Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 103. PENGEN DI MANJA


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih dua puluh menit dari ALC COMPANY menuju rumah utama keluarga Aditama. Kini mobil yang dikendarai Mario pun tiba di halaman rumah berlantai tiga bermodel Mediterania itu.


Cia yang mendengar suara mobil Regen memasuki halaman rumah langsung berlari membuka pintu utama. Saat Cia melihat Regen turun dari dalam mobil, Cia langsung berlari dengan kencang menghampiri Regen.


"Papa..." teriak Cia sambil langsung memeluk Regen. Regen langsung menggendong tubuh mungil bocah kecil itu lalu membubuhinya dengan kecupan demi kecupan.


"Putri Papa belum makan?


"Belum Pa, Cia mau nunggu papa aja."sahut Cia sambil memberikan ciuman di wajah tampan Regen.


Kemudian Regen menurunkan Cia kembali saat sudah tiba di teras. Cia langsung meraih tangan Tuan Aditama lalu mencium punggung tangan Tuan Aditama dengan takzim.


Tamara mengembangkan senyumnya. Lalu meraih tangan Regen dan mencium punggung tangan suaminya. Kemudian Tamara juga melakukan hal yang sama kepada Tuan Aditama.


Tuan Aditama dan Regen masuk ke rumah. kini Tuan Aditama langsung masuk ke kamarnya berniat ingin membersihkan diri. Begitu juga dengan Regen setelah ngobrol sebentar dengan Cia, Ia pun memutuskan masuk ke dalam kamarnya untuk segera melakukan ritual mandinya.


Setelah selesai melakukan ritual mandinya, dengan cepat-cepat Regen menggunakan pakaiannya lalu ia Turun ke bawah menghampiri Tamara dan juga Cia, yang sudah menunggunya di ruang makan.


Tampak Tuan Aditama juga sudah datang ke ruang makan. Kini Tuan Aditama, Regen, Cia dan Tamara sudah duduk dengan nyaman. Dengan telaten Tamara banyak melayani suami dan mertuanya.


"Cia mau makan sendiri, apa Mama suapi?" tanya Tamara.


"Cia makan sendiri aja Ma, Cia kan sudah gede." sahutnya sambil langsung meraih piring yang ada di depannya. Terlihat Cia makan dengan lahap Begitu juga dengan Tuan Aditama dan Regen.


***

__ADS_1


Drama makan malam pun telah usai, kini Regen, Tuan Aditama, Tamara, dan Cia sudah duduk di ruang keluarga. Mungkin karena sudah ngantuk, Cia sudah terlihat menguap sesekali. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas sofa dan membuat paha menjadi bantalnya.


"Astaga Cia, Papanya sudah capek bekerja malah tidur di paha Papa." ucap Tamara melihat tingkah putrinya yang seolah ingin dimanja Regen.


"Sudah Sayang, nggak apa-apa. Mungkin Cia ngantuk." ucap Regen sambil terus mengelus rambut Cia.


"Tak berapa lama ternyata benar, Cia Langsung tertidur pulas saat ketiga orang dewasa itu terlibat obrolan mengenai kondisi kesehatan Januar saat ini, yang sudah berangsur-angsur.


Tuan Aditama dan juga Regen sudah berencana ingin langsung melaksanakan pernikahan Januar dan Evi, ketika Januar sudah benar-benar pulih. Dan itu sudah diobrolkan langsung oleh Tuan Aditama dengan Tuan Baskoro yang merupakan adik kandung dari Tuan Aditama.


"Mas, Sepertinya dia sudah tertidur pulas. Lebih baik dia dipindahkan ke kamarnya saja." ujar Tamara sambil ingin langsung meraih tubuh putrinya.


Tapi Regen langsung menggendongnya lebih dulu lalu membawanya ke atas dan diikuti oleh Tamara. Regen membaringkan tubuh Cia di atas ranjang yang ditempati Cia selama ini. Setelah dia tinggal di rumah utama keluarga Aditama. Kemudian perlahan Regen keluar dari kamar itu setelah membenahi selimut tebal ke tubuh Cia hingga bahunya.


