Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 42. PERNIKAHAN TIDAK CANDAAN


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Tuan Aditama dan Cia meninggalkan Tamara dan juga Regen di ruang tamu berdua. Tuan Aditama mengajak Cia bermain di gazebo.


Tuan Aditama ingin memberikan waktu kepada Tamara dan juga Regen untuk berbicara dari hati ke hati.


"Bagaimana perkembangan usaha warung es boba milik kamu?"tanya Regen memecahkan keheningan. Dia sengaja memulai bicara, karena ia tahu Tamara tidak akan memulai pembicaraan tanpa dia yang memulai.


"Alhamdulillah, sejauh ini lumayan lancar. Ya untuk biaya makan sehari-hari dan biaya sekolah Cia cukuplah dari sana. Walaupun hidup tidak mewah tapi setidaknya mencukupi."sahut Tamara jujur.


"Syukurlah kalau begitu.


"Tamara Aku ingin membicarakan sesuatu hal kepadamu. Mungkin obrolan kita saat di meja makan tadi kamu mengira, itu hanya canda belaka. Tapi sejujurnya saya serius dengan ucapan saya.


"Maaf Tuan Regen." ucap Tuan yang mana maksudnya? tanya Tamara memperjelas.


"Saya menginginkan kamu tetap tinggal di rumah ini Bersama Cia. Dan jika kamu merasa risih akan anggapan orang terhadap kamu, Menikahlah denganku!" ucap Regen yang mampu membuat Tamara mengerutkan keningnya. Seolah pria yang dihadapannya hanya bercanda berbicara terhadapnya.


Biasanya seorang pria jika melamar seorang wanita, pastilah mengajak wanita itu dinner bareng, atau semacam lainnya. Yang pasti pasti melakukannya Di tempat-tempat romantis atau dimana saja yang momennya berkesan. Tetapi pria kaya raya yang ada di hadapannya, melakukannya seperti candaan saja.


Hal itu membuat Tamara tidak percaya begitu saja apa yang diucapkan oleh Regen, serius atau tidak.


"Maaf Tuan Regen, tapi pernikahan itu bukan hanya candaan. Tetapi itu sakral bagi saya. sebenarnya saya menginginkan pernikahan itu sekali seumur hidup. Tapi Allah berkehendak lain. Allah memisahkan aku dengan mas Alven. Karena Mas Alven lebih memilih wanita lain dibandingkan diriku,"


Jika saja Mas Alven ingin mempertahankan rumah tangga kami, mungkin saya tidak akan bercerai. Tapi dia sudah tidak mencintai saya, dan tidak menyayangi Cia. Bahkan mungkin saya tidak pantas baginya, sehingga dia pun memilih menikah dengan wanita lain,"


"Apalagi, dia sendiri yang menalak Aku lebih dulu bukan aku yang meminta bercerai dengannya. Aku bisa apa? tidak bisa berbuat apa apa. Hanya saya berharap dia akan merubah keputusan sebelum sidang perceraian itu terjadi,"


"Tapi mungkin aku tidak layak untuknya Karena aku bukan seperti wanita yang dia harapkan. Aku memang wanita yang banyak kekurangan,"

__ADS_1


" Maafkan, aku Tuan Regen. Pernikahan itu bukan hanya candaan, dan juga bukan mainan. Tetapi itu sakral bagi saya." ucap Tamara dengan jelas. Ia tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya dalam pernikahannya. Karena itu satu aib baginya, gagal dalam membina rumah tangga..


"Memangnya siapa yang bercanda? saya serius loh." ucap Regen kepada Tamara. Tetapi Tamara tidak menjawabnya. Dia hanya diam saja, pandangannya ia alihkan ke arah lain tanpa berani menatap Regen.


Regen meraih tangan Tamara, berusaha meyakinkan Tamara kalau dirinya serius mengucapkan niat baiknya, untuk menikahi Tamara. Tapi Tamara sampai saat ini belum bisa menerima pria lain. Setelah dia mendapatkan pengkhianatan dari mantan suaminya sendiri.


"Maaf Tuan Regen, untuk saat ini saya belum bisa."


"Aku tahu, menyembuhkan luka di hati kita yang sudah dikhianati oleh pasangan kita, itu memang sulit. Bukan hanya kamu yang mendapatkan Pengkhianatan dari pasangan tetapi saya juga. Akhirnya Regen pun menceritakan kisah hidup rumah tangganya saat bersama Bianca. Membuat Tamara pun langsung terdiam, ternyata pria yang ada di hadapannya juga mendapatkan Pengkhianatan dari pasangannya sendiri, sama seperti dirinya.


