Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 89. INGIN MENIKAH


__ADS_3

"Kamu serius mau menikah? tanya Nyonya Raina kepada Januar ketika Januar mengutarakan niatnya yang ingin menikah. Padahal dari dulu Nyonya Raina dan Tuan Baskoro sudah sering meminta dan memohon kepada Januar agar segera menikah mengingat usia Januari saat ini sudah hampir menginjak 40 tahun tidak jauh beda dari Regen.


"Perempuan mana yang mampu menaklukkan hati Putra Mama ini?"tanya Nyonya Raina seolah tidak percaya kalau putranya akan segera menikah.


"Jujur dia wanita biasa-biasa saja. Bahkan dia juga tidak memiliki orang tua dan dia di kota ini hanyalah anak rantau. Semenjak kecil dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya." Januar memberitahu kepada Nyonya Raina dan Tuan Baskoro.


"Jadi, wanita itu anak yatim piatu? Nyonya Raina memperjelas.


"Iya, Ma. Evi anak yatim piatu. Semenjak dia duduk di bangku SD ayahnya meninggal, disusul ketika dia duduk di bangku SMP ibunya meninggal hingga dirinya hidup seorang diri.


"Tapi, apakah tidak ada wanita lain lagi selain wanita itu yang akan menjadi pendamping hidupmu? apa kata orang-orang nanti jika mereka mengetahui siapa sosok calon istrimu? Nyonya Raina mencoba memberikan pandangan kepada putranya.


"Mama ini apa-apaan sih, yang hidup berumah tangga itu adalah Januar dan juga Evi. Bukan orang lain. Yang penting Januar sangat mencintai Evi." Januar mencoba memberikan pengertian kepada Nyonya Raina kalau dirinya benar-benar mencintai Evi dengan tulus.


Tuan Baskoro yang sudah dari tadi hanya diam saja, kini angkat bicara. "Kenapa tidak kamu perkenalkan dulu wanita itu kepada kami?"tanya Tuan Baskoro kepada putranya.


"Wanita ini sangat berbeda pa, Apa Papa tahu dia sudah berbicara langsung kepada Januar kalau dia tidak akan mencari pacar atau kekasih. Dia hanya mencari suami. Walaupun berkali-kali Januar mengungkapkan isi hati Januar kepadanya, tetapi jawabannya tetap sama.


Tuan Baskoro mengerutkan keningnya. Baru kali ini seorang wanita yang mengatakan seperti itu, bukan menolak. Tapi meminta seorang pria yang langsung melamarnya walaupun mereka belum menjalin hubungan kekasih beberapa saat.


"Apa kamu sudah lama mengenal wanita itu?


"Semenjak wanita itu bekerja di kantor ALC COMPANY.


"Jadi wanita itu merupakan karyawan ALC COMPANY juga?"

__ADS_1


"Iya Pa, dia bekerja di sana.


Sebenarnya dia hanya lulusan SMA. Dulunya dia hanya bertugas sebagai petugas kebersihan di kantor. Tapi karena kinerjanya bagus dan dia wanita yang cerdas dan cekatan membuat Tamara mengangkat dirinya menjadi salah satu staf di kantor. Dan itu disetujui oleh Tuan Aditama, karena Tuan Aditama juga mengetahui bagaimana kinerja Evi. Apalagi Evi pernah menyelamatkan perusahaan dari orang-orang yang berniat menghancurkan ALC COMPANY. Januar memberitahu siapa sosok wanita yang akan ia jadikan pendamping hidupnya tanpa ada yang ditutup-tutupi dari kedua orang tuanya.


"Tapi apa kata orang nanti?


"Kok, Mama mikirin omongan orang sih? kini Tuan Baskoro sudah membela putranya.


"Ya malu dong Pa, masa Putra kita menikah dengan wanita yang tidak sepadan dengan kita!"


