Jodoh Ke Dua

Jodoh Ke Dua
BAB 81. WARUNG PINGGIR JALAN


__ADS_3

Di kota Jakarta Evi yang berniat untuk menikmati makan siangnya di salah satu rumah makan Minang yang lokasinya tidak jauh dari kantor pencakar langit ALC COMPANY keluar dari lobby kantor.


Januar langsung meraih ponselnya yang ada di saku celananya.


Kring ....


Kring ....


Kring ....


Suara deringan ponsel milik Evi terdengar jelas di telinganya. Evi meraih ponsel yang Ada di tas sandang miliknya.


Evi menatap nomor ponsel yang menghubungi dirinya nomor ponsel Januar. Evi menekan tombol hijau yang ada di layar ponselnya agar sambungan telepon selulernya tersambung kepada Januar.


"Ya Selamat siang pak Januar. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Evi di dalam sambungan telepon selulernya.


"Kamu di mana?" tanya Januar padahal Ia sudah mengetahui keberadaan Evi saat ini.


"Saya masih berada di lobby Pak, Ingin pergi ke rumah makan yang lokasinya tidak jauh dari kantor ini. Kebetulan Evi tidak membawa bekal makan siang." sahut Evi jujur.


"Tunggu di situ! saya akan turun, kita makan bareng." Titah Januar sembari langsung berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju lift khusus petinggi perusahaan. Ia berniat makan siang bersama dengan Evi siang itu.


Sambil berbicara di dalam sambungan telepon, Januar berjalan ke lobby setelah keluar dari lift khusus petinggi perusahaan. Dia sudah melihat Evi menunggunya di pintu gerbang kantor.


"Tunggu saja di situ ya, jangan kemana-mana aku akan mengambilkan mobil, klik... Januar memutuskan sambungan telepon selulernya lalu masuk ke dalam mobilnya Januar menghidupkan mesin mobil miliknya dan melajukannya menghampiri Evi yang sedang menunggu di pintu gerbang kantor.


"Silakan Tuan Putri." ucap Januar ketika sudah tiba di hadapan Evi. Membuat Evi pun tertawa cengengesan mendengar Januar mengatakannya sebagai Tuan putri.


"Astagfirullah Pak Januar, ada-ada saja." ucapnya sambil langsung duduk di bangku samping kemudi.


"Januar melajukan mobilnya ke arah jalan raya.


"Kita makan di mana?" tanya Januar kepada Evi.


"Loh, kok nanya sama aku sih Pak? bukannya pak Januar yang mengajak makan siang bareng?" sahut Evi.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita makan di salah satu restoran langgananku saja?" sahut Januar. Evi langsung menggelengkan kepalanya.


" Evi tidak mau makan di restoran langganan Pak Januar."


"Karena apa?


"Karena makanan di sana terlalu mahal sekali. makan di sana gaji Evi satu bulan bekerja di ALC COMPANY hanya tiga kali makan saja." ucap Evi sambil terkekeh.


"Maksud kamu?


"Loh, kok malah nanya? memang maksud Evi tidak jelas Apa? Pak Januar pernah membawa Evi makan di salah satu restoran ternama di kota ini, yang ternyata itu restoran milik keluarga Pak Januar.Tetapi bagaimana kalau restoran itu bukan milik Pak Januar, berarti harganya cukup fantastis. Sedangkan di restoran Pak Januar saja daftar menunya harganya cukup menguras kantong." sahut Evi sambil tetap menatap lurus ke depan.


"Memangnya siapa yang ingin meminta bayar dari kamu? tidak ada kan!"


"Memang tidak ada, tapi sepertinya itu bagiku pemborosan. Jika kita makan di restoran ternama, selain harganya sudah mahal, pemiliknya otomatis sudah kaya.


Sedangkan kalau kita makan di rumah makan sederhana, Rumah Makan pinggir jalan yang rasanya tidak kalah enak dari restoran bintang lim harganya bersahabat dan tidak menguras kantong. Di samping itu anggap saja kita membantu pemilik warung itu menyekolahkan anak-anaknya dan juga menafkahi anaknya,"


"Jika kita sering makan di sana, otomatis sedikit banyaknya Dia memiliki keuntungan dari kita, dan dapat menyekolahkan anaknya secara tidak langsung kita pasti membantu mereka." ucap Evi kepada Januar membuat Januar tertegun dengan jawaban.


Januar hanya manggut-manggut saja.