"Tapi asal kamu tahu, susah payah saya melupakan itu semua, sampai saya mengambil pendidikan S3 ke luar negeri agar ingatanku teralihkan dari pengkhianatan Bianca, "


"Kamu ingat kan, saat kecelakaan naas yang menimpa aku, terjadi?


Tamara menganggukkan kepalanya. Lalu Regen pun melanjutkan apa yang ingin Ia utarakan.


"Saat sebelum kecelakaan itu terjadi, aku mengadakan meeting bersama Januar dengan klienku yang dari luar negeri. Saat itu juga, aku melihat Bianca bersama suami baru dan anaknya. Seketika hati ini bagai tertusuk duri tajam. Ingat betul Bagaimana dirinya sedang bercumbu mesra di sebuah kamar hotel yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Hati saya saat itu benar-benar hancur. Mengingat kembali apa yang sudah dilakukan Bianca terhadap saya,"


"Berapa lama saya berada di rumah sakit, Papa bercerita kamu selalu setia menjenguk saya ke rumah sakit. Sampai saya siuman, dan waktu saya mendapatkan perawatan di rumah sakit juga kamu selalu datang melihat kondisiku,"


"Yang entah mengapa melihat kamu, sekejap aku bisa melupakan Bianca. Wanita yang sudah mengkhianati pernikahan kami." ucap Regen berterus terang kepada Tamara.


Tamara masih terdiam. Dia benar-benar tidak menyangka lelaki yang ada di hadapannya mengalami kecelakaan, karena melihat wanita di masa lalunya telah bersama orang lain, sementara dirinya masih tetap single parent


"Untuk saat ini tidak bisa menjawab Tuan Regen, berikan aku waktu." ucap Tamara sambil berusaha mengembangkan senyumnya.


"Saya juga tidak memaksa kamu untuk menjawab sekarang. Saya akan menunggu kamu sampai Kamu siap.Tapi kalau boleh jangan terlalu lama ya. Karena saya sudah merasa nyaman dan cinta sama kamu. Apalagi Cia begitu menggemaskan, membuat hidupku menjadi berwarna. ucap Regen berterus terang kepada Tamara.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, saat Tamara melihat jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Tuan, ini sudah jam sembilan, aku dan Cia ingin pamit pulang." ucap Tamara meminta izin kepada Regen agar mereka segera pulang ke rumah.


Regen pun menganggukkan kepalanya, lalu Tamara memanggil Cia yang sedang asyik bermain dengan Tuan Aditama. Sepertinya Cia tidak rela meninggalkan Tuan Aditama begitu saja, tetapi karena sudah semakin malam Akhirnya dia pun bersedia untuk pulang


Mario mempersiapkan mobil. Regen dan Mario kembali menghantarkan Tamara dan juga Cia. Regen tidak ingin membiarkan Tamara dan Cia naik taksi online.


Entah karena merasa ngantuk dan sudah lelah bermain dengan Tuan Aditama, akhirnya Cia tertidur pulas Di pangkuan Regen. Tampak Raden mengelus rambut bocah kecil itu. selama di dalam perjalanan, Tamara tidak berbicara sedikitpun.


Setelah sepuluh menit kemudian, mereka pun tiba di rumah Tamara. Mario turun dan membukakan pintu untuk Tamara. Tamara turun lebih dulu, dan membuka pintu gerbang lalu membuka pintu rumah. Agar Regen dapat menggendong Cia masuk ke dalam kamarnya.


Regan dengan siap menggendong Cia masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan tubuh bocah kecil itu, kemudian dia memberikan kecupan hangat di kening Cia.


"Maaf Pak Regen, aku rasa Pak Regen sudah pegal karena menggendong Cia sepanjang perjalanan.


"Tidak perlu minta maaf, kami pamit ya. Besok saya ke sini lagi." ucap Regen sambil mengembangkan senyumnya.


"Terimakasih ya Pak." ucap Tamara


Regen mengembangkan senyumnya lalu melambaikan tangannya ke arah Tamara. sementara Mario sudah duduk di bangku kemudi.


Setelah Regen berada di dalam mobil dengan dan duduk dengan nyaman, Mario menghidupkan mesin mobil yang ia kendarai, lalu melaju ke arah jalan raya menuju rumah utama keluarga Aditama.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU EMAK "Aku Ibu Mu, Nak"


__ADS_2