"Mas, Kamu pasti capek, ya,"sahut Tamara sambil mengembangkan.


"Sedikit sayang, Maaf ya. Mas agak lama pulang akhir-akhir ini. Karena tugas Januar Mas yang pegang saat ini."ucap Regen kepada Tamara.


"Tidak apa-apa, Mas. Namanya juga Mas bekerja. Asal jangan berpaling ke lain hati saja." sahut Tamara sambil menatap suaminya dengan tatapan intens.


"Tidak akan sayang, tidak pernah ada terbesit di hati Mas untuk berpaling dari kamu. Karena kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat mencintai. Kamu percaya kan sama Mas." ucap Regen sambil meraih tubuh istrinya kepelukannya.


Tamara menganggukkan kepalanya. "Mas tolong jaga hati dan perasaan Tamara, ya. Aku tidak ingin rumah tangga Tamara gagal untuk yang kedua kalinya. Hal itu yang Tamara takutkan. Sehingga Tamara sulit membuka hati saat itu." ucap Tamara dengan nada memohon.


"Jangan khawatir Sayang, Mas juga memohon kepada kamu agar menjaga hati dan perasaan Mas, ya. Sahabat sambil memberikan kecupan hangat di bibir Tamara.

__ADS_1


Perlahan kecupan itu semakin mendalam, Hingga Tamara pun akhirnya membuka rongga mulutnya. Agar lebih leluasa memainkan lidahnya di sana. Saat Tamara merasa kekurangan oksigen Regen pun melepaskan pagutannya.


Setelah asupan oksigen sudah merasa cukup Regen kembali memberikan kecupan di bibir ranum Tamara. Dari bibir beralih ke jenjang leher milik Tamara tangan Regen


Tamara menikmati gerakan demi gerakan yang dilakukan oleh suaminya. Hingga dirinya pun mulai mengeluarkan suara nakalnya. Suara nakal itu yang mampu membuat adik kecil Regen semakin menegang.


Kini Regen sudah merasa tidak tahan lagi, Dia pun akhirnya menuntun istrinya berbaring di atas ranjang. Entah siapa yang memulai permainan panas itu, kini tubuh Regen sudah tidak terbalut sehelai benang pun. Begitu juga dengan Tamara dengan sekali hentakan pakaian yang dikenakan oleh Tamara terlepas dari tubuhnya. Hingga tubuh mulus Tamara terekspos jelas di mata Regen.


"Glek! susah payah Regen menelan salivanya, ketika melihat tubuh mulus istrinya yang begitu membuat adik kecilnya semakin bangkit. Kembali Regen memberikan kecupan hangat di bibir Tamara membuat suara nakal milik Tamara semakin menggelegar di telinga Regen.


Hal itu benar-benar membuat Regen menelan salivanya . Hingga Regen pun langsung menuntaskan permainan sampai Regen dan Tamara merasa benar-benar puas.


Setelah Regen dan Tamara benar-benar mencapai puncaknya, Regen memberikan kecupan hangat di kening Tamara."Terima kasih sayang ,aku sangat mencintaimu."ucap Regen kepada Tamara sambil menatap Tamara dengan tatapan penuh cinta.


"Aku juga sangat mencintaimu mas. mudah-mudahan benih yang Mas tanamkan tumbuh di sini, ya sayang. Agar Cia memiliki adik dan supaya Cia tidak merasa kesepian." ucap Regen kepada Tamara. Tamara menganggukkan kepalanya. Kemudian ia pun memberikan kecupan hangat di bibir ramuan suaminya.


"Aku juga mencintaimu Mas. Aku juga menginginkan hal yang sama seperti yang Mas inginkan." sahut Tamara. Kemudian Regen pun melap keringat yang sudah menetes di bagian dahi istrinya. Dia pun menggendong Tamara masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN

__ADS_1


__ADS_2