"Tidak sepadan Bagaimana Ma? semua manusia itu sama di mata Allah. Tidak ada yang berbeda mau kaya atau miskin. Tua atau muda. Yang penting sekarang akhlaknya. Kalau masalah uang, kita bisa cari. Sepertinya Putra kita tidak menginginkan seorang istri yang berkarir sampai melejit. Karena Januar juga akan mampu membiayai kehidupan rumah tangganya kelak,"


"Hidup Januar hanya dari restoran miliknya saja pasti dia mampu menghidupi anak dan istrinya kelak. Apalagi saat ini Januar masih menjabat menjadi wakil CEO di ALC COMPANY yang pendapatannya juga lumayan besar. Selain dari sana, dia juga memiliki keuntungan yang lumayan besar dari restoran. Jadi nggak perlu lah, istri Putra kita harus memiliki karir yang seperti Mama inginkan. Yang penting dia mampu mengurus rumah tangga dan juga mengurus Putra kita." Tuan Baskoro berusaha memberikan pengertian kepada Nyonya Raina.


Bahkan Tamara juga meminta Evi untuk tinggal di sana saja, dan tidak perlu tinggal di apartemen. Supaya Evi tidak merasa kesepian. Karena di lokasi rumah sederhana milik Tamara itu lumayan ramai dan tetangga juga sangat ramah, membuat Tamara betah tinggal di lokasi itu.


"Pantas Kak Tamara dulu betah tinggal di sini. semua orang di sini ramah seperti keluarga." Evi bergumam ketika dia mendapat teguran dari para tetangga yang ada di sana saat Evi sedang menikmati udara sore di halaman rumah, di bawah pepohonan rindang.


"Eh neng Evi, Tamara nggak pernah ke sini lagi, ya? sudah enak ya dia. Aku bersyukur Tamara mendapatkan suami yang begitu baik dan juga kaya. Itulah buah dari kesabaran Tamara selama ini." ucap seorang ibu paruh baya yang datang menghampiri Evi saat Evi duduk di ayunan di bawah pepohonan rindang.


"Iya Bu, Alhamdulillah Kak Tamara saat ini sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru."sahut Evi sambil mengembangkan senyumnya


"Oh iya, Bagaimana si Alven saat ini, apakah dia sudah bebas? jujur Ibu tidak menyangka dia tega menyakiti putrinya sendiri."Ibu paruh baya itu mengingatkan Evi atas Alven yang sudah menyakiti keponakannya Cia.


"Belum Bu, dia masih dipenjara saat ini."

__ADS_1


"Syukurlah kalau dia sudah mendapat hukuman atas apa yang sudah ia perbuat. Tamara itu wanita yang baik, begitu juga dengan Cia. Dia seorang putri yang sangat bijak"wanita itu memuji kebaikan Tamara dan juga Cia.


Beberapa menit baru ngobrol bersama Evi Ibu paruh baya itu pun berpamitan berlalu meninggalkan Evi menuju rumahnya.


"Ternyata banyak yang menyayangi Ka Tamara di tempat ini. Terbukti mereka mengetahui kasus yang dihadapi Kak Tamara. mereka juga menaruh empati kepada Kak Tamara." Evi bermonolog sendiri.


Tiba-tiba suara deringan ponselnya terdengar jelas di telinganya. Ia melihat nomor ponsel Januari yang menghubungi dirinya. Evi menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya berharap sambungan telepon seluler itu tersambung kepada Januar.


"Halo assalamualaikum Pak Januar! sapa Evi saat sambungan telepon selulernya sudah tersambung. Januar sengaja menghidupkan speaker phone ponselnya agar kedua orang tuanya mendengar Evi berbicara.


"Sayang, kamu lagi dimana?


"Sayang? kita nggak suami istri Jadi nggak perlu panggil sayang kepadaku."


"sebentar lagi juga kamu istriku."


"Ya,tunggu jadi istri dulu baru panggil sayang." sahut Evi sekenanya karena dia sama sekali tidak mengetahui kalau kedua orang tua Januar mendengarkan apa yang ia bicarakan.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN " DI BULLY KARNA OBESITAS

__ADS_1


__ADS_2