Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 51. TERPESONA


__ADS_3

Sepanjang malam Tamara dan Regen berjaga di rumah sakit. Melihat Tamara yang tampak ngantuk, Regen meminta kepada Tamara untuk merebahkan tubuhnya, di atas branker yang ada sebelah Cia. Karena sebelumnya Regen sudah meminta kepada pihak rumah sakit menyediakan dua branker di ruang VVIP itu.


"Kamu tidur saja dulu, sepertinya kamu sudah capek dan ngantuk, biarkan aku yang berjaga. Nanti kita gantian yang berjaga."ujar Regen kepada Tamara.


Mungkin karena Tamara sudah sangat mengantuk, sehingga Tamara pun tidak banyak protes dan langsung naik ke atas branker, membaringkan tubuhnya di sana.


Tak menunggu lama, Tamara tertidur pulas dengan wajah polosnya mengarungi alam mimpinya. Regen mengelus wajah cantik Tamara, lalu ia memberikan kecupan hangat di kening Tamara. Dan menyelimuti Tamara dengan jasnya.


"Aku berjanji akan berusaha membahagiakan kamu dan juga Cia Aku tidak akan mengobati luka lama yang kamu alami."gumam Regen di dalam hati, sembari duduk di samping branker yang ditempati oleh Cia. Takut jika Cia nanti malam terbangun, sehingga dia harus siap siaga berjaga di sana.


*****


Keesokan paginya, matahari sudah memperlihatkan wajahnya di permukaan bumi. Tamara terbangun dari tidurnya . Tamara mengucek kedua kelopak matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. kemudian netranya menelisik se isi ruangan. Tamara bangkit dan turun dari atas branker yang ia tempati


Tamara melihat Regen sedang tertidur pulas , sambil duduk menyandarkan kepalanya di atas branker yang ditempati putrinya, Tangannya sambil menggenggam tangan Cia. Itu artinya kalau satu malaman ini Regen menjaga Cia disana.


"Masya Allah, ternyata Mas Regen dari tadi malam tidur seperti ini. Padahal dia datang mengatakan Kalau kami akan gantian berjaga, ini malah aku tertidur sampai pagi." gumam Tamara merasa bersalah.


Tamara berlalu ke kamar mandi lalu langsung membersihkan diri. Dia membiarkan Regen tertidur, kasihan dia satu malaman menjaga Cia. Saat Tamara keluar dari kamar mandi, Tamara sudah melihat Regen terbangun


"Mas, maaf ya. Tamara ketiduran jadi nggak gantian deh berjaga."ucap Tamara merasa bersalah


"Tidak apa-apa sayang, Lagian Cia tidak rewel kok. Dia hanya meminta air putih saja saat tengah malam tadi habis itu Cia tertidur lagi."ucap Regen memanggil Tamara dengan panggilan sayang.


Tamara sedikit merona ketika Regen memanggilnya dengan panggilan sayang. Baginya itu terlalu dini. Tapi bagi Regen tidak ada yang terlalu dini, dia ingin memberikan kasih sayang penuh terhadap Tamara dan juga Cia.


Regen pun berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Tamara. Tamara meminta seseorang yang ada di belakang pintu itu untuk segera masuk.

__ADS_1


Ceklek!!


Sekali hentakan pintu terbuka lebar. Terlihat Mario datang berniat untuk menghampiri Regen, sambil membawa paper bag yang berisikan baju ganti untuk Regen.


"Kamu Ternyata, pasti mau jemput Regen mau ke kantor, kan?"tebak Tamara sambil tersenyum


Mario membalasnya dengan senyum manis. "Saya hanya mengantarkan baju ganti untuk Tuan Regen nona."sahut Mario sambil memberikan paper bag ke tangan Tamara.


"Baiklah, akan aku berikan. Saat ini Regen masih di kamar mandi.


"Oh iya nona, Bagaimana kondisi Cia saat ini? Apa dia sudah baikan?