"Lebih baik kita makan di rumah makan itu saja, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sini." sahut Evi sambil menunjukkan ke arah rumah makan yang biasa tempat Evi makan, jika dirinya tidak membawa bekal. Selain di cafe Cempaka, Evi lebih sering makan di rumah makan pinggir jalan rumah makan Minang yang rasanya tidak kalah enak dari restoran bintang lima


"Tapi Apa makanannya di sana higienis?


"Bersih kok. Aku melihat ketika mereka sedang memasak, wajan dan makanannya sebelum dimasak semuanya dicuci bersih. Dan Citra rasanya tidak kalah enak dengan restoran bintang lima. Pak Januar tidak yakin? tanya Evi.


Januar hanya terdiam melajukan mobilnya ke arah rumah makan yang ditunjuk oleh Evi. Sekitar lima menit kemudian, mereka tiba di sana. Tapi dimana saya memarkirkan mobil ini? ucap Januar sembari melihat tempat parkir mobil miliknya karena ia melihat di sana tidak ada parkiran mobil.


"Perkara parkir dipusingkan. Ya parkir saja di bahu jalan ini, tidak apa-apa kok. Nanti ada juru parkirnya. Semuanya pada baik di sini, mobilnya akan dijaga dan pasti aman."sahut Evi sembari langsung membuka pintu mobil milik Januar, tanpa menunggu Januar terlebih dahulu membukakan pintu kepadanya.


"Eh Nak Evi, sendiri toh? tanya pemilik warung yang biasa melihat Evi makan di sana.


"Tidak Pak, ada atasan Evi yang ikut, Itu dia." Evi menunjuk ke arah Januar yang baru turun dari mobil miliknya.

__ADS_1


Januar menelisik seisi Rumah Makan. Dilihatnya Rumah Makan itu sangat ramai, sekali dikunjungi para mahasiswa-mahasiswi dan juga karyawan-karyawati yang bekerja yang lokasinya tidak jauh dari rumah makan itu.


"Rame banget ya." ucap Januar setengah berbisik di telinga Evi.


" Citra rasa memanjakan lidah kita, sehingga tempat ini sangat ramai. Selain harganya bersahabat, Citra rasanya begitu menggiurkan selera. Ojek online saja banyak yang mengantri." ucap Dewi mempromosikan menu masakan yang ada di rumah makan itu. Membuat sang pemilik warung pun hanya mengembangkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Evi kepada Januar.


"Mau makan apa, Nak Evi?"


"Biasa Pak."


"Masnya mau makan apa?" tanya pemilik warung kepada Januar. Januar bingung menjawab apa. lalu ia menatap daftar menu sederhana yang ada di sana.


"Samakan saja pesanan saya dengan Evi Pak." sahut Januar sambil memperhatikan daftar menu makanan yang ada di sana. pemilik warung berlalu meninggalkan tempat duduk Januar dengan Evi


Sepeninggalan pemilik warung Januar bertanya kepada Evi. "Kamu serius harga makanan hanya segini?" ucap Januari yang melihat daftar menu makanan yang ada di sana satu porsi makan dengan menggunakan ayam penyet hanya lima belas ribu sementara harga jus hanya delapan ribu dan es teh manis hanya lima ribu


"Iya bener lah, Pak Januar." mana mungkin itu berbohong." sahut Evi sambil menatap Januar dengan Tatapan yang sulit diartikan.


Pemilik warung datang menghampiri tempat duduk yang ditempati oleh Evi dan juga Januar, dengan membawakan nampan di sana berisikan menu makanan pesanan Evi dan Januar.


"silakan dimakan Evi." ucap pemilik warung sambil mengembangkan senyumnya dan menyuguhkan makanan itu.


"Terima kasih Pak. Makanannya Pasti enak, saya sudah bisa jamin itu." ucap Evi sambil mengembangkan senyumnya menatap sang pemilik warung.


"Nak Evi bisa saja bercandanya. Oh ya nak Evi, Nak Tamara dimana? dia sudah sangat lama sekali tidak singgah ke tempat ini?


"Oh, Ka Tamara sedang pergi perjalanan bulan madu dengan suaminya Tuan Regen Aditama. Mereka pergi ke California." ucap Evi memberitahu.


"Subhanallah, nak Tamara pergi bulan madu ke California? Apakah Nak, Tamara sudah menikah kembali setelah bercerai dengan Alvin?


Evi hanya nyindir kuda. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏

__ADS_1


JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓


JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA EMAK YANG LAIN


__ADS_2