Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 49. CIA DIRAWAT


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, Evi dan Januar meninggalkan Regen dan Tamara makan siang di cafe Cempaka. Regen dan Tamara akhir-akhir ini sudah semakin dekat. Bahkan keduanya sering bertukar pesan untuk sekedar menanyakan kabar dan bertanya mengenai sekolah Cia.


Regen juga setelah pulang dari kantor, dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah Tamara bersama Cia. Setelah Malam barulah Regen kembali ke rumah utama keluarga Aditama.


Regen berniat untuk langsung melamar Tamara. Walaupun hingga saat ini Tamara belum menerima Regen untuk menjadi kekasihnya. Tapi Tamara tidak menolak juga, dia hanya ingin memantapkan hatinya. Apalagi setelah melihat Cia begitu dekat dengan Regen.


"Selamat sore...,sapa Regen ketika dirinya tiba di rumah Tamara yang saat ini warung es bobo Tamara masih buka.


"Eh Mas Regen." sahut Tamara sambil mempersilahkan Regen duduk. Sementara Tamara masih sibuk dengan es Bobanya.


"Putriku dimana?" tanya Regen tiba-tiba membuat Tamara mengerutkan keningnya. Dia bingung Putri yang mana dimaksud Regen.


"Maksudnya?


"Iya, Putri ku Cia dimana? tanya Regen sambil bangkit dari tempat duduknya.


Sementara Mario duduk di sana, menikmati es Boba yang dihidangkan oleh Tamara untuknya.


"Oh, Cia ada di rumah Mas. Tadi aku tinggal sedang tiduran di sofa sambil nonton film kartun Upin Ipin." sahut Tamara lalu Regen langsung berlalu meninggalkan Tamara di sana.


"Cia....., Sayang kamu dimana? teriak Regen dari pintu rumah. Tidak ada sahutan sama sekali, yang terdengar hanya suara televisi di ruang tamu.


Regen mendekat melihat keberadaan Cia yang saat ini berbaring di sofa. Regen mengembangkan senyumnya yang sebelumnya dia yang menonton kartun kesayangannya Upin Ipin, sekarang malah Upin Ipin yang menonton Cia tertidur.


Dia lihat wajah damai bocah kecil. Ia mengelus rambut indah Cia yang begitu menggemaskan. Tetapi saat ia mengelus rambut Cia, tangannya mengenai keningnya.

__ADS_1


"Loh Cia panas sekali? gumamnya panik. kembali Regen memastikan suhu tubuh Cia.


Regen langsung meraih tubuh bocah kecil itu kepelukannya, ternyata dia baringan di sana, karena Cia merasa tidak enak badan. Tapi dia tidak mengeluh kepada Tamara. Karena ia melihat Tamara sedang sibuk melayani para pembeli es di warung milik mereka.


Dia mengetahui hanya dari warung itulah Tamara mencukupi kehidupan mereka sehari-hari dan juga biaya sekolahnya.


"Waduh, badan kamu panas sayang." ucap Regen kepada Cia sambil langsung meraih tubuh dia kepelukannya..


Tamara yang baru saja beres-beres akan menutup warung es Boba miliknya, mengalihkan atensinya saat Regen memanggil Tamara.


"Ada apa mas?" tanya Tamara saat melihat Regen menggendong Cia keluar lalu masuk ke dalam mobil.


"Cepat! kita harus bawa Cia ke rumah sakit badannya panas sekali." titah Regen membuat Tamara terhenyak. padahal sebelumnya Cia baik-baik saja. Setelah makan siang Tamara memintanya untuk rebahan sambil menonton televisi.


Mario langsung membantu Tamara untuk membereskan warung es Boba milik Tamara. Sementara Tamara mengganti pakaian dan juga mengambil tas dan dompetnya.


Mario menghidupkan mesin mobil yang ia kendarai, setelah memastikan Tamara masuk dan duduk dengan nyaman.


Maria melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Takut terjadi sesuatu kepada Cia kalau Cia terlambat di tangani, sesuai dengan perintah Regen. Tak menunggu lama, mobil yang dikendarai Mario tiba di rumah sakit.


Regen langsung meraih tubuh Cia menggendongnya sambil berteriak memanggil suster dan dokter untuk segera menangani Cia.


Saat ini dia sudah berada di ruang UGD, dan dokter sudah mulai memeriksa Cia setelah Cia dibaringkan di atas branker.


Setelah beberapa menit kemudian dokter memeriksa kondisi Cia, dokter menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tubuh anak ini panas sekali Tuan, dia harus dirawat inap, agar kami dapat memantau mengingat suhu tubuhnya saat ini cukup tinggi.


"Iya dokter, tidak apa-apa. Lakukan yang terbaik untuk Putri saya." sahut Regen. Salah satu suster langsung memasang jarum infus ke punggung tangan Cia. berharap demam Cia akan lebih cepat turun.


"Mas, gimana ini mas? Cia harus dirawat." ucap Tamara sambil menangis sesungguhkan.


"Jangan khawatir, Cia tidak akan apa-apa. Lebih baik kamu berdoa saja, supaya Cia cepat sembuh." ujar Regen. Cia meringis kesakitan saat suster memasang jarum infus di punggung tangannya. Tamara merasa tidak tega melihat bocah kecil seperti Cia sudah merasakan sakitnya jarum infus.


"Ya Allah sakit sekali itu." gumam Tamara di dalam hati. Sembari memberikan kecupan hangat di kening putrinya, mencoba menenangkan dan memberikan kekuatan kepada putrinya.


Kini Cia akan dipindahkan ke ruang rawat inap."Mas Kenapa Cia dirawat di ruangan seperti ini? pasti mahal Mas." ucap Tamara yang mengetahui isi dompetnya sudah pasti tidak akan cukup membiayai pengobatan Cia selama berada di rumah sakit, kalau dia dirawat di ruang VVIP seperti yang diminta oleh Regen.


"Kamu jangan khawatir, Yang penting Cia merasa nyaman dan cepat sembuh.


"Tapi Mas...."


"Ssssst.... Regen menempelkan jari telunjuknya di bibir manis Tamara.


Cia sudah aku anggap seperti putri kandungku sendiri. Jadi kamu jangan khawatir mengenai biaya pengobatannya. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk putriku." sahut Regen.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2