"Alhamdulillah kondisi Cia saat ini sudah semakin membaik, demamnya juga sudah turun. Mungkin nanti sore sudah bisa pulang."sahut Tamara


Saat sedang asyik ngobrol dengan Mario, Regen keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang dililitkan di pinggangnya. Karena sebelumnya dia sudah yakin kalau Mario datang menghantarkan baju ganti untuknya.


"Mas, kok nggak pakai baju? ucap Tamara sambil menutup mata dengan satu telapak tangannya, dan yang satunya memberikan paper bag yang diserahkan oleh Mario tadinya.


"Mas, tidak perlu protes. lebih baik langsung pakai baju. Ngak malu apa bertelanjang dada begitu." gerutu Tamara yang dibalas tawa dari Mario.


"Takut terpesona ya, sayang?" ucap seloroh Regen yang membuat Tamara merah merona bak sirup Marjan.


"Mas, cepat ih! gerutu Tamara sambil membalikkan badannya agar Dia tidak melihat roti sobek yang di sungkan Regen pagi ini. Pemandangan yang sangat indah nagi kamu wanita.


Pria bertubuh kekar itu hanya tersenyum melihat tingkah Tamara yang menyembunyikan wajahnya yang merona.


Kemudian, Regen langsung meraih paper bag itu dan langsung kembali masuk ke kamar mandi untuk menggunakan pakaiannya yang dibawa oleh Mario.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian Regen berada di kamar mandi. Regen keluar dengan penampilannya yang saat ini mampu membuat Tamara benar-benar terpesona melihat pria bertubuh kekar itu.


Cia membuka kelopak matanya. Perlahan ia menatap Tamara dan Regen bergantian. Cia sudah melihat penampilan Regen yang terlihat rapi. Itu artinya Regen akan pergi meninggalkan Cia.


"Papa mau ke kantor ya?"tanya Cia saat melihat Regen sudah menghampiri dirinya.


"Maaf ya, Sayang. Papa tinggal dulu kamu di rumah sakit, Papa mau kerja dulu. Nanti sore Papa akan datang lagi. Tidak apa-apa kan, Papa tinggal dulu? Soalnya ada pekerjaan penting yang harus Papa selesaikan hari ini." ucap Regen sambil mengelus rambut milik bocah kecil itu.


"Iya Papa, tidak apa-apa. Tapi Papa janji ya nanti sore datang lagi." ucap Cia dengan nada memohon.


Regen mengembangkan senyumnya. lalu ia memberikan kecupan hangat di kening dan wajah cantik Cia. "Papa janji sayang, setelah urusan Papa di kantor telah selesai, papa akan langsung datang ke sini. Karena Papa pasti akan merindukan Cia dan Mama." ucap Regen sambil mengedipkan matanya sebelah ke arah Tamara.


kemudian Regen beralih kepada Tamara. "Sayang aku tinggal dulu ya, nanti sore aku langsung datang ke sini sehabis pulang dari kantor."pamit Regen sambil mengecup kening Tamara dengan sekilas.


Tamara menganggukkan kepalanya. lalu melambaikan tangannya, saat Regen melangkah keluar dari pintu ruang rawat inap Cia.


Tamara menatap Regen melangkah keluar. sampai punggung pria bertubuh kekar itu menghilang dari pandangannya. Saat ini hanya Tamara dan dia yang ada di ruang perawat inap itu.


Sementara di tempat lain. Alven Mendengar pembicaraan Evi dengan Januar. Kalau saat ini dia sedang dirawat di rumah sakit dan mereka berniat untuk menjenguk Cia saat makan siang nanti.


Alven terhenyak ketika mendengar putrinya Fitricia saat ini sedang dirawat di rumah sakit. tetapi tak marah sama sekali tidak mengabarinya.


"Mungkinkah Tamara sangat membenciku atas perlakuanku selama ini terhadapnya? sehingga Tamara tidak memberitahuku kalau saat ini Cia sedang?" gumam Alven dalam hati.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2