Maafkan Regen pa, saat ini Regen berada di rumah sakit.

__ADS_1


Mendengar kata rumah sakit, Tuan Aditama menjadi panik.


"Memangnya kamu Kenapa, Nak?


"Regen tidak apa-apa pa. Tapi Cia saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Jadi Regen menemani Tamara untuk berjaga di sini. Regen malam ini sepertinya tidak pulang."ucap Regen memberitahu kepada tuan Aditama.


"Memangnya dia sakit apa nak?


"Tadi waktu Regen ke rumah Tamara, tubuh Cia panas sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat Cia ke rumah sakit. dan dokter meminta agar dia dirawat saja mengingat, karna suhu tubuhnya sangat tinggi. Agar dokter dapat memantau keadaannya.


"Sekarang bagaimana keadaan Cia. Apa sudah ada perubahan?


"Alhamdulillah sudah ada Pa, demamnya sudah turun dan saat ini Cia sudah tertidur. ucap Regen memberitahu.


"Kalau saja ini masih sore atau siang Papa pasti akan ke sana menjenguk cucuku itu. tapi ini sudah larut malam. Mungkin besok papa akan menjenguknya." ucap Tuan Aditama.


Setelah selesai berbicara di dalam sambungan telepon selulernya, Regen memutuskan sambungan telepon seluler itu, lalu kembali menghampiri Tamara yang duduk di sofa.


"Siapa Mas? tanya tamara penuh selidik.


"Papa Yang telepon, tadi aku lupa mengabari, kalau kita saat ini berada di rumah sakit.


"Ya sudah, kalau apa mas pulang aja. Tidak apa-apa Tamara sama Cia di sini.


"Enggak ah, aku mau di sini bersama calon istriku dan juga putriku."ucap Regen sambil mengembangkan senyumnya.


Tamara mengalihkan pandangannya berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Dia tidak ingin wajahnya yang sudah memerah dilihat oleh pria yang selama ini sudah mampu mencairkan hatinya yang sudah beku.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"

__ADS_1


__ADS_2